๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ
Oleh Herry Tjahjono
–
Seekor anjing tergeletak bersimbah darah, sekarat oleh tugas yang diberikan padanyaโatau dipilihnya sendiri: menjaga kawanan domba dari serangan serigala. Ia tak meminta pujian, apalagi balas jasa. Tapi lihatlahโseekor domba mendekat, menyentuhnya lembutโseakan berkata:
โ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ฎ๐ถ.โ
Dalam hening sabana ituโtak ada upacara, tak ada bendera, tak ada tepuk tangan. Hanya luka, keheningan, dan kasih yang dibalas kasih. Bahkan hewan pun tahu caranya berterima kasih. Bahkan domba pun tahu siapa yang melindunginya.
Di negeri ini, terlalu banyak yang berlindung di balik jabatan tapi tak melindungi siapa-siapa. Terlalu sering rakyat menjadi domba tanpa gembala, atau malah digembalai hanya untuk disembelih saat pemilu tiba. Ada yang menjabat untuk memanen, bukan melayani. Ada yang diselamatkan oleh para “penjaga” yang rela berdarahโguru di pelosok, petugas medis, relawan kemanusiaanโtapi dilupakan setelah darurat berlalu.
Seekor anjing bisa lebih manusiawi dari manusia. Seekor domba bisa lebih tahu diri dari pemimpin.
Maka jika hari ini kita masih mencari makna kemanusiaan, barangkali kita harus menoleh ke padang itu. Tempat luka menjadi bahasa, dan kasih menjadi jawabannya.