Dua Leni Marlina dan Takdir Puisi: Saat Kata Menemukan Darahnya Sendiri
Oleh Paulsu Laratmase
–
Kumpulan puisi “NYALA DARI TIMUR: MATHILDA BATLAYERI” ditulis oleh Leni Marlina tahun 2025, belum pernah dipublikasikan di mana pun sebelumnya, sampai diterbitkan pertama kali di platform digital suaraanaknegerinews.com tahun 2025.
Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, sekaligus akademisi asal Sumatera Barat. Ia adalah anggota aktif Perkumpulan Penulis Indonesia, SATU PENA, cabang Sumatera Barat sejak berdiri pada tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association.
Kiprahnya juga merambah ke kancah sastra internasional, di mana ia pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, Leni mengabdikan dirinya sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan Leni di luar kampus juga sangat aktif: ia menjadi tim redaktur media suaraanaknegerinews.com serta menulis secara reguler di berbagai media online lainnya.
Dalam kumpulan puisinya, Leni Marlina menuliskan 14 judul puisi yang mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan dari suku Tanimbar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Sosok perempuan ini dikenal karena heroismenya dalam menghadapi penjajah—bahkan sampai mengorbankan dirinya demi Nusa dan Bangsa Indonesia.
Terinspirasi oleh semangat R.A. Kartini, Leni Marlina terdorong untuk menelusuri lebih dalam tentang sosok-sosok perempuan Indonesia yang dalam langkahnya telah mengusir kegelapan menuju terang. Terang yang dimaksud adalah “kemerdekaan diri” dari belenggu keterbelakangan, keterkungkungan budaya, dan tekanan sosial. Ia bertanya dalam hatinya, adakah perempuan-perempuan lain seperti Kartini yang juga berdiri berani melawan ketidakadilan dalam sejarah bangsa?
Dalam pengembaraan intelektual dan batin itulah, Leni Marlina bertemu dengan nama Mathilda Batlayeri, seorang perempuan dari Tanimbar, yang dalam keberaniannya memilih untuk gugur bersama anak kandungnya sendiri, demi membela bangsanya. Sosok ini kemudian menjadi inspirasi besar lahirnya empat belas puisi monumental yang kini bukan hanya dibaca oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh masyarakat dunia sebagai bagian dari literasi kemanusiaan.
Berikut adalah 14 judul puisi karya monumental Leni Marlina, akademisi Universitas Negeri Padang, yang dimuat di suaraanaknegerinews.com dan menjadi bahan diskusi sastra:
-
NYALA DARI TIMUR: MATHILDA BATLAYERI
-
Bumi Menghafal Namanya
-
DI ANTARA KELOPAK FAJAR DI TANIMBAR
-
Tak Menggenggam Dendam
-
Nafas Cinta Kasih di Dada Dunia
-
TAK GENTAR DAN TAK RAGU
-
LELEMUKU DAN MATHILDA BATLAYERI
-
Ia Tak Berbalik
-
GUGUR DAN MELEBUR MENJADI SAJAK KEBERANIAN
-
Untuk Kemanusiaan
-
NAFAS TERAKHIRMU YANG MENGGETARKAN
-
TAK GENTAR
-
Cara Pulang yang Tulus dan Berani
-
Namanya Tinggal di Bumi
Tanpa disangka, di sudut waktu yang berbeda, seorang perempuan bernama Leni Marlina Batlayeri istri dari seorang Kapten Kapal bernama John Ivakdalam Batlayer dalam perjalanan mengemudi kapal dari Kalimantan menuju Padang dan Jakarta, secara tak sengaja membaca karya puisi itu. Ia tercekat. Nama pada puisi, nama pada dirinya, nama pada darahnya semua bertaut dalam satu getaran batin yang tak bisa dijelaskan dengan kata.

Dengan haru dan rasa penasaran yang dalam, Leni Marlina Batlayeri berusaha mencari tahu, siapa penulis yang telah menghidupkan kembali kisah Mathilda Batlayeri melalui bait-bait yang begitu dalam itu. Ia pun menghubungi pimpinan umum suaraanaknegerinews.com. Setelah melalui proses penelusuran, terungkaplah bahwa Leni Marlina Batlayeri adalah keturunan langsung, satu garis darah lurus, dari sosok heroik Mathilda Batlayeri.
Sabtu, 26 April 2025, menjadi hari yang tak terlupakan. Kapten John Ivakdalam Batlayer, suami dari Leni Marlina Batlayeri, menghubungi Paulus Laratmase melalui telepon seluler. Paulus lalu menyambungkan langsung percakapan itu dengan sang penulis, Leni Marlina, sang akademisi dan penyair dari Sumatera Barat. Dalam sambungan suara yang menggetarkan, dua jiwa yang tak saling mengenal secara fisik—namun terhubung secara batin dan sejarah—bertemu dalam dialog penuh air mata dan haru.
Tak ada kata yang bisa menggambarkan momen itu dengan sempurna. Dua perempuan, dua nama, dua dunia, namun satu garis sejarah. Leni Marlina, sang akademisi, merasa bahwa semua riset, kontemplasi, dan pencariannya ternyata bukan semata hasil intelektual melainkan panggilan darah. Dan Leni Marlina Batlayeri, istri sang kapten, merasa bahwa puisi-puisi itu adalah cermin leluhurnya yang kembali memanggil untuk dikenang dan dimuliakan.
Isak tangis kegembiraan terdengar dalam percakapan mereka. Satu karena akhirnya tahu siapa sosok sejati yang mengalir dalam puisinya, satu lagi karena merasa leluhurnya telah bangkit dalam kata-kata dan dikenang oleh dunia. Tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua telah ditulis oleh tangan takdir, bahkan sebelum keduanya dilahirkan.
Dalam kultur masyarakat adat Tanimbar, nama Batlayeri adalah marga ningrat, simbol kehormatan dan tanggung jawab. Kini, nama itu hidup kembali dalam karya sastra yang abadi.
Di akhir curahan hati dan dialog itu, dua Leni Marlina mengukir satu mimpi: suatu hari nanti, Leni Marlina sang penyair akan datang ke tempat kelahiran Mathilda Batlayeri di Tanimbar. Ia ingin menjejak tanah “Perempuan Heroik” di Bumi Duan Lolat, bahkan berziarah ke makam sang pahlawan perempuan di Kalimantan Selatan. Sebuah perjalanan menapak tanah, menyusuri akar darah dan jiwa.
Dua Leni Marlina dan Takdir Puisi: Saat Kata Menemukan Darahnya Sendiri bukan hanya cerita tentang sebuah kumpulan puisi. Ini adalah bukti bahwa kata-kata bisa menjadi jembatan antara sejarah dan masa kini. Ini adalah kisah tentang bagaimana puisi menemukan rumahnya. Dan lebih dari itu, tentang bagaimana darah dan kata bisa menyatu dalam satu takdir untuk dikenang, untuk dikenang selamanya.
“Pembaca dapat mengakses kumpulan puisi ‘Mathilda Batlayeri’ karya Leni Marlina melalui link resmi berikut ini: