Pesan dari Pelayan Tuhan di Saumlaki: “Penyembahan yang Tulus Luluhkan Hati Tuhan”
Oleh : joko
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Minggu, 3 Mei 2025 — Di sebuah sudut tenang di Jalan Ir. Soekarno, tepat di belakang Kantor Pengadilan Saumlaki, deretan jemaat memasuki Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (MILOS) dengan khidmat.
Mereka datang untuk mengikuti Ibadah Perjamuan Kudus pada Minggu pagi itu.
Di antara mereka, seorang pria lanjut usia tampak menyalami jemaat satu per satu dengan senyum hangat.
Dialah Evangelis Pieter Batilmurik (61), salah satu pelayan Tuhan yang setia melayani di gereja tersebut.
Dalam sebuah perbincangan penuh makna usai ibadah, Batilmurik menyampaikan pesan rohani yang mendalam, berangkat dari kisah klasik Nabi Nuh dalam Kitab Kejadian 8:21.
Ia mengingatkan bagaimana di zaman Nuh, manusia sibuk dengan kejahatan, pesta pora, dan kekerasan.
“Saat itu, orang-orang menyebut kejahatan sebagai hal yang enak. Dan ketika Nuh membangun bahtera di atas gunung, mereka bilang Nuh gila,” tuturnya.
Namun, kata Batilmurik, justru penyembahan dan ketaatan Nuh yang membuat hati Tuhan luluh.
“Tuhan melihat mesbah yang dibangun Nuh dan mencium bau harum dari penyembahannya. Kita pun harus membangun mesbah di rumah kita masing-masing. Bila Tuhan disenangkan, masakan kita tidak diberkati?”
Ia menekankan pentingnya hati yang lembut dan siap menerima firman, bukan hati yang keras dan tertutup.
“Benih firman harus jatuh di tanah hati yang gembur. Sebab firman itu adalah Allah sendiri.”
Tak hanya mengajak jemaat untuk menyembah, Batilmurik juga menyinggung pentingnya keteladanan pemimpin rohani.
“Kalau pemimpin tidak mencerminkan karakter Kristus, bagaimana jemaat mau hidup benar? Tuhan tidak dilihat secara fisik, tapi dalam roh. Maka tokoh-tokoh gereja harus hidup benar agar jemaat bisa meneladaninya,” katanya.
Ia juga menyoroti masalah umum dalam kehidupan beragama: banyak yang tahu pentingnya penyembahan, tapi enggan melakukannya.
“Padahal, penyembahan bisa meredakan murka Tuhan. Kalau Saumlaki penuh dengan penyembahan, takkan ada lagi yang disebut tertinggal atau termiskin.”
Dengan penuh kerendahan hati, Evangelis Pieter berbagi pengalamannya melayani selama satu setengah tahun terakhir, termasuk di Jawa, Bali, hingga rumah-rumah tahanan dan komunitas pemulung.
“Saya hanya sampah yang jatuh di tangan Pendaur yang hebat, Yesus Kristus. Ia membentuk saya kembali hingga seperti hari ini.”
Bagi Batilmurik, tantangan terbesar seorang gembala adalah menjaga hidup yang berkenan di hadapan Tuhan.
“Kalau gembala tidak hidup sesuai firman, itu gembala munafik. Kita harus hidup dalam unity, dalam kesatuan roh dan kekudusan. Bila satu susah, yang lain ikut merasakan. Bila satu senang, semuanya ikut bersukacita.”
Pesan-pesan rohani yang disampaikannya mungkin terdengar sederhana, namun dalam tiap katanya tersimpan kekuatan: sebuah ajakan untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan, lebih tulus dalam penyembahan, dan lebih bersatu dalam kasih.
Di tengah dunia yang penuh tantangan, suara seorang pelayan gereja di Saumlaki ini menjadi pengingat bahwa penyembahan yang murni masih bisa mengubah segalanya, bahkan hati Tuhan.