April 18, 2026

Di Balik Kesuksesan Seorang Pria, Ada Perempuan Hebat: Sebuah Refleksi Kartini atas Peran Ibu Bernardeta Go, S.H.


Oleh: Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si.

Hari Kartini selalu menjadi momen yang sarat makna bagi bangsa Indonesia. Tanggal 21 April bukan hanya penanda sejarah perjuangan emansipasi, tetapi juga menjadi panggilan nurani untuk menghargai dan merefleksikan kembali perjuangan perempuan masa kini yang terus mengambil peran strategis dalam keluarga, masyarakat, gereja, dan negara. Semangat Kartini tidak berhenti pada kisahnya di Jepara, melainkan terus hidup dalam denyut kehidupan perempuan Indonesia di masa kini, termasuk di tanah Papua, dan lebih khusus lagi, di Kabupaten Waropen.

Dalam kesempatan memperingati Hari Kartini tahun 2025 ini, saya ingin mengangkat sebuah refleksi personal namun penuh makna tentang perempuan yang selama ini berdiri teguh di sisi saya, bukan hanya sebagai pendamping, tetapi sebagai sumber kekuatan moral, pemantik semangat, dan pelita dalam setiap tantangan yang saya hadapi: istri saya, Bernardeta Go, S.H.

Perempuan di Balik Layar, yang Bekerja dengan Cinta

Sebagai Bupati Waropen periode 2025–2030, langkah saya di awal masa jabatan tidak mudah. Masa 100 hari pertama adalah masa kritis untuk menata kembali arah pemerintahan, menyatukan langkah birokrasi, dan menanamkan semangat baru pelayanan bagi masyarakat Waropen. Dalam masa-masa itulah, kehadiran Bernardeta menjadi sangat berarti. Bukan dalam bentuk instruksi formal atau pidato seremonial, melainkan dalam wujud perhatian sehari-hari, diskusi di ruang makan, tatapan penuh harap di saat saya ragu, dan doa-doanya yang saya tahu selalu menyertai setiap kebijakan yang saya ambil.

Ia memahami betul dinamika dunia birokrasi dan politik yang saya jalani, dan bukan sekali dua kali saya menjumpai beliau membaca tuntas dokumen-dokumen perencanaan daerah atau laporan kegiatan PKK sambil menemani saya bekerja hingga larut malam. Ia bukan hanya istri dari seorang bupati; ia adalah partner strategis dalam kerja-kerja membangun peradaban.

Dalam 100 hari pertama saya menjabat kembali sebagai Bupati Waropen, tantangan yang kami hadapi begitu kompleks: reformasi birokrasi, pemerataan pembangunan kampung, penurunan angka stunting, serta upaya peningkatan ekonomi rakyat. Di balik semua itu, Bernardeta hadir sebagai suara hati yang menyeimbangkan logika kebijakan dengan empati kemanusiaan. “Apa yang kita lakukan, harus kembali kepada rakyat kecil,” ucapnya suatu malam ketika kami berdiskusi tentang program prioritas.

Mengemban Peran Ibu Bangsa dari Rumah

Di balik peran publiknya sebagai Ketua Tim Penggerak PKK, Bernardeta tetap menempatkan keluarganya sebagai prioritas utama. Di tengah agenda padat sebagai istri kepala daerah dan pemimpin organisasi perempuan, ia tidak pernah absen dalam mendampingi dan membimbing anak-anak kami. Ia bukan hanya ibu biologis, tetapi juga ibu ideologis yang menanamkan nilai tanggung jawab, kejujuran, dan semangat pelayanan sejak dini kepada generasi penerus kami.

Sebagai seorang ibu, Bernardeta selain mengurus kebutuhan rumah tangga. Ia juga mendidik dengan keteladanan, bahwa menjadi perempuan bukanlah menjadi sosok kedua, justru seorang ibu harus  menjadi pusat kehidupan. Ia menunjukkan kepada anak-anak kami bahwa integritas bukanlah konsep yang abstrak, melainkan sesuatu yang nyata dan dimulai dari rumah.

