“Air Mata yang Tak Tahu Jalan Pulang”
Puisi cinta yang tak bisa dilawan oleh logika dan rasa
Oleh: Rizal Tanjung
–
Aku tak bisa tidur—
langit malam telah rebah di ubun-ubun pikiranku
dan kau datang diam-diam seperti angin dari lembah kenangan
mengusik selimut jiwa yang kuyup oleh rindu
bukan karena kehendak,
tapi karena cinta yang terlalu murni hingga membuat sukma berdarah tanpa luka.
Aku tak tahu kenapa
kau tiba seperti bisikan dari bunga yang gugur sebelum sempat mekar—
hanya suaranya yang tinggal di udara,
tak ada wajah,
tak ada alasan,
hanya desir desir luka yang mencium pelupuk mata
dan, ya…
aku menangis.
Tapi air mata ini bukan milik hati,
bukan pula milik logika,
ia adalah tubuh dari rahasia jiwa yang tak bisa dilawan oleh siapa pun
bahkan oleh aku sendiri.
Aku tak bisa tidur
karena namamu telah menjadi kompas kabut
yang menunjukkan jalan-jalan menuju kehilangan
dan aku,
seperti perahu tanpa nahkoda,
terombang di lautan perasaan yang tak punya pulau tujuan,
hanya satu:
mencintaimu tanpa bisa menyebut alasan kenapa.
Aku ingin menyentuhmu,
bukan tubuhmu
melainkan jiwamu yang menari di ujung cahaya,
di balik cahaya lampu jalan,
di bawah bayang daun,
di selembar kenangan waktu senyummu tinggal di ujung gelas kopi
yang tak sempat kuminum.
Bukankah cinta seharusnya indah?
Tapi yang kurasa kini adalah keindahan yang tak bisa kugenggam
seperti cahaya bulan yang memantul di danau,
tampak dekat,
tapi tak bisa dipeluk.
Kau adalah air—
aku adalah angin
yang tak bisa mencumbu tanpa menghilangkan bentuk.
Kau adalah malam
yang datang saat aku ingin fajar
tapi saat fajar tiba,
aku malah ingin kembali ke dalam gelapmu.
Aku tak bisa tidur
karena mencintaimu seperti membaca puisi yang tak selesai ditulis,
ada bait yang tertinggal,
ada huruf yang tak sempat didekap oleh pena,
ada rahasia yang tak pernah bisa aku tanyakan
karena jawabannya sudah mengendap dalam dadaku sendiri
dan aku takut:
jika aku tahu segalanya,
cinta ini mungkin akan mati.
Lebih baik tidak tahu,
lebih baik terluka,
daripada kehilanganmu dari semesta yang tak pernah ingin kujadikan tempat berpulang selain di matamu.
Air mataku tak pernah belajar logika,
ia tahu betul jalan-jalan menuju luka,
tanpa ditanya,
tanpa dituntun,
ia mengalir seperti hujan yang mengerti bahasa tanah—
diam,
tapi meresap.
Jika cinta ini keliru,
biarkanlah,
karena aku lebih percaya pada bisikan air mata
daripada teriakan orang-orang yang tak pernah mencintai sejatiku.
Kau tahu,
aku tak bisa tidur bukan karena lelah
tapi karena cintaku padamu adalah hantu paling setia
yang menolak pergi,
bahkan ketika aku memadamkan lampu,
bahkan ketika aku berpura-pura bahagia di depan cermin,
bahkan ketika dunia bilang:
“Lupakan.”
Tapi bagaimana mungkin aku melupakan
padahal setiap air di tubuhku adalah zikir tentangmu,
setiap nafas adalah syair tak selesai,
dan setiap malam adalah altar
tempat aku menyembah cinta yang tak bisa kutafsir,
tak bisa kukalahkan,
dan tak bisa kutinggalkan.
Cinta ini bukan sekadar rasa—
ia adalah badai di dalam gua sunyi,
adalah kabut yang jatuh di atas doa,
adalah luka yang tak butuh obat,
karena kehadiranmu saja sudah cukup menjadi penyakit dan penyembuhnya sekaligus.
Dan jika kau bertanya,
kenapa aku menangis?
Karena dalam air mata yang jatuh tanpa izin itu,
ada sukma yang bicara—
ia tak sanggup lagi menyimpan cinta
yang terlalu suci
untuk dunia yang begitu kotor menafsirkan rasa.
Dan kini,
di tengah malam yang sunyi ini,
aku hanya ingin berkata:
“Tak perlu lagi logika.
Aku mencintaimu,
dan aku rela tersesat dalam air mata ini
jika itu berarti aku bisa tetap tinggal
dalam cintamu—
meski hanya sebagai bayang.”
Puisi ini akan terus menetes,
sepanjang aku tak bisa tidur,
karena cinta tak pernah tahu cara berhenti.
Sumatera Barat,2025