“AKU INGIN KITA ABADI” KARYA RIZAL TANJUNG DALAM PANDANGAN “MARTIN BUBER”
Oleh Paulus Laratmase
–
Tulisan ini merupakan bagian keempat dari lima tulisan yang ditulis oleh Pimpinan Umum Media “suaraanaknegerinews.com” sebagai penghargaan terhadap para tokoh terpilih oleh founders LSM Santa Lusia dalam ajang “Poetry Book Launching And Discussion (Poetry BLaD) L-Beautymanity and Delula Jaya, International Online Seminar On Poetry (IOSoP), Padang-Sumbar, 31 Mei 2025”. Rizal Tanjung merupakan salah satu dari empat tokoh sentral dalam peristiwa ini. Dalam tulisan ini, puisi Rizal Tanjung “Aku Ingin Kita Abadi” dibaca melalui lensa pemikiran filsuf dialogal, Martin Buber.
A. Identitas Karya
Judul Puisi: Aku Ingin Kita Abadi
Penulis: Rizal Tanjung T
Tahun Penulisan: 2025
Tempat Penulisan: Sumatera Barat
Tanggal Penulisan: 14 Juni 2025
B. “Aku Ingin Kita Abadi” Oleh: Rizal Tanjung

Di bawah langit yang tua dan murung,
di mana waktu menggantung seperti rembulan mati,
angin berbisik lirih seperti roh kehilangan jalan pulang—
begitulah hatiku memanggilmu,
dari dimensi sunyi
yang tak dapat dicapai langkah,
kecuali oleh kenangan yang bersayap gaib.
Aku berdiri di tepi cakrawala yang pecah,
menatap bayang-bayang masa lalu
di permukaan waktu yang bergelombang,
tempat dirimu dulu menyapa
sebelum takdir berubah menjadi badai
yang bahkan langit pun
tak sanggup menahan air matanya.
Kita adalah dua bintang
yang jatuh dalam pusaran takdir,
namun aku bersumpah kepada nebula yang merintih:
meski seluruh galaksi runtuh
dan malam menelan segala terang,
cintaku padamu tak akan lenyap
seperti cahaya terakhir di ujung semesta.
Biarlah dimensi membeku,
biarlah bunga waktu gugur di ruang hampa,
biarlah kitab-kitab kuno hancur oleh ledakan kosmik—
aku tetap akan menulis namamu
dengan cahaya dari luka
yang enggan sembuh demi keabadian.
Kau tahu, Kekasih,
meski rembulan pecah
dan langit terbelah oleh kutukan waktu,
aku akan mencarimu
dalam debu kehancuran,
dalam serpihan jiwa yang pernah menjadi kita.
Karena cinta ini bukan burung,
yang dapat lepas lalu hilang dalam musim,
bukan bunga,
yang dipetik oleh siklus dan lupa.
Cinta ini adalah batu
di dasar lubuk semesta—
diam, pekat, dan tak goyah
oleh banjir takdir.
Jika hari terakhir tiba,
dengan genderang waktu berdentang
dari ujung langit ilusi,
aku ingin bersamamu di detik fana itu:
menggenggam tanganmu
bukan untuk menyelamatkan tubuh,
tetapi jiwa—
yang percaya,
mati bersamamu
lebih abadi dari hidup tanpa mencintai.
Kekasih,
andai seluruh tata surya retak,
dan ruang-waktu melarung ke kehampaan,
aku tetap mendayung
melewati api bintang
dan sungai gelap rindu
demi menuju dirimu,
meski cinta kita harus tenggelam
agar bisa hidup
selamanya.
Sebab cinta sejati
tak pernah gentar pada akhir,
karena ia sendiri
adalah keabadian
yang memilih bersemayam
di hati yang remuk
tapi tak pernah berhenti mencinta.
Sumatera Barat, 14 Juni 2025
——————
RIZAL TANJUNG
I WANT US TO BE ETERNAL
Beneath an ancient, brooding sky,
where time hangs like a dead moon,
and the wind whispers softly like a spirit
who’s lost its way home—
so does my heart call out to you,
from a silent dimension
untouched by footsteps,
except those of memory with spectral wings.
I stand upon the edge of a shattered horizon,
gazing at shadows of the past
on the trembling surface of time,
where once you spoke to me—
before fate turned into a storm
so fierce that even the heavens
couldn’t bear its tears.
We are two stars
fallen into the spiral of destiny,
yet I swear upon the weeping nebula:
even if all galaxies collapse,
and the night devours all light,
my love for you shall never fade
like the last glimmer at the edge of the cosmos.
