April 25, 2026

Oleh: Era Nurza

Di tengah tuntutan dunia birokrasi yang semakin kompleks, hadir sosok perempuan tangguh dari Timur Indonesia yang merepresentasikan kepemimpinan otentik, inklusif, dan penuh talenta. Dialah dr. Yuliana Ratuanak, M.M.Kes, Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, seorang pemimpin yang bukan hanya cakap dalam menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga memiliki segudang kemampuan yang menjadikannya inspirasi lintas generasi.

dr. Yuliana bukan tipikal pejabat yang hanya hadir dalam seremoni. Ia hadir dengan seluruh dirinya akal, hati, dan karya. Ketika membacakan puisi dalam sebuah acara seni budaya, beliau secara spontan melantunkan bait-bait dengan iringan lagu. Bukan gimmick semata, melainkan ekspresi orisinal dari jiwa seni yang telah tumbuh sejak kecil. Tidak hanya bernyanyi, beliau juga menari dengan luwes, menunjukkan bahwa seni bukan sekadar hobi baginya, melainkan bagian tak terpisahkan dari hidup.

Sejak belia, dr. Yuliana telah aktif di dunia seni. Ia tumbuh dengan nilai-nilai budaya yang kuat, menjadikannya pribadi yang peka dan berakar pada identitas. Salah satu bentuk kecintaannya pada warisan leluhur adalah kemahirannya dalam menenun. Tidak sedikit pejabat maupun seniman yang hadir dalam kegiatan formal beliau pulang membawa sehelai kain tenun hasil karya tangannya sendiri, bukan hasil pesanan, tapi hasil kerja keras tangan beliau. Ini bukan sekadar simbol, tetapi pernyataan kuat bahwa seni, budaya, dan kerja nyata dapat berjalan seiring dalam kepemimpinan.

Sebagai perempuan, dr. Yuliana tidak pernah merasa bahwa tanggung jawab rumah tangga bertentangan dengan profesi publiknya. Ia menyapu halaman, mencabut rumput di lingkungan kantor, bahkan mengolah kebun kecil di belakang rumahnya sendiri. Semua itu bukan pencitraan, melainkan manifestasi nyata dari nilai hidup yang dijunjungnya: bekerja dengan tangan sendiri, merawat bumi, dan mencintai keteraturan.

Kepemimpinan beliau pun sangat humanis. Rumah dinasnya terbuka bagi siapa pun. Anak-anak boleh masuk tanpa perlu izin atau protokol berlapis. Masyarakat tidak perlu menjadwalkan waktu secara formal hanya untuk menyampaikan aspirasi. Tidak ada sekat, tidak ada jarak yang ada hanya ruang keterbukaan yang hangat dan tulus.

Asisten pribadi beliau bahkan mengatakan, “Ibu itu tidak berubah. Tetap ramah, tetap mau mendengar, dan tidak sungkan mengulurkan tangan bahkan untuk hal-hal sederhana seperti memungut sampah.” Di era di mana banyak pejabat berlomba membangun citra, dr. Yuliana justru hadir dengan kesederhanaan yang berani dan itulah yang membedakannya.
Jika semua pejabat di Indonesia memiliki semangat, dedikasi, dan jiwa seperti dr. Yuliana, niscaya negeri ini tidak hanya makmur secara materi, tetapi juga bahagia secara batin. Sebab kemajuan sejati tak hanya diukur dari infrastruktur dan angka statistik, melainkan dari kehadiran pemimpin yang menyentuh hati rakyatnya. Dan di Tanimbar, Indonesia telah memiliki satu di antaranya.

Padang, 12 Juni 2025