Banten, Suara Anak Negeri–Langit Tangerang malam itu seolah memantulkan sinar harapan. Di bawah lembayung yang meneduh, barisan pemimpin madrasah dari ranah Minangkabau tiba dengan wajah berseri. Mereka datang bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai pengemban semangat membawa api motivasi dari barat Nusantara menuju pentas ilmu nasional.
Adalah Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Dr. Ahmad Asdi selaku Ketua, Dr. (Can) Amrizon (Sekretaris), dan Hj. Marliza (Bendahara), bersama 26 Kepala Madrasah Aliyah se-Sumatera Barat, tiba di Banten tepat pukul 10.00 WIB. Mereka datang dengan langkah tegap, menghadiri pembukaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Nasional 2025 di Balai Kota Tangerang, Senin malam, 10 November 2025.
Kehadiran mereka bukan sebatas formalitas. Ia adalah simbol pengabdian dan solidaritas akademik—hadir untuk memberikan dukungan moral, spiritual, dan intelektual kepada para duta madrasah Sumatera Barat yang bertanding di ajang bergengsi nasional ini, mulai dari jenjang MI, MTs, hingga MA.
Menyalakan Obor Kolaborasi dan Semangat Prestasi
Kedatangan KKMA Sumbar mendapatkan apresiasi yang tinggi dan sambutan hangat dari Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Banten, H. Hendri Pani Dias, yang turut hadir bersama tim kesiswaan. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kebersamaan lintas provinsi yang terjalin.
”Inilah bukti bahwa madrasah Indonesia adalah satu tubuh. Ketika satu daerah berjuang, daerah lain ikut mendoakan dan menguatkan. Semangat seperti ini adalah modal besar bagi kebangkitan madrasah nasional,” ujar Hendri Pani Dias penuh makna.
Sementara itu, Ketua KKMA Sumbar, Dr. Ahmad Asdi, menyampaikan rasa bangga dan haru melihat semangat luar biasa para peserta OMI dari seluruh Indonesia, khususnya dari Sumatera Barat.
”Kami datang membawa semangat Basamo Manang kita bersama, kita menang. Kami ingin memastikan bahwa kontingen Sumbar tidak hanya hadir sebagai peserta, tapi juga sebagai pembawa martabat madrasah yang berpikir global dan berakhlak Qurani,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Ahmad Asdi menegaskan bahwa kehadiran KKMA juga menjadi momentum penting untuk belajar, menyerap gagasan, dan menimba inspirasi dari sambutan para tokoh nasional yang hadir di panggung OMI 2025.
Ahmad Asdi mengutip beberapa isi sambutan dan Resonansi empat pejabat teras dan penting, Gubernur Banten, Dirjen Pendis, Ketua Komisi VIII DPR RI, dan Wakil Menteri Agama RI.
OMI Nasional 2025 bukan sekadar lomba. Ia adalah panggung ide dan kebijakan, tempat berkumpulnya pemimpin-pemimpin pendidikan bangsa yang memandang madrasah bukan lagi pinggiran, melainkan poros utama kemajuan Indonesia masa depan.
Gubernur Banten, Andra Soni, dalam sambutannya menegaskan komitmen daerahnya untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan utama kemajuan. “Banten telah menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa SMA dan SMK. Kolaborasi dengan Kementerian Agama diharapkan melahirkan sistem pendidikan yang semakin maju dan bermartabat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keberhasilan sinergi Sekolah Garuda dan MAN IC Tangerang sebagai contoh pendidikan kolaboratif yang visioner. “Kami bangga menjadi tuan rumah OMI 2025. Dari Banten, kita ingin lahirkan generasi yang unggul dalam prestasi dan luhur dalam budi,” pungkasnya.
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., mengupas makna filosofis OMI yang kini merupakan gabungan antara Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan MyRes. Ia menegaskan bahwa OMI adalah wadah integrasi antara iman dan riset, dzikir dan pikir.
”Kita ingin tamatan madrasah menguasai Timur dan Barat, memiliki karakter keagamaan yang kokoh dan kecakapan ilmiah yang kuat,” tegasnya.
Beliau mengajak siswa madrasah untuk berani bermimpi besar: menjadi ilmuwan, peneliti, dan pemimpin masa depan yang berakar pada iman dan berpuncak pada ilmu.
Dari perspektif kebijakan, Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, menegaskan posisi Kemenag sebagai mitra strategis DPR dalam menguatkan pendidikan agama. “Guru-guru madrasah adalah pilar bangsa. Melalui OMI, kita melihat buah tangan dan keikhlasan mereka dalam mencetak generasi ilmiah yang bermoral,” ucapnya.
Puncak nilai spiritual OMI hadir lewat sambutan Wakil Menteri Agama, Romo M. Syafii, yang menyalakan api kesadaran ilmiah Islam.
Beliau menegaskan, “Islam adalah agama yang tinggi dari segala sisi. Di dalamnya, ada kedokteran, astronomi, budaya, dan teknologi semuanya untuk kemaslahatan umat.”
Romo Syafii menggugah para hadirin dengan kisah para cendekiawan Islam masa silam mereka yang siang hari meneliti bintang dan malamnya bersujud dalam doa.
”Kita ingin anak-anak madrasah menjadi ilmuwan yang tunduk di sajadah dan general pada sains dan teknologi,” tegasnya dengan penuh inspirasi.
Menimba Inspirasi, Menyemai Harapan
Bagi KKMA Sumatera Barat, kehadiran di OMI 2025 bukan hanya perjalanan dinas, tetapi ziarah intelektual. Dari podium Banten, mereka memetik butir hikmah dari setiap sambutan, meneladani sinergi antar lembaga, dan meneguhkan komitmen untuk terus memajukan madrasah di ranah Minang.
Dr. Ahmad Asdi menutup refleksinya dengan kalimat bermakna dalam :
”Kita pulang membawa cahaya. Apa yang tumbuh di Banten hari ini akan kita tanam di Sumatera Barat esok. Semoga dari madrasah lahir ilmuwan yang saleh, pendidik yang ikhlas, dan generasi yang menyalakan obor peradaban Islam.”
Malam pembukaan OMI Nasional 2025 di Balai Kota Tangerang menjadi saksi bisu lahirnya semangat baru. Di sana, ilmu dan iman berpadu dalam satu irama: irama kebangkitan madrasah Indonesia.
Di tengah gemerlap lampu kota Banten, wajah-wajah dari Sumatera Barat memancarkan cahaya keyakinan. Bahwa sejauh apapun mereka datang, tujuannya satu—menyokong generasi madrasah agar terus melangkah di jalan ilmu dengan kepala tegak dan hati tunduk pada Ilahi.
Dan dari perjalanan itu, lahirlah sebuah pesan yang menggetarkan hati:
”Madrasah bukan sekadar lembaga belajar. Ia adalah taman tempat ilmu bersujud dan akhlak bertumbuh.”