Pendidikan: Visi dan Teladan yang Hidup

Seperti halnya Kartini, Bernardeta meyakini bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju pembebasan dan kemajuan. Ia menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar Sarjana Hukum di tengah peran gandanya sebagai ibu dan istri. Hal itu ia lakukan tidak  mengejar gelar semata, namun sebagai bentuk tanggung jawab moral  menyiapkan diri secara intelektual agar dapat berkontribusi secara maksimal dalam keluarga dan masyarakat.

Konsistensinya dalam mendorong pentingnya pendidikan bagi perempuan Papua membuatnya menjadi inspirasi di banyak kalangan. Ia sering menjadi pembicara dalam forum-forum perempuan dan pemuda, menyuarakan bahwa perempuan Papua harus berdiri sejajar, bukan hanya karena mereka mampu, tetapi karena mereka layak.

SMA YPK Fransicus Xaverius Mote adalah wujud dari ide seorang  perempuan bernama Bernardeta Go, SH. Ia ingin agar putera puteri Papua harus sekolah, menjadi pintar dan cerdas hanya demi kemajuan dan kemandirian Papua dalam segala hal.

Pemimpin Perempuan yang Membumi

Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Waropen, Bernardeta tidak menjadikan jabatannya sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai ruang untuk melayani. Ia turun langsung ke kampung-kampung, berdialog dengan mama-mama Papua, mendengar langsung suara rakyat kecil yang terkadang tak terdengar di ruang-ruang formal pemerintahan.

Dalam program-program PKK yang ia pimpin, sejak menjadi Penjabat Bupati di Waropen  sampai menjadi Bupati defenitif sejak 20 Februari 2025, Bernardeta menjalan tugas dan peran pada aturan dan kebiasaan sebagai perempuan Papua di tengah masyarakat. Semuanya dikerjakan sebagai wujud panggilan hati untuk menjadikan keluarga sebagai basis perubahan sosial bersama Ibu Wakil Bupati Yoel Boari.

Menguatkan Kepemimpinan Daerah dari Dalam

Sebagai seorang pejabat publik, saya tidak bisa bekerja sendiri. Kepemimpinan daerah yang sehat harus ditopang oleh stabilitas batin, kejelasan visi, dan kehadiran orang-orang terpercaya. Dalam hal ini, peran Bernardeta sungguh krusial. Ia adalah rumah dalam arti yang sesungguhnya tempat saya kembali untuk menyusun ulang strategi, menata semangat, dan memurnikan niat ketika tekanan politik dan birokrasi terasa menyesakkan.

Tak jarang, Bernardeta menjadi sounding board pertama sebelum saya mengambil keputusan penting. Ia mendengarkan, memberi masukan tajam  penuh cinta, dan yang terpenting, ia mengingatkan saya untuk tidak melupakan akar: rakyat. Sebab baginya, jabatan hanyalah sarana pelayanan, bukan tujuan.

Kartini berjuang agar perempuan bisa memperoleh pendidikan, dihargai sebagai subjek, dan diberi kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan. Bernardeta adalah perwujudan dari nilai-nilai itu dalam konteks masa kini. Sebagai istri seorang kepala daerah; ia adalah pemimpin dalam lingkupnya sendiri yang dengan rendah hati, keberanian, dan integritas, telah memberi kontribusi nyata bagi Kabupaten Waropen.

Ajakan untuk Menghargai Perempuan

Pada Hari Kartini ini, saya mengajak seluruh masyarakat, terutama kaum laki-laki, untuk tidak hanya memperingati perjuangan perempuan lewat seremoni atau simbol. Menghargai dan mendukung peran perempuan dalam kehidupan nyata sebagai mitra dalam rumah tangga, dalam pekerjaan, dan dalam pembangunan bangsa adalah sebuah wujud penghormatan bagi kaum wanita.

Karena sesungguhnya, di balik setiap langkah maju yang saya ambil sebagai Bupati Waropen, ada perempuan hebat yang berdiri tenang dan setia di belakang saya. Ia tidak selalu tampil di panggung, tetapi kehadirannya adalah fondasi dari segala pencapaian saya. Ia adalah Bernardeta Go, S.H. perempuan Papua, ibu bangsa dari rumah kami, dan cerminan semangat Kartini di tanah Waropen.

Selamat Hari Kartini April 2025

Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si.
Bupati Kabupaten Waropen