Let dimensions freeze,
let the flowers of time wither in a vacuum,
let ancient tomes turn to ash in cosmic blasts—
still, I will carve your name
with the light from wounds
that refuse to heal,
for the sake of eternity.
You know, Beloved,
even if the moon shatters
and the sky is torn by the curse of time,
I will seek you
through the dust of ruin,
in the splinters of a soul
that once was ours.
For this love is not a bird,
that may fly and vanish with the seasons,
nor a flower,
plucked by the cycles and forgotten.
This love is a stone
at the bottom of the universe—
silent, dark, unmoved
by the floods of fate.
If the final day arrives,
with the drums of time echoing
from the edge of illusion’s sky,
I want to be with you in that fleeting moment:
to hold your hand,
not to save the body,
but the soul—
the soul that believes
to die with you
is more eternal than life without love.
Beloved,
if the solar system fractures,
and space-time drifts into nothingness,
still, I will row
through the fires of stars
and the dark river of longing
to reach you,
even if our love must drown
so that it may live
forever.
For true love
does not tremble at endings,
for it is itself
eternity—
dwelling within a shattered heart
that never stops loving.
West Sumatra, 2025
(Translated by Anna Keiko)
C. Sinopsis Isi Puisi “Aku Ingin Kita Abadi”
Puisi “Aku Ingin Kita Abadi” merupakan sebuah elegi eksistensial yang mengangkat tema cinta dalam kedalaman spiritualitas dan refleksi metafisis. Dalam bait-bait awal, penyair melukiskan suasana dunia yang murung dan tua, di mana waktu menggantung seperti rembulan mati. Lewat simbol-simbol langit, angin, dan kenangan, puisi ini menghadirkan nuansa kerinduan sebagai personal yang menyentuh ruang-ruang batin yang sunyi. Penyair berdiri di tepi “cakrawala yang pecah”, sebuah metafora dari perbatasan antara dunia nyata dan kenangan, tempat cinta pernah hidup sebelum dihantam oleh badai takdir.
Pada bagian tengah puisi, cinta ditampilkan sebagai kekuatan kosmik yang tidak tunduk pada waktu maupun kehancuran alam semesta. Di tengah runtuhnya galaksi dan bunga waktu yang gugur di ruang hampa, cinta justru menjadi satu-satunya energi yang bertahan dan memberi makna. Penyair menyatakan sumpah eksistensial untuk tetap menulis nama kekasihnya dengan cahaya dari luka, sebagai bentuk pengabdian pada keabadian. Dalam semesta yang porak poranda, cinta menjadi batu di dasar lubuk semesta, diam, pekat, dan tak goyah oleh banjir takdir.
Di bagian akhir, puisi ini mencapai klimaks spiritual ketika penyair menyatakan bahwa mati bersama orang yang dicintai lebih abadi daripada hidup tanpa cinta. Cinta, dalam perspektif ini, bukanlah emosi sementara, namun merupakan bentuk keberadaan sejati yang mengatasi batas tubuh dan ruang-waktu. Dengan gaya bahasa yang kuat dan sarat simbolisme kosmik, Rizal Tanjung menggambarkan cinta sebagai relasi eksistensial yang menyatu dengan jiwa dan semesta. Puisi ini menjadi sebuah manifestasi perjumpaan rohani yang menolak keterbatasan fana manusia.
D. Gaya Bahasa dan Teknik Penulisan
Puisi “Aku Ingin Kita Abadi” menampilkan gaya bahasa yang sarat dengan metafora kosmik dan spiritualitas yang mendalam. Rizal Tanjung menggunakan semesta sebagai cermin emosi manusia: galaksi yang runtuh, nebula yang merintih, hingga sungai gelap rindu menjadi gambaran betapa luasnya kedalaman batin dalam menafsir cinta. Simbolisme merupakan ornamen puitik, yang menjelma menjadi medan eksistensial tempat cinta diuji dan ditegaskan. Dalam puisi ini, semesta menjadi latarbelakang partisipan aktif dalam drama batin penyair, seakan-akan alam semesta pun turut menanggung luka dan harap dalam relasi cinta.
Larik-larik puisi ini panjang, berliku, dan kadang menjelma seperti alur napas yang sedang menyusuri ingatan dan kerinduan. Ada semacam irama lirih yang muncul dari pilihan diksi dan pengulangan tema tentang keabadian dan kehancuran. Teknik hiperbola seperti “ruang-waktu melarung ke kehampaan” atau “cinta ini adalah batu di dasar lubuk semesta” tidak terasa berlebihan karena lahir dari kejujuran emosi dan kesungguhan spiritual. Penyair mengajak pembaca untuk menyelami makna cinta yang tak lekang oleh batas ruang, waktu, maupun takdir. Puisi ini adalah perpaduan antara pencapaian estetika dan pencarian makna terdalam akan eksistensi cinta.
E. Tema dan Makna
1. Cinta dan Keabadian
Tema paling menonjol dalam puisi “Aku Ingin Kita Abadi” adalah perjuangan cinta melampaui kefanaan. Rizal Tanjung menghadirkan cinta sebagai relasi kekuatan metafisis yang berdiri kokoh di tengah keruntuhan semesta. Dalam puisi ini, cinta menjadi kekuatan yang menentang kehancuran galaksi, runtuhnya ruang-waktu, dan bahkan akhir dari segala keberadaan. Penyair menempatkan cinta sebagai energi yang tak dapat dipadamkan oleh hukum-hukum alam maupun keterbatasan manusia, sebuah entitas yang tidak mati bersama tubuh, melainkan hidup abadi bersama jiwa.
Penyair menegaskan bahwa cinta sejati hanya memperoleh makna dalam keberanian untuk melewati batas-batas antara hidup dan mati, terang dan gelap, ada dan tiada. Ketika ia menulis tentang menggenggam tangan kekasih bukan untuk menyelamatkan tubuh dan jiwa yang sedang mengukuhkan bahwa cinta sejati tidak mencari keutuhan fisik, tetapi keabadian spiritual. Dalam konteks ini, puisi menjadi semacam litani eksistensial yang membacakan ulang janji purba cinta: bahwa ia akan tetap hidup, bahkan ketika segala yang lain lenyap.
2. Relasi Eksistensial
Hubungan yang digambarkan dalam puisi ini merupakan bentuk relasi eksistensial mendalam yang menyentuh esensi keberadaan manusia. Relasi ini tidak lahir dari kepentingan atau hasrat sesaat, tetapi dari kehadiran yang total satu sama lain, sebuah perjumpaan yang setara, saling mengakui, dan saling menghidupkan. Di sinilah puisi Rizal Tanjung menemukan resonansinya dengan gagasan Martin Buber tentang relasi “Aku-Kau” (I-You), yaitu hubungan antarmanusia yang bukan objektifikasi, tetapi merupakan pengakuan akan eksistensi sejati pihak lain.
Relasi semacam ini membentuk manusia sebagai pribadi yang utuh, karena ia memiliki dan dimiliki, mengalami pertemuan dengan jiwa lain dalam kehadiran yang penuh. Ketika penyair berkata bahwa cinta mereka bukanlah burung atau bunga yang dapat hilang oleh waktu. Cinta adalah batu di dasar lubuk semesta, ia sedang menyuarakan bentuk cinta yang eksistensial: kokoh, diam, tapi memiliki daya spiritual yang tidak tergoyahkan. Relasi dalam puisi ini menjadi cerminan dari pertemuan terdalam antara manusia dan makna hidupnya.
F. Membaca Puisi Melalui Gagasan Martin Buber Martin Buber
Martin Buber, filsuf Yahudi kelahiran Austria, dikenal luas karena pemikirannya mengenai hubungan antarpribadi yang dituangkan dalam karya terkenalnya Ich und Du (I and You).
Ia menulis, “The question what man is cannot be answered by a consideration of exitence or of self being as such, but only by a consideration of the essential connection of the human person and his relations with all being… Only when we try to understand the human person in his whole situation, in the possibilities of his relation to all that is not himself, do we understand man,” (John Montong, 1990: 91).
Dalam filsafatnya, Buber membedakan dua jenis hubungan dasar yang membentuk eksistensi manusia: hubungan “Aku-Itu” (Ich-Es) dan hubungan “Aku-Kau” (Ich-Du). Relasi “Aku-Itu” adalah hubungan instrumental di mana manusia memperlakukan sesamanya sebagai objek, sebagai sesuatu yang bisa dipakai, diukur, atau dijinakkan. Sebaliknya, relasi “Aku-Kau” adalah relasi dialogis yang otentik, di mana kedua pihak hadir sepenuhnya sebagai pribadi yang saling menyapa dan mengakui eksistensinya, (James Rachels, 2004: 70).
