April 21, 2026

AKU MENEMUKAN SOSOK DEMOKRAT INDONESIA SEBAGAI GARIS SAMBUNG

Esti susanti

Esthi Susanti Hudiono, Penulis Satupena

Oleh: Esthi Susanti

11-11-2024

Terjadi kembali pengalaman “mistik” ala pendapatku terkait Bung Hatta. Sebelum terjadi dengan Pak Abdul Hadi yang membawaku ke dunia tasawuf-sufi sebagai penyair sufistik. Kini aku mendapat guru untuk ilmu tasawuf Rumi dari Ustadz Nur Jabir-penerjemah kitab Matsnawi dan tarian darwis dari Ustadz Fajar.

Kejadian dengan Bung Hatta terjadi di acara menonton film yang pernah ditayangkan di Metro TV berjudul “Bung Hatta: Pemikir, Pejuang dan Demokrasi” di rumah Bung Hatta di Jakarta kemarin. Aku ikuti saja alurnya meski tidak ada peluncuran Book Club Bung Hatta yang kugagas. Aku dapat berkah besar dengan membiarkan peristiwa mengalir dengan aku aktif merespon.

Gagasan Book Club tersampaikan ke-3 putri Bung Hatta kemarin. Juga untuk pertama kalinya aku bertemu Prof. Sri-Edi Swasono. Mantu Bung Hatta ini aku kenal melalui Pak Budi Dharmawan ketika aku menulis memoar Pak Budi Dharmawan. Aku sampaikan kisah bibit buah dari Korea Utara yang dihadiahkan Pak Edi kepada Pak Budi Dharmawan-adik dari ekonom Kwee Kian Gie. Kisah ini membuat aku tersambung dengan Pak Edi. Lalu menjelang pulang aku menerima buku dari LP3ES bersama satu peserta lain. Aku sumbangkan buku jatah untuk perpustakaanku untuk Perpustakaan Gerak Gerik yang letaknya dekat dengan universitas UIN Jakarta. Moment emosionalku bergerak naik terus hingga subuh ini.

Fotoku bersanding di lukisan Bung Hatta ketika aku lihat kembali subuh tadi meningkatkan emosi yang bangkit dari kemarin. Di foto itu terlibat Bung Hatta melihat diriku. Adanya foto ini berkat jasa salah satu kawan sekolah Bung Hatta (maaf belum kenal nama). Sebelumnya ia memintaku mengambil foto di samping lukisan Bung Hatta. Aku memintanya merapat ke foto agar nampak keterhubungan dia dengan lukisan itu. Harapanku untuk kawan ini terjadi padaku. Keterhubungan itu terlihat dan terasa di foto. Lalu bersama dia aku melihat kamar kerja Bung Hatta yang pintunya dibuka. Aku terkesima melihat ruangan itu dan menangkap energi yang ada. Kawanku itu ragu menfotoku namun kemudian ia membiarkanku difoto dan aku mengambil fotonya. Lalu berfotolah aku di depan kamar kerja Bung Hatta.

Di kamar kerja Bung Hatta ada beberapa sajadah. Juga Mas Sukidi sebagai pembicara menyampaikan kisah Alquran yang diberikan oleh H. Agus Salim. Mas Sukidi sempat melihat Alquran itu di kamar Bung Hatta. Mas Sukidi membangkitkan kisah alquran tersebut. Alquran diberikan Agus Salim dengan harapan bangkitnya kekuatan menghadapi penderitaan sebagai pemimpin. Mereka berdua menyakini bahwa “Kepemimpinan adalah Jalan Penderitaan”.

Moment emosionalku berpuncak di subuh pagi ini. Aku merasa telah berjumpa dengan spirit Bung Hatta. Beliau merestuiku untuk melanjutkan jalan demokrasi yang telah ia bentuk. Bagiku Bung Hatta pembentuk demokrasi Indonesia dengan legasinya terhadap pasal 28 UUD 45 tentang kebebasan berserikat yang muncul melalui perdebatan anggota BPUPKI. Pasal 33 tentang ekonomi menurut buku yang aku baca adalah murni ide dari Bung Hatta. Masih ada banyak kisah yang membuktikan bahwa Bung Hatta adalah seorang demokrat yang konsekwen. Kisah tanah ulayat di Merauke yang sekarang ada dalam konflik serius, bisa dibahas dari pemikiran Bung Hatta tentang demokrasi ekonomi berbasis hak milik kolektif.

Lalu beberapa kisah yang belum ada di buku kemarin diceriterakan oleh Pak Edi. Aku beruntung mendengarkan dan menerima 2 buku tulisan beliau. Ini melengkapi studiku tentang Pak Basoeki Probowonoto.

