April 25, 2026

Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan dan sawah, tinggal seorang anak SD kelas empat bernama Dito. Ia dikenal sebagai anak yang sangat penyayang binatang. Di rumahnya, Dito memelihara berbagai hewan kecil seperti kelinci, kucing, burung, bahkan seekor tupai yang pernah ia selamatkan dari jebakan.

Ayahnya, Pak Widodo, adalah seorang petani, sementara ibunya, Bu Ani, menjual kue di pasar. Mereka awalnya sempat bingung dengan kegemaran Dito terhadap hewan, tapi lama-kelamaan mereka mengerti dan mendukung asalkan Dito bertanggung jawab.

Suatu hari, saat pulang sekolah bersama Wahyu, Bagus, dan Dani, Dito menemukan sesuatu yang membuat teman-temannya menjerit ketakutan.

“Itu biawak! Lari!” teriak Wahyu sambil menarik lengan Dani.

Namun, Dito tidak ikut lari. Ia justru mendekat perlahan. Biawak itu tampak terluka di bagian kakinya. Dito melihatnya bersembunyi di balik semak, matanya tidak menyeramkan seperti kata orang-orang, malah terlihat seperti meminta tolong.

Dengan hati-hati, Dito mengambil sapu tangan dan membalut luka di kaki biawak itu. “Tenang, aku gak akan nyakitin kamu,” bisiknya.

Sejak hari itu, Dito diam-diam merawat biawak tersebut di belakang rumahnya, di kandang kosong bekas tempat ayam. Ia menamainya Bimo.

Hari-harinya terasa berbeda. Setiap pulang sekolah, setelah membantu ibu dan mengerjakan PR, Dito akan memberi makan Bimo dan membersihkan kandangnya. Anehnya, Bimo semakin jinak. Bahkan suatu hari, Bimo mengikuti Dito sampai ke sekolah!

“Ya ampun! Itu biawaknya Dito!” teriak Evi sambil naik ke bangku.

Guru pun panik, dan sekolah jadi heboh. Tapi Dito menjelaskan semuanya di hadapan kelas.

“Bimo memang biawak, tapi dia nggak jahat. Dia luka waktu aku temukan, dan aku rawat. Sekarang dia sahabatku.”

Teman-temannya sempat ragu. Tapi ketika melihat Bimo tidak menggigit dan malah menjilati tangan Dito dengan lembut, mereka mulai luluh.

Lala bahkan berani mendekat. “Dia lucu juga, ya…”

Sejak kejadian itu, Bimo jadi maskot tidak resmi sekolah. Ia tidak masuk kelas tentu saja, tapi sering terlihat menunggu Dito di dekat gerbang saat pulang. Bahkan Tari dan Yoga pernah ikut memberi makan Bimo.

Orang tua Dito awalnya khawatir, tapi setelah melihat Bimo begitu jinak, mereka ikut merawatnya. “Asal jangan dilepas ke dapur ya,” canda Bu Ani.

Persahabatan Dito dan Bimo menjadi kisah yang terkenal di desa. Banyak orang yang awalnya takut, mulai belajar bahwa semua hewan bisa jadi sahabat, jika kita memperlakukan mereka dengan kasih sayang.

Dan di bawah pohon mangga belakang rumah, setiap sore, seorang anak kecil dan seekor biawak duduk bersama, seperti sahabat yang saling memahami tanpa perlu banyak kata.

TAMAT