Dalam konteks puisi Rizal Tanjung, hubungan dengan sang Kekasih bukanlah relasi “Aku-Itu”. Kekasih bukan objek cinta yang dilihat dari luar, bukan sosok yang ingin dimiliki atau dikendalikan. Sebaliknya, cinta dalam puisi ini hadir sebagai perjumpaan dua jiwa, dua subjek yang saling menyapa dalam kehadiran eksistensial. Penyair tidak menggambarkan kekasihnya sebagai benda untuk dikagumi atau dirindukan semata, tetapi sebagai “Kau” yang hadir dalam dimensi batin terdalamnya. Dengan demikian, puisi ini memuat struktur relasi “Aku-Kau” sebagaimana dimaksudkan oleh Buber, relasi yang menumbuhkan, bukan menguasai, Rick Warren dalam The Purpose Driven Life, (2008 :151).
Relasi “Aku-Kau” dalam pemikiran Buber oleh Achmad Charris Zubair, (2018) ditandai oleh presensi, kehadiran nyata yang tidak bisa ditunda atau dimanipulasi. “Kau” hanya hadir dalam “waktu kini”, dalam momen eksistensial yang utuh. Hal ini terlihat dalam puisi Rizal, di mana penyair menempatkan cinta dalam medan waktu yang meledak, hancur, dan menghilang. Namun, justru dalam kehancuran itulah perjumpaan sejati hadir. Ketika ruang dan waktu runtuh, yang tersisa adalah keinginan untuk menggenggam tangan kekasih “di detik fana itu”, bukan untuk tubuh, tetapi untuk jiwa. Ini adalah bentuk tertinggi dari kehadiran: ketika dunia tak lagi bisa diandalkan, yang tersisa hanyalah kehadiran personal yang menyelamatkan.
Puisi ini, dalam semangat Buber, menjadi pengingat bahwa manusia sejatinya dibentuk oleh relasi yang otentik. Di tengah zaman yang kerap menempatkan manusia dalam relasi fungsional, baik dalam politik, ekonomi, atau bahkan dalam relasi kasih, puisi Rizal menjadi penegas bahwa cinta sejati bukanlah transaksi. Cinta adalah perjumpaan dua eksistensi yang memilih untuk tetap hadir satu sama lain meski semesta runtuh. Dalam kondisi ini, puisi menjadi arena dialog batin yang mencerminkan struktur dialogal dari eksistensi manusia itu sendiri, (Kondrad Kebung, 2008: 80).
Akhirnya, membaca puisi “Aku Ingin Kita Abadi” melalui lensa Martin Buber mengajak kita untuk meninjau ulang cara kita mencintai dan membangun hubungan. Apakah kita benar-benar hadir dalam relasi, atau hanya menjadikan yang lain sebagai cermin ego kita sendiri? Puisi ini tidak menawarkan jawaban, tetapi membuka ruang refleksi: bahwa dalam dunia yang terus berubah dan sering kali mengobjektifikasi manusia, yang paling kita rindukan sebenarnya adalah “Kau”, seseorang yang hadir, melihat, dan menyapa kita sebagai pribadi. Dan di titik itulah, menurut Buber, manusia sungguh-sungguh menjadi manusia, (Carlos G. Velles dalam Lepas Bebas, 2020: 131).
G. Konteks Sosial-Politik dan Hubungannya dengan Krisis Global
Krisis global yang terjadi saat ini, khususnya dalam ketegangan antara blok Israel-Amerika dan sekutunya dengan Iran serta sekutu geopolitiknya seperti Rusia, Korea Utara, dan Tiongkok, menunjukkan kecenderungan relasi antarnegara yang dibangun atas dasar relasi “Aku-Itu” (I-It). Negara-negara saling memandang satu sama lain sebagai objek ancaman, alat kepentingan, atau sasaran dominasi. Dalam relasi seperti ini, tidak ada pengakuan akan keutuhan eksistensi pihak lain; yang ada hanyalah kalkulasi kekuatan, kepentingan strategis, dan sikap saling mencurigai. Dunia yang digerakkan oleh logika geopolitik ini menjadikan negara bukan lagi ruang perjumpaan, tetapi medan pertarungan yang diwarnai oleh dehumanisasi dan distorsi nilai-nilai kemanusiaan, (Damsar, 2012: 77).
Konflik Israel-Iran, yang ditopang oleh aliansi global masing-masing pihak, memperlihatkan bagaimana relasi internasional mengalami krisis kepercayaan mendalam. Setiap pihak memperlakukan pihak lain sebagai “Itu”: sebagai ancaman yang harus diawasi, diserang, atau ditundukkan. Amerika dan Barat memperlakukan Iran sebagai negara berbahaya yang perlu dikekang; sebaliknya, Iran dan sekutunya memperlakukan Barat sebagai imperialisme global yang harus dilawan. Dalam kerangka Buber, ini bukan relasi “Aku-Kau” yang sejati, melainkan relasi “instrumental” yang menanggalkan martabat dialogal dan menghapus peluang perjumpaan yang tulus antarbangsa (John Montong, 1990: 95).
