“Wangi Cinta Tak Kenal Musim”
Penulis: Anna Keiko
–
I
Kabut Danau Barat
Di langit kelabu Hangzhou, awan perlahan turun, seperti doa kekasih yang hilang.
Kau dan aku duduk berdampingan di tepi danau, seperti dua bayangan yang telah melupakan sumber cahaya.
Angin bertiup, membawa harum bunga-bunga layu di bulan Mei. “Kau masih di sini,” katamu, suaramu selembut embun di kelopak bunga wisteria yang sekarat.
Dan aku hanya mengangguk, karena aku tahu: keberadaan terkadang merupakan bentuk perpisahan yang paling sunyi.
II
Dialog di bawah pohon osmanthus
Di bawah pohon osmanthus, kita berbicara seperti dua ikan dalam kendi pecah, berenang dalam keheningan air mata.
“Mengapa cinta selalu datang setelah musim berlalu?” tanyamu. Aku ingin menjawab dengan syair-syair kuno, tetapi ujung lidahku membeku di salju kenangan.
Kita menatap bulan yang hancur berkeping-keping, seperti hati yang tak dapat diperbaiki dengan doa.
III
Surat yang tak pernah terkirim
Aku menulis surat di sehelai daun, dan membiarkan angin membacanya ke langit.
“Aku mencintaimu seperti bambu mencintai hujan – sunyi, tegak, tetapi hancur dari dalam.”
Tetapi surat itu tak pernah tersampaikan. Karena kau telah menjadi malam, dan aku hanyalah pelita kecil di depan jendela kuil.
IV
Jembatan yang mengingat jejak langkahmu
Jejak langkahmu bergema di bebatuan Su Causeway.
Aku menghitungnya: satu untuk senyummu, dua untuk tawa yang tak akan pernah kembali, dan seratus untuk semua kata yang tak pernah kau ucapkan.
Bunga teratai terkulai, bukan karena angin, tetapi karena mereka mengerti: hilangnya keindahan adalah bentuk kutukan tertinggi.
V
Keheningan yang melahap segalanya
Sekarang, yang tersisa hanyalah teriakan burung bangau putih yang terbang melintasi langit yang pecah.
Aku memanggilmu, tetapi suaramu hanyalah gema di batu nisan saat senja.
Danau telah memantulkan wajah kita, seperti dua musim yang tak pernah bertemu.
“Cinta adalah kuburan yang harum,” tulismu untuk terakhir kalinya. Dan kuukir kata-kata itu di hatiku, sebelum keheningan benar-benar menelan nama kita.
Shanghai, 2025
Baca juga: