February 9, 2026

yusuf achmad

Ya Haiyuya Qoiyum, terdengar pujian itu. Menyelimuti
Nyamplungan di pagi buta. Menggema bagai suara di
pegunungan. Menjelma ajaran yang diserukan berulang
ulang. Seperti berputarnya roda sepeda kumbang abahku
yang tergadaikan demi sesuap nasi. Ummiku menirukan dan
mengikuti pujian itu.

Sifat-Mu yang maha hidup menghidupkan kami. Meski
harus bertahan hidup di rumah bambu. Berlantaikan tanah
beratap seng tipis. Dan penerangan redup dari lilin bekas.
Ketakberdayaan dan kuasa berkedok ajaran. Merambah dan
menutup mata kami dari hak hidup layak. Rumah kami hancur
oleh udara kami terdesak. Dan tak sanggup menebusnya
dengan tenaga dan keringat.

Ya Haiyuya Qoiyum, apakah ini cobaan atau hukuman? Pujian
pujian itu terus mengalun dari menara masjid Ampel, di sekitaran
kampungku. Namun tak pernah kudengar suara-Mu yang
menyapa. Atau tangan-Mu yang menolong kami dari kesulitan.
Ya Haiyuya Qoiyum, apakah Engkau masih mendengar?

Ataukah Engkau sengaja berdiam diri. Menunggu kami sadar
dan bangkit dari keterpurukan. Menyadari bahwa pujian itu
bukanlah segalanya. Melainkan keyakinan, perbuatan yang
sesuai dengan ajaran. Yang mengajarkan kami untuk berjuang
dan beramal.

Surabaya, Juni 2023