April 21, 2026

Oleh: Rizal Tanjung
( Seniman, Penyair, Budayawan Sumatera Barat )

Pada suatu pagi di bulan Oktober 2025, kabar itu berlayar dari jantung Saumlaki, menyeberangi gugusan ombak yang menggigil di antara pulau-pulau karang — membawa berita yang tak sekadar administratif, tetapi seperti kidung yang dinyanyikan angin di punggung tanah Tanimbar:
Putra daerah sendiri, Brampi Moriolkosu, S.H., resmi menduduki kursi Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Di negeri yang sering menatap langit dengan mata menunggu, kabar ini bukan sekadar berita. Ia adalah bunga pertama yang tumbuh di antara bebatuan. Sebuah pertanda bahwa tanah yang sabar akhirnya berbuah harapan.

I.

Nama Brampi Moriolkosu kini terukir di halaman sejarah birokrasi Tanimbar. Bukan karena keberuntungan yang melintas, melainkan hasil dari ketekunan yang panjang, dari malam-malam penuh cahaya redup dan kertas kerja, dari doa ibu yang mengalun di balik jendela bambu rumah masa kecil.

Ia bukan orang yang datang dari jauh membawa bendera asing. Ia tumbuh dari tanah ini — dari pasir pantai yang asin dan aroma laut yang garamnya menempel di darahnya sendiri. Ia belajar tentang ketulusan dari nelayan yang menambatkan jaringnya dengan sabar, tentang tanggung jawab dari para ibu yang menanak nasi di tengah angin tenggara yang liar.

Kini, ia kembali ke pangkuan tanahnya — bukan sebagai pengunjung, tapi sebagai pengemudi arah.

II.

Bupati Riky Jawerisa berdiri seperti pohon tua yang tahu arah angin. Dalam ucapannya, ia bukan sekadar memberi selamat, tapi mengibarkan semacam panji kebanggaan: bahwa keterbukaan, keadilan, dan profesionalisme bukan dongeng yang hilang di meja rapat — tetapi bisa menjadi kenyataan.

“Putra terbaik Tanimbar berhasil meraih nilai tertinggi,” katanya, dan kalimat itu bergema seperti mantra yang menyalakan kembali keyakinan bahwa meritokrasi masih mungkin hidup di negeri yang kecil tapi bermartabat ini.

Ia berharap Sekda baru menjadi motor penggerak birokrasi yang bersih, efektif, dan melayani. Sebuah kalimat yang, bila diterjemahkan dalam bahasa laut, berarti: perahu pemerintahan ini harus melaju, bukan terapung di ombak wacana.

Wakil Bupati menambahkan dengan nada tegas, seolah membunyikan lonceng kejujuran di menara yang telah lama sunyi:
“Siapa yang memperoleh nilai tertinggi, dialah yang akan terpilih.”
Sederhana, tapi dalam kesederhanaannya terkandung revolusi.

III.

Tanimbar hari ini berdiri di persimpangan zaman.
Di satu sisi, laut masih memeluk misterinya yang biru.
Di sisi lain, administrasi dan data, target dan indikator kinerja menuntut ketepatan.
Di antara dua dunia itu, Sekda adalah jembatan: ia harus bisa berbahasa laut dan berlogika darat.

Dengan hadirnya Brampi Moriolkosu, negeri ini seperti menata ulang cerminnya sendiri. Cermin yang dulu berdebu oleh skeptisisme dan lelah oleh janji-janji yang hilang arah. Kini cermin itu mulai jernih kembali, memantulkan wajah orang Tanimbar yang percaya bahwa putra daerahnya bisa berdiri sejajar dengan siapa pun di republik ini.

IV.

Asta Cipta Pembangunan bukan sekadar dokumen kebijakan. Ia adalah delapan nafas yang ingin dihirup bersama oleh rakyat dan pemerintah: dari pendidikan yang tercerahkan, ekonomi yang mandiri, pelayanan publik yang cepat, hingga tata ruang yang ramah pada laut dan tanah leluhur.

Brampi kini menjadi penjaga ritme dari delapan nafas itu — seperti dirigen dalam orkestra yang luas.
Ia harus menjaga agar musik pembangunan tidak sumbang, agar harmoni antara OPD, rakyat, dan visi daerah tak terputus oleh kepentingan sesaat.

V.

Tanimbar adalah gugusan pulau yang lahir dari air dan api. Di setiap jengkal tanahnya, sejarah dan masa depan berpelukan.
Brampi, dalam perannya yang baru, akan berjalan di antara dua api itu: api semangat dan api tanggung jawab.
Ia akan menyeberangi ombak keputusan, menelusuri karang birokrasi, dan mengukur dalamnya lautan pelayanan publik.

Namun yang terpenting, ia membawa sesuatu yang tak tertulis dalam SK pengangkatan:
cinta pada tanah kelahirannya.

Dan cinta, bila bekerja di dalam seorang manusia, akan mengubah seluruh sistem menjadi bahasa hati.

VI.

Nama Brampi Moriolkosu kini akan sering disebut dalam rapat, berita, dan surat resmi. Tapi di balik nama itu, ada kisah kecil yang mungkin tak banyak diketahui: kisah tentang anak muda yang dulu menatap laut sambil bermimpi tentang negeri yang tertata, tentang ruang publik yang tak lagi sekadar janji, tentang birokrasi yang bisa tersenyum pada rakyatnya.

Kini, ia punya kesempatan untuk menjahit mimpi itu menjadi kebijakan, menulis harapan itu ke dalam notulen sejarah Tanimbar.

VII.

Dari desa-desa kecil di tepian laut, dari anak-anak yang bermain di pasir sore hari, dari ibu-ibu yang menjemur ikan asin, sampai pegawai kantor yang menunggu arah baru — semuanya kini menatap satu arah:
ke sebuah kantor di mana Sekda baru akan memulai tugasnya.

Bukan dengan sorak besar, tapi dengan doa yang lembut, dengan keyakinan yang tumbuh pelan seperti pohon kelapa di tepi pantai.

Mereka tahu, pemerintahan bukan sihir, tapi kerja panjang. Dan kerja panjang hanya mungkin jika ia lahir dari niat yang bersih.

VIII.

Maka hari ini, tanggal 20 Oktober 2025, Tanimbar menulis satu halaman baru dalam kitab lautnya yang panjang.
Di halaman itu tertulis nama seorang anak negeri yang pulang bukan dengan janji, tapi dengan prestasi.

Seluruh kabupaten seperti berbisik dalam bahasa angin:

“Selamat datang di geladak perahu, Brampi Moriolkosu.
Pegang kemudi dengan hati, bukan dengan gengsi.
Bawalah kami berlayar — bukan sekadar menuju pembangunan,
tapi menuju makna yang lebih dalam dari kata maju:
kejujuran, pelayanan, dan cinta yang tak pernah usai.”

—-
2025