Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Yusufachmad Bilintention

Jika L-Beaumanity karya Leni Marlina hadir sebagai undangan sunyi untuk kembali pada cinta, keindahan, dan kemanusiaan, maka Delula Jaya berdiri sebagai bukti nyata bahwa komitmen literasi tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan dalam karya yang lengkap dan terverifikasi.

Berbeda dengan L-Beaumanity yang masih menunggu pengesahan ISBN, Delula Jaya telah rampung sepenuhnya—lengkap dengan ISBN resmi dan siap beredar. Kehadiran dua karya ini, satu dalam tahap akhir dan satu telah selesai, menunjukkan transparansi proses, progres berkelanjutan, serta capaian konkret yang dimungkinkan oleh dukungan sponsor. Keduanya menjadi bagian penting dalam pertanggungjawaban Yayasan Santa Lusia Biak, Papua, sekaligus bukti bahwa literasi adalah kerja bersama yang membutuhkan komitmen nyata.

Lebih dari sekadar administrasi, Delula Jaya adalah ruang refleksi. Ia mengajak pembaca menelusuri jejak pengalaman, menimbang ulang nilai-nilai, dan menemukan kembali cahaya kemanusiaan di tengah riuh kehidupan. Dengan demikian, Delula Jaya berdiri berdampingan dengan L-Beaumanity: dua karya berbeda, namun sama-sama lahir dari panggilan takdir dan ketulusan pengabdian sastra.

Kehadiran Delula Jaya juga diperkuat oleh suara para pengantar. Eka Budianta, sastrawan dan pemerhati puisi Indonesia, menegaskan ketulusan Yusuf Achmad: “Aku temukan harapan lagi di setiap tetes embun pagi.” Ia mengagumi kejujuran hati yang terpancar dalam puisi-puisi Yusuf, termasuk Debu Kurindu yang ditulis di Makkah. Sementara itu, Budhy Munawar-Rachman, cendekiawan Islam progresif, menyambut Delula Jaya sebagai karya yang melampaui estetika kata-kata, menghadirkan kedalaman spiritual, kepekaan sosial, dan kelembutan batin yang menyentuh inti kemanusiaan. Baginya, buku ini menjembatani lokal dan global, spiritualitas dan teknologi, masa lalu dan masa depan—sebuah suara tulus yang hidup dalam setiap baitnya.

Dengan penuh hormat, kami persembahkan Delula Jaya sebagai bagian dari percakapan panjang sastra Indonesia—sebuah jembatan antara karya pribadi dan tanggung jawab sosial, antara suara individu dan komitmen kolektif.

Tautan resmi penerbit:
Delula Jaya – Pustaka Lima

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com

https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write  https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en

https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com

https://medium.com/@yusufachmad2018 https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly