April 21, 2026

Era Nurza

Kita tiba
di kota yang menua dengan angin dan doa Bukit Tinggi tempat langit menulis puisinya sendiri
Udara menggigilkan kenangan
sementara kabut menyalami pagi dengan lembut
seolah berkata: selamat datang
penjelajah rindu

Dari Panorama Baru mataku terjerat siluet hijau
lembah berlapis seperti lukisan yang hidup
Burung-burung melintas
membawa kabar dari hutan yang masih suci
Angin menari di antara daun
membisikkan nama-nama yang lupa pulang

Lalu Ngarai Sianok menganga bagai rahim bumi
dalam tenang dan suci
Di sanalah waktu menunduk
menyadari bahwa keindahan bisa lahir dari kesunyian
Sungai mengalir seperti kalimat yang tak sempat diucap
mengiris lembut dada tanah Minangkabau

Sore menua di Jam Gadang
jarum-jarumnya berputar seperti doa yang tak usai
Manusia berdesakan di alun-alun waktu
tertawa berfoto mencintai sekejap dengan cahaya
dan di antara riuh itu
aku menemukan damai di wajah kota tua
yang masih hafal aroma kopi dan hujan sore

Bukit Tinggi
kau bukan sekadar tempat singgah
kau adalah sajak yang hidup di udara
lukisan yang menolak selesai
sebuah pelukan dari alam yang ingin diingat

Maka biarlah aku kembali
menyusuri tiap jejak langkahku di lerengmu
mendengar bisikan Ngarai
menatap jam yang tak lelah berdetak
dan berkata pelan pada diriku sendiri
inilah indah yang tak bisa dibeli
inilah pulang yang tak harus kembali

Bukit Tinggi, 1 November 2025