March 14, 2026

Berbagai Hikmah Ramadhan : Kepala MAN Sawahlunto Mengudara di Radio Sawahlunto FM 99,9 Mhz

IMG-20260220-WA0055(1)

SAWAHLUNTO (Humas) 20 Februari 2026 Udara Sore menjelang waktu berbuka Puasa di Sawahlunto terasa berbeda. Ada yang mengalun lembut dari gelombang 99,9 Mhz suara yang hangat, berwibawa, dan menyejukkan jiwa. Dari studio Radio Sawahlunto FM, Kepala MAN Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro mengudara, menyapa Masyarakat pendengar Radio Sawahlunto FM di Jumat penuh berkah, 20 Februari 2026.

Ramadhan belum lama menjejak, namun cahayanya telah terasa dalam relung hati. Dalam siaran bertema “5 Kiat Mudah Menghafal Ilmu dalam Bulan Ramadhan”, Dafril Tuanku Bandaro mengajak pendengar menyelami samudera hikmah, bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum emas menajamkan daya ingat dan membersihkan jiwa.

Suara Dafril mengalir seperti sungai yang jernih, membawa pesan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya hanya singgah di hati yang bersih.

1. Tahajjud: Menghidupkan Malam, Menguatkan Ingatan

“Ilmu itu cahaya,” tutur Dafril lembut, “dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang lalai.”

Tahajjud, shalat sunyi di sepertiga malam, adalah rahasia para ulama. Di saat dunia terlelap, langit justru terbuka. Dalam keheningan itulah doa menjadi tajam, hafalan menjadi kuat, dan pikiran menjadi jernih. Ramadhan menghadirkan suasana yang lebih hening, lebih khusyuk, lebih dekat dengan langit.

Dafril juga menegaskan, siapa yang ingin hafalannya kokoh, bangunlah sebelum fajar menyingsing. Karena malam adalah madrasah ruhani, tempat Allah menanamkan keberkahan ilmu.

2. Mengekali Wudhu’: Air yang Menyegarkan Jiwa

Air wudhu bukan sekadar menyentuh kulit, tetapi membasuh dosa dan keletihan jiwa. Kepala madrasah itu mengingatkan, menjaga wudhu berarti menjaga kesucian lahir dan batin.

Dalam kondisi suci, hati menjadi lebih terang. Dan hati yang terang lebih mudah menyimpan ayat, rumus, dan hikmah. Ramadhan adalah bulan penyucian; maka jagalah wudhu sebagaimana menjaga mutiara.

“Air yang membasuh wajah,” ujar Dafril, “adalah air yang menyejukkan pikiran.”

3. Menjaga Taqwa: Pondasi Segala Kekuatan

Puasa sejatinya adalah madrasah taqwa. Allah menegaskan bahwa tujuan Ramadhan adalah agar manusia menjadi bertaqwa. Taqwa bukan sekadar takut, tetapi sadar bahwa Allah selalu hadir dalam setiap detik kehidupan.

Dengan taqwa, seorang pelajar menjaga pandangan, lisan, dan pergaulan. Ia menjauh dari maksiat yang menggelapkan hati. Sebab hati yang gelap sukar menerima ilmu.

Dalam siaran itu, Dafril mengajak generasi muda untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik balik: memperbaiki niat, memperhalus akhlak, dan memperbanyak tilawah. Karena taqwa adalah pondasi daya ingat yang kuat.

4. Makan Karena Taqwa: Mengisi Energi dengan Niat Suci

Dafril ketika membahas poin keempat. “Makanlah karena taqwa, bukan karena hawa nafsu.”

Sahur dan berbuka bukan ajang berlebihan, tetapi sarana menguatkan ibadah. Makan secukupnya, dengan niat agar kuat beribadah dan belajar, akan menjadikan energi bernilai pahala.

Perut yang terlalu kenyang membuat pikiran lamban. Sebaliknya, pola makan yang terjaga menghadirkan kejernihan. Dalam Ramadhan, disiplin makan adalah bagian dari latihan jiwa.

Ilmu pun lebih mudah melekat ketika tubuh tidak dibebani kerakusan.

5. Menggosok Gigi: Sunnah yang Menguatkan Konsentrasi

Barangkali terdengar sederhana. Namun Dafril menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Menggosok gigi, terutama dengan siwak, adalah sunnah yang menjaga kesegaran dan kesehatan.

Mulut yang bersih membuat ibadah lebih nyaman, bacaan lebih fasih, dan konsentrasi lebih terjaga. Dalam kebersihan terdapat keberkahan.

Ramadhan mengajarkan detail kecil yang berdampak besar. Bahkan sebatang siwak dapat menjadi jembatan menuju keberkahan hafalan.

Dari studio sederhana di Kota Sawahlunto, suara itu menjelma cahaya. Mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya urusan otak, tetapi urusan hati. Dan hati yang terjaga dalam Ramadhan akan menjadi taman tempat ilmu tumbuh subur. Semoga gelombang 99,9 Mhz sore itu bukan sekadar suara, melainkan gema.