Pemilu 2024 adalah tonggak pentingku sebagai Perempuan Indonesia Tionghoa yang ingin menjadi warganegara Indonesia kompeten. Kompetensiku aku dapatkan melalui studi dan aksi sekaligus. Aku aktif masuk ke ruang publik dengan terapkan politik kewargaan dengan metode menulis dan puisi dibaca anak muda yang aktif di seni dalang. Puisi ini aku tulis dengan merujuk fakta aktual yang ada lalu data aku olah melalui refleksi dan aku percakapkan dengan Tuhan dalam doa-doa subuhku. Referensi yang aku pakai adalah teori dari Jurgen Habermas (yang aku pakai sebagai rujukan berpikir ketika menulis historiografi Basoeki Probowinoto-sang pendiri Partai Kristen Indonesia. Studiku tentang Bung Hatta membuatku semakin memahami sosok Basoeki Probowinoto) dan teori dari Hannah Arendt.

Studiku tentang praktek demokrasi Indonesia melalui pemilu 2024 berkembang pesat. Ini dimungkinkan oleh banyak peluang perjumpaan dengan orang-orang dan lembaga seperti dengan Myra Diarsi yang memungkinkan aku ikuti Konggres Perempuan 2023 yang memungkinkan aku bicara kedaulatan pangan. Lalu dengan Lets Talk yang memberiku peluang membuat abstrak untuk Konferensi Kartini 2024 atas apa yang sedang aku kerjakan. Lalu abstrak itu diminta ditulis lengkap (tulisannya tidak bisa aku selesaikan karena tulisan ini merekam proses pembentukan epistemologiku terkait dengan politik kewargaan). Proses dengan Myra dan Ira dari Lets Talk terjadi beberapa kali sehingga energi untuk politik kewargaan bisa dijaga.

Pemilu telah selesai dan politik kewargaan dengan menjadi warganegara kompetenku justru baru dimulai. Aku terus fokus setelah pemilu Presiden untuk puisi dan literasi- epistemologi warganegara kompeten. Banyak event aku ikuti antara lain Sekolah Basis dan Sekolah Pemikiran Bung Hatta. Jadi Ideku tentang politik kewargaan bergerak, berkembang dan semakin solid.

Studi panjang itu akhirnya membuat aku menemukan Bung Hatta sebagai sosok demokrat yang diperlukan Indonesia dan dunia. Saat ini demokrasi di dunia ada dalam krisis besar karena telah melahirkan sosok pemimpin totaliter dan fasis melalui kebebasan individual berbasis orientasi materialisme. Demokrasi pada intinya berbicara individu dan kebebasan untuk warganegara agar bisa hidup bersama secara beradab.

Kebebasan dan individualitas yang berbasis materi ternyata membutuhkan karakter yang bersumber pada nilai-nilai agama tentang kejujuran, kebenaran dan keadilan. Bung Hatta telah membentuk diri dengan miliki karakter yang tak tergoyahkan untuk melaksanakan demokrasi yang untungkan segenap warganegara. Pendek kata Bung Hatta adalah sosok yang gunakan kebebasan dari sistem demokrasi untuk mengembangkan dirinya dan bangsa yang didirikan. Beliau salah satu pembentuk demokrasi Indonesia yang tak bisa digantikan karena ia menciptakan moment diakronik.

Bung Hatta menawarkan model demokrasi ala Indonesia dengan 3 dimensi demokrasi yakni 1) politik, 2) ekonomi, 3) sosial. Yang mengejutkanku adalah tulisannya tentang rujukan pada praktek yang ada di bumi Nusantara. Proyek demokrasi Bung Hatta belum sepenuhnya selesai dijalankan seperti demokrasi ekonomi. Sekaligus secara teknis demokrasi yang ditulis dan dilaksanakan Bung Hatta harus diteruskan dengan ikuti perkembangan yang ada.

Alasan itulah yang membuatku lontarkan ide BOOK CLUB Bung Hatta sejak aku ikut sekolah pemikiran Bung Hatta beberapa bulan lalu. Perjalanan Book Club ini sekarang telah mendarat sebagai aksi. Aku telah telusuri buku-buku tentang Bung Hatta di Perpustakaan Nasional. Juga aku menemukan buku tulisan Bung Hatta yang diterbitkan dengan cara ilegal. Proses berlanjut terus. Semoga Book Club Bung Hatta bisa diujudkan dan berkembang untuk membangkitkan banyak warganegara Indonesia yang kompeten sehingga bisa gunakan ruang publik untuk berdialog dan berpartisipasi secara aktif. Yang membahagiakan gagasan book club ini didukung oleh Pak Sukidi kemarin. Dukungannya memberi semangat untuk terus. Terima kasih banyak Pak Sukidi. Juga terima kasih ke keluarga Bung Hatta dan teman-teman Sekolah Pemikiran Bung Hatta yang memungkinkan aku ada di rumah Bung Hatta dan mendialogkan ide tersebut kemarin. Dengan ini maka gerakan membudayakan demokrasi politik, sosial dan ekonomi dimulai ditempat yang tepat. Semoga Tuhan beserta kita semua. Aku akan terus jalankan politik kewargaan dengan menjadi warganegara kompeten.