April 25, 2026

๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ

Oleh Herry Tjahjono

Seekor anjing tergeletak bersimbah darah, sekarat oleh tugas yang diberikan padanyaโ€“atau dipilihnya sendiri: menjaga kawanan domba dari serangan serigala. Ia tak meminta pujian, apalagi balas jasa. Tapi lihatlahโ€“seekor domba mendekat, menyentuhnya lembutโ€“seakan berkata:
โ€œ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ.โ€

Dalam hening sabana ituโ€“tak ada upacara, tak ada bendera, tak ada tepuk tangan. Hanya luka, keheningan, dan kasih yang dibalas kasih. Bahkan hewan pun tahu caranya berterima kasih. Bahkan domba pun tahu siapa yang melindunginya.

Di negeri ini, terlalu banyak yang berlindung di balik jabatan tapi tak melindungi siapa-siapa. Terlalu sering rakyat menjadi domba tanpa gembala, atau malah digembalai hanya untuk disembelih saat pemilu tiba. Ada yang menjabat untuk memanen, bukan melayani. Ada yang diselamatkan oleh para “penjaga” yang rela berdarahโ€“guru di pelosok, petugas medis, relawan kemanusiaanโ€“tapi dilupakan setelah darurat berlalu.

Seekor anjing bisa lebih manusiawi dari manusia. Seekor domba bisa lebih tahu diri dari pemimpin.

Maka jika hari ini kita masih mencari makna kemanusiaan, barangkali kita harus menoleh ke padang itu. Tempat luka menjadi bahasa, dan kasih menjadi jawabannya.