Anak Sekolah, Tapi Tak Belajar
Oleh: Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd.
(Kasi PAPKI Kantor Kemenag Tanggamus)
–
Setiap pagi, anak-anak kita berbondong-bondong ke sekolah. Mereka mengenakan seragam, menenteng tas, dan duduk berjam-jam di ruang kelas. Namun, apakah semua itu benar-benar membentuk mereka menjadi manusia yang utuh? Apakah anak-anak kita hanya sekadar pergi ke sekolah, tanpa sungguh-sungguh belajar?
Peringatan Hari Anak Nasional semestinya bukan sekadar selebrasi. Ia harus menjadi cermin, tempat kita berkaca tentang wajah masa depan yang sedang kita bentuk hari ini. Dan sayangnya, cermin itu memantulkan kenyataan yang getir: banyak anak kita datang ke sekolah, tapi pulang tanpa makna. Mereka hadir secara fisik, tapi kosong secara jiwa.
Data PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan rendahnya kemampuan literasi siswa Indonesia. Dalam tes membaca, Indonesia menempati peringkat 74 dari 79 negara. Sekitar 70 persen siswa usia 15 tahun berada di bawah tingkat kompetensi minimum dalam membaca, yang berarti mereka hanya mampu memahami informasi eksplisit tanpa mampu menafsirkan atau mengevaluasi teks (OECD, PISA 2018 Results, 2019). Ini bukan sekadar soal angka, tapi cermin dari sistem pendidikan yang belum menyentuh akar: anak belajar, tapi tidak paham; menghafal, tapi tidak menghayati.
Prof. Azyumardi Azra dalam bukunya Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi (2003) menyebut bahwa pendidikan kita telah kehilangan ruh. Sekolah tak lagi menjadi ruang yang memerdekakan anak, tapi hanya menjadi mesin penghafal. Pengetahuan ditanamkan tanpa makna, nilai-nilai disampaikan tanpa teladan.
Hal yang sama dikemukakan Prof. Dede Rosyada (2014), bahwa pendidikan seharusnya menyentuh aspek intelektual, spiritual, dan sosial anak. Dalam bukunya Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional, ia menegaskan bahwa pembelajaran yang otentik tidak terjadi dalam sistem yang hanya mengejar standar administratif.
Sementara itu, Prof. Qodry Azizy (2002) melihat kegagalan pendidikan dalam membentuk keberdayaan peserta didik sebagai cerminan sistem yang sakit. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang membebaskan dan membangkitkan kesadaran sosial siswa. Sekolah tidak boleh tercerabut dari realitas kehidupan.
Sayangnya, banyak anak justru mengalami tekanan di ruang kelas. Bukan hanya dari tumpukan tugas dan ujian, tetapi juga dari sistem yang tidak memahami kondisi psikologis mereka. Di sinilah pandangan Zakiah Daradjat menjadi relevan. Dalam Ilmu Jiwa Agama (1996), ia menulis, “Anak yang tidak merasa aman secara emosional tidak akan mampu menerima pelajaran secara utuh.” Pendidikan sejati, bagi Daradjat, dimulai dari hati yang tenang dan jiwa yang damai.
Anak-anak tidak butuh sistem yang serba hebat, tapi guru yang hadir sepenuh hati. Mereka tidak mendambakan teknologi canggih, tapi kehangatan, pengakuan, dan dorongan untuk menjadi diri sendiri. Anak-anak kita tidak ingin ditakut-takuti dengan nilai merah, tetapi ingin dipahami dalam proses mereka yang kadang lambat, kadang tertatih.
Islam mengajarkan bahwa mendidik adalah bentuk kasih sayang. Nabi Muhammad tidak pernah membentak anak-anak. Beliau sabar, lemah lembut, dan memahami dunia anak sebagai ruang eksplorasi, bukan kesempurnaan. Maka, tugas kita hari ini adalah mengembalikan pendidikan ke fitrahnya: membentuk manusia, bukan sekadar mengisi kepala.
Hari Anak Nasional harus menjadi panggilan hati bagi semua: guru, orang tua, pemimpin, dan masyarakat. Ini bukan soal kurikulum atau angka-angka statistik, tetapi tentang masa depan yang sedang kita pertaruhkan. Anak-anak yang tidak belajar hari ini, adalah generasi yang kehilangan arah esok hari.
Sekolah seharusnya menjadi taman. Tempat anak-anak tumbuh, berbunga, dan berbuah. Bukan ladang kompetisi yang kering dan penuh tekanan. Pendidikan sejati akan terjadi jika kita mulai mendengarkan anak, merangkul keunikan mereka, dan mengubah cara kita memandang mereka: bukan sebagai target, tapi sebagai titipan Tuhan yang harus dijaga dan ditumbuhkan dengan cinta.