April 20, 2026
achmad3

Oleh Yusuf Achamad

Mungkin ini hal biasa, namun entahlah. Yang jelas, ketika keluh lidah menyebut salah. Maunya antara menjadi Ankara. Bukan angkara murka karena cinta. Cintamu padaku tak mudah hanya ada antara.

Antara mengingatkanku pada Ankara. Terkenang aku akan Hagia Sophia. Perbedaan ada persamaan juga. Seperti cintaku padamu jua. Bedanya tak berpautan agama atau negara.

Tapi pernah kau sebut aku pria Ankara. Karena menyebut Hagia Sophia kau tidak suka. Meski ia di Turki sana. Ada lintasan pikiran tentang Hagia Sophia. Seperti melesatnya kereta super cinta. Di lintasan Istanbul kereta cinta kita relnya tak berkumpul, tak kan pernah.

Bukan karena aliran listrik kereta cepat atau lambat. Bukan karena musim iklim atau kilat. Cinta kita bergerak lambat. Kau perempuan penyuka kereta cokelat. Dia bergaun putih jelita berkelana dengan motor melaju. Dia seru mimpi tiada tara tak terhambat. Seru o seru seru semata hingga akhirat.

Nyata-fatamorgana cinta kita. Silih-berganti berubah warna. Kau undian dia pepundian merana. Aku pemuisi tergores cinta, perang demi asa. Antara menang, kenang dan karsa. Antara suka, perjuangan dan nestapa. Perjuangan mengejar kereta dan motor.

Antara aku ada jembatan cinta. Motor dan kereta. Kau adalah keniscayaan nyata, Dia pilihan adanya. Kau dan dia – kau, aku dan dia. Haruskah ada antara?

 

Surabaya, 17-7-2023