Aku Akan Senang Mengingatmu Selamanya
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di antara kabut teh dan desir ladang padi,
kau datang, seperti hujan pertama di musim rindu,
membasahi tanah sunyi di hatiku yang lama gersang,
dengan tatapan sehalus benang sutra,
yang menari di langit Jingdezhen dan Minangkabau sekaligus.
Kita adalah dua aksara dari bahasa yang berbeda,
tapi sajak-sajak kita bertaut di antara senyum yang tak sempat diucapkan.
Kau menyebut namaku seperti melafal mantra dari kitab tua,
dan aku menyimpan wajahmu seperti lukisan air di cermin kabut pagi.
Kita tidak pernah selesai dalam satu takdir,
tapi angin selalu tahu caranya mengabarkan,
betapa getar rindu tak pernah tidur di antara pegunungan dan laut selatan.
Kau perempuan musim semi,
aku lelaki dari tanah yang dilahirkan oleh api dan sejarah.
Kita sempat saling memiliki dalam sunyi,
seperti bulan dan danau—saling menatap tanpa bisa bersentuh.
Lidahmu membawa aksen Timur Jauh,
tapi jiwamu menanam pohon di jantung Ranah Minang.
Waktu memisahkan kita seperti rel yang tak pernah bersua di ujung,
tapi hatiku masih menyulam namamu,
dalam tenunan rindu yang tak pernah selesai.
Bila kau bertanya—apa yang tersisa darimu padaku?
Maka jawabku:
senyum itu,
diam itu,
sore itu saat angin membawa harum rambutmu ke mataku,
dan dunia membeku dalam sekejap.
Aku akan senang mengingatmu selamanya,
karena beberapa cinta tidak perlu berakhir untuk menjadi abadi.
Ia hanya perlu disimpan dalam dada,
seperti huruf kuno yang tak pernah dibaca,
tapi tetap suci karena maknanya terlalu dalam untuk dijelaskan.
—Untukmu, yang tak sempat kupeluk,
tapi selalu kusebut dalam doa bisu.
Sumatera Barat, 12 Mei 2025.