Dari “Lembe-Lembe” ke “Fantasi”: Jejak Musik Catje Hehanusa dan Kisah Rivalitas Broery vs Peter
Oleh: Stef Tokan
–
Album Rame Dendang Jujaro Tellu dan Jujaro Lim masih menjadi cerita panjang dalam sejarah musik Maluku. Album yang dipimpin sekaligus diciptakan lagunya oleh Catje Hehanusa pada era 1960-an ini, hingga kini tetap dikenang sebagai salah satu tonggak musik rakyat yang merekatkan identitas kultural orang Maluku. Lagu-lagu seperti Lembe-Lembe, Asal Ale Mau Nanti, Nusaniwe, dan Burung Tantina lahir dari tangan dingin Catje Hehanusa.
Kaset-kaset tersebut sudah direproduksi puluhan kali, beredar dari kampung ke kota, dari Ambon hingga Jakarta. Generasi demi generasi masih mendendangkannya dalam pesta rakyat maupun acara adat. Namun, kisah di balik album ini bukan hanya tentang warisan musik, melainkan juga tentang dinamika sosial dan persaingan di panggung hiburan Indonesia.
Salah satu putra Catje, Peter Hehanusa, sempat mencuri perhatian pada akhir 1970-an. Suaranya yang khas disebut-sebut mirip Broery Pesulima, sang raksasa musik Indonesia kala itu. Peter bahkan sempat merilis satu album dengan lagu andalan Fantasi. Sayangnya, langkahnya terhenti di tengah jalan karena sebuah cerita persaingan yang jarang dibuka ke publik.
Ketika Peter mulai dilirik produser, pasar musik tanah air sudah dikuasai Broery. Kehadiran Peter memunculkan ketegangan: produser berebut, artis Maluku di Jakarta terbelah menjadi dua kubu. Persaingan itu nyaris membelah komunitas musik Maluku. Untungnya, tokoh-tokoh Maluku di ibu kota turun tangan dan menyepakati jalur damai: Broery tetap dipopulerkan, Peter memilih jalannya sendiri.
Kini, Peter Hehanusa lebih banyak bernyanyi di gereja Protestan. Saya sendiri sempat mewawancarainya di rumahnya, Jakarta Pusat, pada 2015. Ia bercerita, keputusan itu memang bagian dari panggilannya, meski tetap ada sisa getir dari persaingan masa lalu. Namun, bagi Peter, musik tetaplah ruang pengabdian.
Warisan musik Catje juga melahirkan karya monumental lain: Motor Oni. Lagu ini mengisahkan tragedi tenggelamnya kapal motor Oni yang berangkat dari Tulehu menuju Pulau Haria. Kelak, lagu ini diubah menjadi rohani dengan judul Ombak dan Arus, dipopulerkan oleh Halleluya Singers. Lagu itu abadi, bergema di gereja-gereja hingga kini.
Halleluya Singers sendiri pernah tampil di STFSP pada 1988, dibawa oleh istri Theo Tumion. Saat itu, rombongan yang terdiri dari John Tanamal, Freddy Hitipeuw, Corr Tetelepta, dan Tanti Yosepha tampil di Refter Seminari. Mereka bahkan sempat berduet dengan Fr. Alo Tamnge MSC. John Tanamal terperangah: “Kenapa suara sebagus ini tidak jadi penyanyi profesional?” Tahun-tahun kemudian, kita tahu, Romo Alo benar-benar bernyanyi di panggung besar, bahkan berduet dengan Lyodra di hadapan Paus Fransiskus.
Sejarah musik Maluku memang penuh warna, dari Lembe-Lembe hingga Fantasi, dari Motor Oni hingga Ombak dan Arus. Di tengah gempuran lagu-lagu viral seperti Poco-Poco, Goyang Tobelo, hingga Tabola Bale dari NTT, karya Catje Hehanusa tetap abadi dalam ingatan. Musik bagi orang Maluku bukan hanya hiburan, tapi identitas. Atau dalam bahasa hari ini: Aku goyang maka aku ada.