Waktu yang Berlari dan Tiga Pintu Perjalanan
Oleh: Tonnio Irnawan
–
Rasanya baru kemarin kita saling mengucap selamat Tahun Baru, menyalakan kembang api, dan menyusun resolusi dengan penuh harap. Tiba-tiba hari ini kita sudah berdiri di hari pertama bulan kedua. Waktu, seperti biasa, tidak berubah tetap 24 jam sehari, namun langkahnya terasa semakin panjang dan cepat. Barangkali bukan waktu yang berlari, melainkan kita yang terlalu tergesa mengejar terlalu banyak hal, termasuk hal-hal yang sejak awal memang sulit terkejar. Semakin dikejar, semakin ia menjauh; dan tanpa sadar, hari-hari meninggalkan kita.
Februari yang singkat, hanya 28 hari menjadi terasa istimewa karena tiga hari penting berdiri berurutan, seakan berbaris rapi menunggu giliran. Selasa, 17 Februari, dunia menyambut Tahun Baru Imlek: momentum pembaruan, harapan, dan keberanian memulai lagi. Keesokan harinya, Rabu Abu, umat Katolik memasuki masa Prapaskah, empat puluh hari perjalanan batin, refleksi, dan pengendalian diri. Lalu Kamis, 19 Februari, Ramadan hadir, menandai awal puasa bagi umat Muslim selama tiga puluh hari, sebuah latihan spiritual tentang kesabaran, empati, dan keikhlasan.
Tiga hari, tiga tradisi, tiga pintu perjalanan batin yang berbeda, namun sejatinya menuju ruang yang serupa: kesadaran diri. Di tengah dunia yang bergerak cepat, momen-momen ini mengingatkan kita untuk melambat, menoleh ke dalam, dan bertanya ulang tentang arah hidup. Mungkin yang kita butuhkan bukan berlari lebih kencang, melainkan berhenti sejenak, agar waktu tidak lewat begitu saja, tetapi benar-benar kita hidupi.