Dalam konteks ini, puisi “Aku Ingin Kita Abadi” karya Rizal Tanjung menghadirkan suara alternatif yang sangat kontras. Melalui narasi cinta yang menolak dikalahkan oleh kehancuran. Penyair memperlihatkan bahwa hanya relasi yang dibangun atas dasar pengakuan eksistensial sebagai “Aku” yang menjumpai “Kau” yang memiliki daya untuk bertahan melampaui kehancuran dunia. Cinta dalam puisi ini menjadi simbol kekuatan transformatif yang mampu mengatasi batas ruang, waktu, bahkan kehancuran semesta. Ini sekaligus sindiran halus terhadap tatanan dunia yang lebih memilih pertarungan kekuasaan daripada relasi antarmanusia yang otentik, (John Montong, 1990: 77).
Sebagaimana Martin Buber menegaskan bahwa manusia hanya menjadi manusia sejati dalam relasi “Aku-Kau”, maka relasi antarbangsa pun hanya akan bermakna dan berkelanjutan jika dibangun atas dasar saling hadir dan saling mengakui. Dunia yang dibangun di atas relasi “Aku-Itu” akan terus menumbuhkan perang, dendam, dan kehancuran. Sebaliknya, jika negara-negara berani menjumpai satu sama lain sebagai “Kau” sebagai subjek yang setara, hadir, dan otentik, maka kemanusiaan bisa terpelihara, dan perdamaian menjadi mungkin. Dalam dunia yang penuh reruntuhan, puisi Rizal dan pemikiran Buber hadir sebagai cahaya: mengingatkan bahwa yang kita butuhkan bukanlah dominasi, melainkan perjumpaan.
H. Refleksi Akhir
Puisi “Aku Ingin Kita Abadi” karya Rizal Tanjung merupakan representasi spiritual dari hubungan “Aku-Kau” dalam pengertian Martin Buber, yakni perjumpaan sejati yang menghadirkan keutuhan eksistensi dua pribadi. Cinta yang digambarkan dalam puisi menegaskan sebuah kehadiran eksistensial yang saling menyapa dan menyatu dalam kerentanan serta keberanian. Dalam dunia yang terancam runtuh oleh kefanaan dan kehancuran, cinta tetap bertahan sebagai kekuatan yang melampaui ruang, waktu, dan bahkan kematian, cinta sebagai penegas eksistensi dan harapan keabadian.
Sebaliknya, dunia politik global hari ini, terutama dalam konflik Israel-Iran dan kutub kekuatan yang mendukungnya seperti Amerika versus Rusia-Cina, terperosok dalam relasi “Aku-Itu”: hubungan yang memanfaatkan, mengobjektifikasi, dan meniadakan kemanusiaan pihak lain. Ketika negara memperlakukan negara lain sebagai “Itu”, bukan “Kau”, maka perjumpaan menjadi mustahil, dan yang lahir hanyalah dominasi, perlawanan, dan kekerasan tanpa akhir. Dalam konteks inilah, puisi Rizal tampil sebagai karya sastra yang mengkritik dan ajakan: bahwa hanya dalam keberanian untuk hadir dan mengakui “yang lain” sebagai subjek, dunia dapat kembali menemukan makna cinta, perdamaian, dan keabadian yang sejati.
I. Referensi
1. Achmad Charris Zubair. (2018). Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Yogyakarta.
2. Carlos G. Valles. (2020). Lepas Bebas. Yogyakarta. Penerbit Kanisius.
3. Damsar. (2012). Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
4. John Montong. (1990). Filsafat Manusia. Manado. Pineleng.
5. Kondrad Kebung. (2008). Manusia dan Diri Yang Utuh. NTT. Nusa Indah. Nusa Indah.
6. Rick Warren. (2008). The Purpose Driven Life. Jakarta. Gandum Mas.
7. (James Rachels. (2004). Filsafat Moral.Yogyakarta. Kanisius.
https://orfeu.al/rizal-tanjung-poem-translated-by-anna-keiko?fbclid=IwY2xjawLDLqRleHRuA2FlbQIxMABicmlkETE1VmVNRElOaVVHZkJTS0VLAR6q5fMIrpGH1Kg3ARhHZirk1br41LR8aG1xEFLknf8okInlFNz_yGvPrqVtcg_aem_4MmJsPGRTdlHtqJGVNpy5g
Biak, 20 Juni 2025