Bagaimana Amerika Serikat Menjajah Dirinya Sendiri
Oleh: Selbert Lino Laia
–
Video How the USA Colonized the USA, Mapped karya Johnny Harris membuka perspektif baru dalam memahami sejarah Amerika Serikat, yaitu dengan menyoroti bagaimana negara tersebut membangun kekuasaannya melalui proses kolonialisme internal. Umumnya, ketika mendengar kata “kolonialisme,” kita membayangkan kekuatan Eropa menjajah bangsa-bangsa di Asia, Afrika, atau Amerika Latin. Namun, dalam video ini, kita diperlihatkan bahwa kolonialisme juga bisa terjadi dalam konteks domestik—di mana satu kelompok dalam suatu negara memperluas wilayahnya dengan menguasai dan mengusir penduduk asli dari tanah mereka sendiri.
Video ini memaparkan bagaimana ekspansi wilayah Amerika Serikat dilakukan secara bertahap dan sistematis, dimulai dari koloni-koloni Inggris di pesisir timur hingga mencakup seluruh daratan utama benua Amerika Utara. Proses ini terjadi melalui berbagai cara: pembelian wilayah (seperti Louisiana Purchase dari Prancis pada tahun 1803), pengambilan wilayah lewat perang (misalnya Perang Meksiko-Amerika yang berujung pada aneksasi sebagian besar wilayah barat daya), hingga perjanjian-perjanjian dengan suku-suku asli Amerika yang sering dilanggar atau dipaksakan. Salah satu kebijakan paling kontroversial dalam proses ini adalah Indian Removal Act tahun 1830, yang secara hukum mengizinkan pemindahan paksa penduduk asli dari tanah mereka di timur Mississippi ke daerah yang disebut sebagai “Indian Territory” (sekarang wilayah Oklahoma). Pemindahan ini, yang dikenal sebagai Trail of Tears, menewaskan ribuan orang dan menjadi simbol dari penderitaan masyarakat adat dalam proses kolonisasi Amerika.
Salah satu bagian paling menarik dalam video ini adalah penggunaan peta dinamis yang menggambarkan bagaimana wilayah Amerika Serikat berkembang dari waktu ke waktu. Dengan visualisasi ini, penonton dapat dengan jelas melihat bagaimana tanah-tanah yang dulunya dihuni dan dikuasai oleh penduduk asli perlahan-lahan “berubah warna” menjadi bagian dari Amerika Serikat. Visualisasi ini sangat kuat karena memperlihatkan bahwa pembangunan Amerika bukanlah proses yang terjadi di ruang hampa, melainkan melalui pengambilalihan yang berdampak langsung terhadap kehidupan jutaan orang. Bagi saya, bagian ini menarik karena menyederhanakan narasi kompleks tentang ekspansi wilayah menjadi sesuatu yang mudah dipahami, namun tetap penuh makna. Peta tersebut memberikan kesadaran bahwa di balik setiap batas negara yang kita lihat di peta hari ini, ada sejarah panjang yang sering kali melibatkan kekerasan, pengusiran, dan ketidakadilan.
Jika kita menelaah lebih jauh, dampak paling signifikan dari seluruh proses kolonisasi internal ini adalah terbentuknya Amerika Serikat sebagai negara yang luas, kuat, dan memiliki posisi strategis di dunia. Luas wilayah memungkinkan Amerika memiliki sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman iklim dan geografis yang menguntungkan, serta basis ekonomi yang kuat untuk menjadi kekuatan dunia. Namun, kekuatan ini dibangun di atas penderitaan masyarakat adat yang tanah, budaya, dan identitasnya perlahan-lahan dihapuskan oleh sistem kolonial negara. Konflik-konflik yang masih berlangsung hingga hari ini antara pemerintah AS dan komunitas adat adalah warisan langsung dari proses kolonial ini. Ketimpangan sosial, marjinalisasi budaya asli, dan hilangnya kedaulatan lokal menjadi luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.
