Didaulat Sebagai Penceramah Ramadhan: Kepala MAN Sawahlunto Ajak Warga Madrasah Buanglah Rasa Dendam dan Tumbuhkan Kasih Sayang
Sawahlunto, Suara Anak Negeri — Dalam suasana pagi yang bening dan penuh harap, keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri Sawahlunto menggelar kegiatan Tarhib Ramadhan, sebuah gerbang ruhani untuk menyongsong bulan suci dengan hati yang bersih dan jiwa yang teduh. Pada momen istimewa itu, Kepala MAN Sawahlunto, Dafril, Tuanku Bandaro, didaulat sebagai penceramah utama dengan tajuk yang menggugah: “Buanglah Rasa Dendam, Tumbuhkan Kasih Sayang.”
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh elemen madrasah:
Kaur TU Yurmaini, unsur pimpinan seperti Oky Loly Weny, Husein Al-Hafez, Syafri Ervandi, Pembina OSIM Femita Maya Dona, seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), serta 390 siswa kelas X, XI, dan XII yang memenuhi ruangan dengan wajah-wajah penuh antusias dan harap.
Tarhib Ramadhan ini bukan sekadar seremoni menyambut bulan suci. Ia adalah ruang muhasabah, tempat jiwa-jiwa yang mungkin pernah retak oleh prasangka dan tersayat oleh dendam, diajak untuk kembali utuh dalam pelukan kasih sayang.
Dalam ceramahnya, Ustaz Dafril menjadikan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 sebagai landasan utama. Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling membenci. Kemuliaan bukanlah pada asal-usul, melainkan pada ketakwaan.
“Ramadhan,” ujar beliau dengan suara yang bergetar lembut, “adalah bulan penyucian. Maka sebelum kita menahan lapar dan dahaga, bersihkanlah terlebih dahulu hati kita dari dendam yang menggerogoti.”
Acara berlangsung di lingkungan MAN Sawahlunto, pada momentum menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, ketika udara pagi masih menyimpan embun dan hati-hati sedang bersiap menyambut bulan penuh ampunan.
Dengan gaya tutur yang tenang namun menghunjam, Ustaz Dafril mengurai konsep 5 Panca Cinta sebagai fondasi membangun peradaban madrasah yang berakhlak:
Cinta kepada Allah menghadirkan ketaatan yang tulus dan ibadah yang khusyuk.
Cinta kepada Rasul meneladani akhlak mulia Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Cinta kepada Orangtua menghormati dan mendoakan sebagai jalan keberkahan hidup.
Cinta kepada Guru memuliakan ilmu dan adab sebagai cahaya masa depan.
Cinta kepada Sesama dan Alam Semesta menebarkan rahmat, menjaga harmoni, dan merawat bumi sebagai amanah.
Suasana mendadak hening ketika beliau mengisahkan cerita pilu tentang Ibu Aminah dan putrinya, Lilah. Sebuah keluarga sederhana yang retak oleh salah paham dan luka hati yang dipelihara terlalu lama. Lilah yang menyimpan dendam, memilih menjauh dari ibunya. Hingga suatu hari, ketika waktu tak lagi memberi jeda, penyesalan datang tanpa sempat meminta maaf.
Beberapa siswa terlihat menyeka air mata. Guru-guru pun tertunduk dalam perenungan. Kisah itu menjadi cermin bahwa dendam hanya melahirkan kehilangan, sementara kasih sayang menumbuhkan kehidupan.
“Jangan tunggu esok untuk memaafkan,” pesan beliau lirih, “karena kita tak pernah tahu, apakah esok masih menjadi milik kita.”
Ketua panitia, Nofri Hendra, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Humas, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan Tarhib Ramadhan ini dirancang sebagai upaya memperkuat karakter religius warga madrasah.
“Kami berharap Tarhib Ramadhan ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi gerakan hati. Semoga seluruh warga MAN Sawahlunto mampu memasuki Ramadhan dengan jiwa yang bersih, saling memaafkan, dan memperkuat ukhuwah,” ungkap Nofri penuh harap.
Ramadhan dan Revolusi Hati Kegiatan Tarhib Ramadhan ini menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menjelma revolusi sunyi dalam dada, mengajak setiap insan madrasah untuk membuang dendam, menumbuhkan kasih sayang, dan menjadikan Ramadhan sebagai momentum kelahiran kembali jiwa-jiwa yang lembut.
Di bawah cahaya nilai-nilai Ilahi, MAN Sawahlunto menapaki Ramadhan bukan hanya dengan takbir di lisan, tetapi dengan cinta yang bersemi di hati. Sebab pada akhirnya, sebagaimana pesan Ustaz Dafril, kemuliaan bukan pada seberapa tinggi ilmu dan jabatan, melainkan pada seberapa luas kasih sayang yang mampu kita tebarkan.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor : Dafril. Tuanku Bandaro