April 21, 2026
esti hudiono1

Esthi Susanti (Kiri)

Oleh Esthi Susanti

Kemarin, 7 November 2024, aku hadiri peluncuran buku buku Prof. Asvi Warman Adam berjudul “Mengembalikan Tionghoa ke Dalam Historiografi Indonesia” di BRIN. Judul yang menyentak batin.

Hadirin yang datang banyak yang aku kenal langsung, banyak yang kenal baik dan kenal tidak langsung. Peristiwa seperti kemarin selalu memberi rasa bahagia dan rasa penuh sebagai manusia. Kenal orang-orang secara dalam melalui pemikiran dan tindakan yang dibahas dalam event kemarin.

Event kemarin memberi jawaban atas pertanyaanku yang muncul dari buku Kang Gaus Ahmad tentang KESEPIAN yang dibantu teknologi AI. Ulasan buku tersebut di webinar Esoterika memunculkan rasa tidak pas. Mengapa? Aku masuk definisi yang ditulis namun aku merasa tidak kesepian. Malah saat ini aku merasa bahagia dan penuh meskipun tidak mempunyai uang.

Pertanyaan itu membuatku mencari jawaban. Jawaban mulai aku temukan dari konsep AI. Kemarin aku menemukan jawaban atas kenyataan yang ada (mewakili katagori orang sepertiku). Orang model sepertiku tak dikenali oleh programmer AI karena tidak ada datanya. Ini kelemahan AI yang bisa diatasi jika kita tahu sistem berpikir yang ada. Pengetahuanku yang luas dan dalam dari baca buku dan ada di lapangan, membuatku relevan hidup saat ini. Meskipun usiaku tak masuk katagori muda.

Perjumpaan fisik dan pemikiran dengan oranglah yang membuatku tidak kesepian. Meski kami tidak ada ikatan yang menciptakan tradisi perjumpaan. Hubungan kami bebas tanpa ikatan apapun. Jika ada ikatan maka itu adalah ikatan temporer yang mudah dibongkar.
Sebagai feminis spiritual, aku juga masuk dalam lingkaran sisterhood yang bebas.

Kemarin aku ketemu beberapa perempuan tangguh yang pernah berhubungan secara lebih mendalam. Dengan Mbak Natalia Subagio-penanggap buku, aku bertemu di organisasi Rotary dulu. Dia pernah menjadi pimpinan tertinggi Rotary Indonesia yang pertama. Sedang aku anggota dan pengurus club Rotary di Surabaya. Dengan Ibu Nancy aku bertemu di PINTI (organisasi perempuan sayap INTI).

Dialah perempuan Indonesia Tionghoa pertama yang masuk ke dalam logika organisasi modern yang tak berbasis patriarki. Lalu ada Dolorosa Sinaga yang bertemu di urusan seni dalam lingkaran Prof. Toeti Heraty. Dia murid Toeti Heraty yang tak kalah hebat karya dan karakternya. Kelompok diskusi yang digagas Dolorosa menstimulus Pak Aswi terlibat penelitian dan aksi tentang Indonesia Tionghoa. Hadir juga Mbak Tami-aktivis lingkungan yang kini sama-sama di forum Esoterika (ada 2 kawan esoterika lain yang hadir).

Kawan perempuan yang sudah aku kenal gagasannya dan baru kemarin merajut silaturahmi yakni dosen psikologi kearifan lokal bernama Ibu Nani Nurrachman (dugaanku ia sudah menjadi profesor). Aku mau berurusan soal kearifan lokal dengan beliau. Lalu ketemu tokoh sosiolog dan dosen UI yang tak asing karya intelektualnya bagiku yakni Bu Ery Seda. Urusan akan berlanjut karena aku ikuti karya bapaknya yang luar biasa yakni Pak Frans Seda.

Jadi peristiwa kemarin menjelaskan dimensi sosial yang membuatku tidak kesepian. Ada dimensi spiritual dan psikologi yang menyelamatkanku dari rasa sepi. Hidupku penuh makna. Semoga rasa oenuh dan bahagia ini bisa aku rawat hingga akhir.