Dari video ini, kita dapat mengembangkan berbagai narasi dalam konteks sejarah Amerika maupun sejarah global. Salah satu narasi yang penting adalah tentang bagaimana pembangunan negara sering kali mengabaikan prinsip keadilan bagi kelompok-kelompok yang lebih lemah. Video ini menantang narasi dominan tentang “American Dream” dan “Manifest Destiny” yang selama ini diajarkan sebagai bagian dari kebanggaan nasional, dan menggantinya dengan sudut pandang yang lebih kritis. Kita juga bisa mengaitkan narasi ini dengan sejarah dunia lainnya—misalnya kolonisasi oleh negara-negara Eropa di Afrika dan Asia, pengambilan paksa tanah di Australia oleh Inggris, atau bahkan praktik-praktik pemindahan penduduk dalam pembangunan nasional di negara-negara berkembang. Dengan demikian, video ini bukan hanya relevan bagi mereka yang mempelajari sejarah Amerika, tetapi juga bagi siapa saja yang tertarik pada tema keadilan historis, hak asasi manusia, dan dampak jangka panjang kolonialisme.
Akhirnya, pelajaran terbesar dari video ini adalah bahwa sejarah tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang pemenang. Untuk benar-benar memahami bagaimana sebuah negara terbentuk, kita perlu menelusuri semua sisi dari proses tersebut, termasuk sisi-sisi yang gelap dan menyakitkan. Hanya dengan cara inilah kita dapat membangun masa depan yang lebih adil dan menghargai keragaman sejarah serta identitas manusia.
Video How the USA Colonized the USA, Mapped memberikan pelajaran penting yang relevan dengan sejarah Indonesia, terutama dalam memahami dinamika kolonialisme dan penguasaan wilayah. Salah satu hal utama yang dapat dipelajari adalah bahwa kolonialisme tidak selalu datang dari kekuatan asing, tetapi juga bisa dilakukan secara internal oleh kelompok dominan terhadap kelompok lain dalam satu negara. Dalam konteks Amerika Serikat, ekspansi wilayah ke barat dilakukan dengan cara menyingkirkan penduduk asli melalui perang, perjanjian yang dipaksakan, dan pemindahan paksa. Hal ini mencerminkan bagaimana suatu bangsa dapat membangun kekuatannya dengan mengorbankan masyarakat lokal. Situasi serupa juga terjadi dalam sejarah Indonesia, di mana masyarakat adat dan kelompok lokal kerap mengalami marginalisasi, baik selama era kolonial Belanda maupun dalam proses pembangunan nasional pascakemerdekaan. Transmigrasi, perampasan lahan adat, dan tekanan terhadap identitas budaya lokal menjadi contoh nyata dari proses dominasi serupa.
Selain itu, video ini juga menekankan pentingnya melihat sejarah secara kritis, tidak hanya dari perspektif pemenang atau narasi resmi negara. Proses pembentukan bangsa seringkali menyisakan luka sejarah bagi kelompok-kelompok yang terpinggirkan, yang kisahnya jarang muncul dalam buku-buku sejarah arus utama. Pelajaran ini sangat relevan dengan Indonesia, yang juga memiliki sejarah panjang konflik agraria, pelanggaran hak asasi manusia, dan penghilangan budaya lokal demi pembangunan. Narasi alternatif yang mengangkat suara masyarakat adat, korban kekerasan, dan kelompok minoritas perlu mendapat tempat dalam wacana sejarah nasional. Dengan demikian, baik Amerika Serikat maupun Indonesia perlu melakukan refleksi dan rekonsiliasi terhadap sejarahnya masing-masing agar dapat membangun masa depan yang lebih inklusif dan adil bagi seluruh warganya.
Referensi
Harris, J. (2022). How the USA Colonized the USA, Mapped [Video]. YouTube.
https://www.youtube.com/watch?v=Tx6Lz-L8M8Y
Calloway, C. G. (2021). The Indian World of George Washington: The First President, the First Americans, and the Birth of the Nation. Oxford University Press.
Reid, A. (2011). Indonesia dalam Arus Sejarah: Indonesia Modern. Kepustakaan Populer Gramedia.
Komnas HAM RI. (2021). Ringkasan Eksekutif: Pengaduan dan Pelanggaran HAM terhadap Masyarakat Adat. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
https://www.komnasham.go.id/files/20210920-ringkasan-eksekutif-pengaduan-masyarakat-adat–lsv.pdf