April 18, 2026

Di Tengah Gema Sastra Dunia, Dr. Yuliana Ch. Ratuanak Tegaskan Pentingnya Suara dari Pinggiran

Oleh : Joko

Sumber : Paulus Laratmase
www.suaraanaknegerinews.com | Padang, Sumatera Barat — Di tengah sejuknya sore 31 Mei 2025, Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang tak sekadar menjadi ruang akademik, melainkan menjelma menjadi altar kemanusiaan.

Dua karya puisi monumental, L-Beaumanity karya Leni Marlina dan Delula Jaya karya Yusuf Achmad, diluncurkan secara resmi dalam gelaran Poetry Book Launching & Discussion yang menjadi bagian dari International Seminar on Poetry (IOSOP) 2025.

Acara berskala internasional ini berlangsung dalam format hybrid, menyatukan para pendidik, sastrawan, aktivis, dan pencinta puisi dari berbagai penjuru dunia.

Mereka hadir bukan sekedar menyimak peluncuran buku, namun ikut menjadi saksi bahwa puisi masih menjadi jembatan hati nurani antarbangsa, sebuah suara yang melintasi batas geografis, bahasa, dan luka.

Salah satu momen paling mengesankan datang dari Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, Dr. Yuliana Ch. Ratuanak, MKM, yang hadir langsung di tengah forum.

Dalam Berbagainya yang disampaikan secara puitis, Dr. Yuliana menyebut kedua buku ini sebagai “perayaan ruh kemanusiaan melalui kata” bukan sekadar rangkaian umpan, tetapi nyala yang bangkit dari luka-luka sunyi yang selama ini diredam sejarah.

“L-Beaumanity bukan sekedar puisi antologi. Ia adalah gema sunyi dari suara-suara yang tertindas dan terlupakan. Sebuah nyala dari hati yang menolak diam di hadapan luka kemanusiaan,” ungkapnya dengan lantang.

Ia menekankan bahwa kekuatan puisi terletak pada kemampuannya menyatukan yang jauh dan dekat, yang asing dan akrab, yang nyata dan ideal.
Dalam refleksinya, ia menyebut Padang sebagai tanah para pujangga besar yang telah mewariskan bahasa, sastra, dan nilai-nilai kebangsaan, sesuatu yang menurutnya wajib dirayakan dalam semangat pendidikan dan kebudayaan.

Tak hanya pesta perjamuan, Dr. Yuliana juga mempersembahkan sebuah syair dalam bahasa adat Tanimbar, dikenal sebagai bentuk pujian dan terima kasih kepada Sang Ilahi. Suasana auditorium seketika menjadi hening, khusyuk, dan penuh keharuan.

“Aku, aku yang tidak menuntut jawaban. Aku adalah luka yang tak pernah meninggalkan penderitaan. Aku hidup di padang, namun menjadi pusat bagi roh-roh yang di dunia gemerlap…” ucapnya, melantunkan puisi yang menggetarkan batin para hadirin.

Sementara itu, Delula Jaya karya Yusuf Achmad dipandang sebagai mitra naratif yang menghubungkan imajinasi dan sejarah. Buku ini menyatukan arus budaya dari Biak hingga ke jantung kemanusiaan global.

Dalam satu panggung, dua karya ini dianggap berhasil menyulam benang cinta, keadilan, keindahan, dan spiritualitas ke dalam satu karya sastra yang estetika sekaligus transformatif.

Yuliana pun menegaskan bahwa sastra bukan hanya ekspresi pribadi, tetapi juga kekuatan peradaban.
“Sastra itu pelita batin, membentuk kesadaran, memperkuat karakter bangsa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keberpihakan terhadap suara-suara otentik dari pinggiran negeri, perempuan, anak-anak negeri, masyarakat adat, dan kelompok terpinggirkan.

Dalam konteks ini, kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dan Komunitas Suara Anak Negeri disebut sebagai langkah nyata dalam memperjuangkan narasi yang selama ini jarang mendapat ruang.

“Saya merasa sangat terhubung dengan semangat buku ini. Bahwa mereka anak-anak negeri, perempuan, masyarakat adat, mampu menyampaikan narasi mereka sendiri, bukan hanya menjadi objek pemberitaan,” tegasnya.

Ia pun memberi penghormatan khusus kepada penulis Leni Marlina, yang melalui L-Beaumanity, dianggap telah menyentuh empat dimensi utama kemanusiaan: Yang pertama, Perdamaian dan Refleksi, sebagai ruang sunyi di tengah hiruk-pikuk dunia.

Kedua, Keindahan dan Keajaiban, yang mengajak manusia memikirkani semesta dari hal-hal kecil, ketiga, Perjuangan untuk Kemanusiaan, yang menuntut keberpihakan pada yang tertindas dan keempat, Cinta Sejati, yang melampaui sekat budaya dan batas geografis.

“Ini bukan sekedar karya. Ini adalah panggilan undangan untuk memikirkan, berhenti sejenak, dan memulihkan nilai-nilai yang mulai tergerus di zaman,” tandasnya.

Sambutan Dr. Yuliana pun ditutup dengan sebuah harapan besar: bahwa puisi bisa menjadi bagian dari diplomasi nurani bangsa.

Sebuah kekuatan halus namun kuat yang menyentuh hati dan menggugah kesadaran kolektif umat manusia.

“Semoga karya-karya ini terus hidup, menginspirasi lintas generasi, lintas budaya, dan lintas dunia,” menghasilkan.

Peluncuran L-Beaumanity dan Delula Jaya tak hanya menandai terbitnya dua buku puisi.

Ia adalah peluncuran kesadaran baru bahwa literasi bisa menjadi alat perjuangan, puisi bisa menjadi suluh, dan kata-kata bisa menjadi rumah bagi luka-luka manusia.