“Do ut des” (saya beri supaya engkau beri)
Pascl Tethool| Penulis
–
Salve.
Sering kita jumpai tipe orang seperti ini, (bisa itu keluarga, teman bahkan sahabat kita sendiri), yang kelihatan tulus menawarkan kebaikan dan bahkan membantu sesama, namun itu hanyalah sebuah trik/ “strategi” untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan dari yang diberi, bila perlu rela menikung sahabatnya sendiri demi kepentingan sendiri, dan seolah itu bukan salahnya, dengan mencari alibi untuk menyalahkan sahabatnya.
Semua kebaikannya dicatat rapi, sebagai bukti jasa dan “pengorbanannya” supaya bila saatnya tiba, saat hasil perjuangan diperolah, dia harus mendapatkan keuntungan berlipat ganda, termasuk menghalalkan aneka alasan, atau berpura pura diam, bila alasannya tidak berdasar, yang penting tujuannya sudah tercapai, dan sahabatnya mendapatkan sekedar dari belas kasihannya. Dan bila kedoknya mulai terbuka, atau bila sesamanya berani jujur, memprotes “keegoisannya” maka dia berlagak “jadi korban” orang yang berani melawannya, dengan memberi alasan yang dicari cari.
Pernahkan anda mengalaminya? Atau kita juga pernah/ sedang berbuat seperti itu?
Sadarlah…
“Jangan mengambil milik sesamamu manusia secara tidak adil”, inilah Perintah Tuhan.
Karena hal memanfaatkan kelebihan dan kejujuran sesama itu menyakitkan sesamamu. Dan mereka tidak akan diam, cerita menyakitkan ini akan terus diingat sebagai kenangan buruk, bahkan terucap secara sadar kepada orang lain, supaya jangan lagi ada korban penipuannya.
Maka dampaknya buruk sekali: semakin banyak orang tau siapa anda sebenarnya, dibalik pembawaan yg kelihatan santun dan peduli sesama, dibalik kata kata indah keberpihakan kepada masalah masalah sosial, ternyata itu adalah akal bulus/ modus licikmu untuk bisa dipercaya sesamamu, yang kelak manfaatkan kepercayaan itu untuk meraih keuntungan pribadimu.
Mungkin saat ini ada sukacita karena bisa sukses mengambil milik orang lain, tapi…
ingatlah: upah yang diperoleh secara tidak adil, akan menjadi “racun” yang membunuhmu secara perlahan.
Karena Tuhan itu adil.
Selamat berenung…
(Sebuah refleksi kritis dari sebuah cerita produk “bawah langit”)
Salve