May 2, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di dalam lukisan yang tak bernama,
kulihat engkau, wahai puan dari langit senja,
berbalut sutra merah dan biru malam,
dengan kelopak sakura mekar di pundakmu,
bagai janji yang tumbuh dari tanah diam.

Rambutmu, arus sungai hitam tak berujung,
jatuh lembut di bahumu yang sabar,
dan matamu—dua musim semi yang abadi—
menyimpan rahasia dari ribuan puisi
yang belum pernah dituliskan angin.

Engkau berdiri di antara dahan-dahan cinta,
yang tumbuh dari musim tak bernama,
membiaskan bunga-bunga putih
yang tumbuh bukan dari tanah,
melainkan dari rindu yang tak terucap.

Aku melihatmu bukan dengan mata,
tapi dengan hati yang dulu kosong,
kini penuh oleh warna suaramu
yang bahkan belum pernah kudengar.

Wajahmu, langit yang dicat dewa senja,
merahnya bukan darah,
melainkan puisi yang mengalir dari cinta purba,
yang ditulis oleh para bintang
dengan tinta rembulan yang malu-malu.

Kau hadir seperti mimpi yang lupa bangun,
seperti angin yang mencium tanpa menyentuh,
seperti api yang menghangatkan
tanpa pernah membakar kulitku.

Satu gerak tanganmu—
dan waktu berhenti berdebar,
sejenak dunia lupa dirinya
dan memilih menjadi pelataran sunyi
tempat engkau berdiri,
mengubah keheningan menjadi lagu,
dan bunga menjadi bahasa.

Apakah engkau nyata, wahai puan dari imaji?
Ataukah sekadar bisikan alam yang iseng
mengukir perempuan dari sepi?
Namun bila imaji bisa mencinta,
biarkan aku menjadi mimpi yang memandangimu
tanpa pernah selesai.

Aku ingin menjadi daun yang gugur di rambutmu,
atau embun yang menunggu pagi di ujung selendangmu,
atau bayangan yang setia di matamu
saat kau melangkah ke pelataran takdir.

Engkau—bukan sekadar gambar dalam bingkai,
tapi bait pertama dari seribu takdir,
yang memilih cinta sebagai satu-satunya bahasa
untuk mengerti makna dari keberadaan.

Biarkan waktu iri pada kita,
karena dalam diam ini
aku mencintaimu dengan seluruh musim,
dan dalam imaji ini
kau hidup, bernafas,
sebagai perempuan yang kupilih
untuk kucintai dalam keabadian yang tak pernah lahir.

Sumatera Barat,2025