May 2, 2026

“UNTUK PARA GURU YANG BIJAKSANA”: Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia)

/1/

Sebelum Abjad Diturunkan ke Bumi

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Sebelum abjad diturunkan ke bumi,
Engkaulah makna yang bersujud
di antara senyap dan cahaya.
Bukan sekadar bunyi yang engkau ajarkan—
melainkan nurani
yang mengenal waktu diam
dan tahu kepada siapa ia mesti tunduk.

Engkau bukan sekadar pengajar:
engkau adalah jeda suci,
yang memberi ruang bagi jiwa kami
untuk mengerti hakikat sujud
tanpa diperintah.

Kami berdiri hari ini
karena engkau bersedia menjadi tanah
yang rela diinjak—
demi menumbuhkan langit
dalam dada-dada kecil kami.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/2/

UNTUK PARA GURU YANG BIJAKSANA

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami menemui dirimu—
bukan di atas podium,
bukan pula di antara buku-buku yang engkau tulis.
Melainkan dalam hening
yang tak pernah meminta untuk dinamai,
dalam cahaya
yang menolak menjadi sorotan,
agar tak membakar pandangan kami yang belum mengerti.

Engkau bukan sosok,
bukan pula nama.
Engkau adalah jarak
antara pertanyaan dan pemahaman,
antara lupa dan terang
yang perlahan muncul
saat hati cukup rendah
untuk menyimak.

Langkahmu tak mendahului,
namun tanah menjadi lunak setelah engkau lewati.
Kami berjalan,
bukan karena diperintah,
melainkan karena tapakmu menyisakan arah
yang tak membebani,
namun menyadarkan.

Engkau tak berseru,
tapi diam-mu
mengajar kami
bahwa suara paling dalam
tak selalu memerlukan kata.

Adabmu—
seperti air yang tak memilih menjadi ombak
meski dilempari batu kesalahan.
Seperti waktu,
yang tak mengetuk pintu,
namun menyelinap
dan membentuk kami
dari dalam.

Ilmumu—
bukan menara,
melainkan akar
yang tak menjulang,
namun memeluk kami erat
saat angin kehidupan nyaris merobohkan keyakinan.

Kesabaranmu tak gaduh.
Ia hadir seperti embun:
tak terlihat datang,
tak terdengar menghilang,
namun menyisakan bening
di wajah kami yang dahulu keruh oleh keinginan.

Kami baru tahu:
engkau diam bukan karena tak bisa membalas,
tapi karena hatimu tak ingin mengalahkan siapa pun
di ruang belajar yang seharusnya membangkitkan.

Kami mencium tanganmu
bukan karena tradisi,
melainkan karena di ujung jemarimu
terletak surga kecil
yang dahulu menunjuk huruf pertama,
mengubahnya menjadi makna,
dan makna menjadi cahaya
yang tak pernah padam
meski tubuhmu tak lagi berdiri di hadapan kami.

Kini engkau merunduk,
seperti malam yang tahu
kapan waktunya memberi fajar bicara.
Namamu hilang dari papan tulis,
namun tertulis
di dada kami
sebagai bentuk dari kasih
yang tak mengikat,
namun membebaskan.

Engkau bukan guru.
Kata itu terlalu sempit.
Engkau adalah perantara antara lupa dan sadar,
antara manusia dan nurani,
antara dunia dan yang melampauinya.

Dan bila kami menyebutmu,
itu bukan ucapan,
melainkan gema
dari satu-satunya terang
yang tak pernah meminta kembali
apa yang telah diberikannya.

Doa kami,
bukan pengganti jasa.
Namun jika engkau bertanya, apa yang kami warisi—
lihatlah bagaimana kami kini belajar
mencintai dunia
tanpa perlu menguasainya.

Dan jika cahaya itu pernah berpulang,
kami bersaksi:
ia tak pernah mati.
Ia hanya berpindah—
ke hati-hati
yang pernah engkau sentuh
dalam perjalanan dedikasimu
yang bercucuran peluh,
dan tak pernah menuntut tepuk tangan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/3/

PUNDAK YANG MENYANGGA GUGUSAN RESAH

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Tak satu pun buku yang benar-benar berat.
Yang engkau tanggung adalah:
huruf-huruf yatim
yang belum belajar mengeja luka.

Setiap pagi,
engkau lontarkan matahari
ke pupil-pupil hampir padam—
tanpa sekali pun meminta fajar
mengucapkan namamu.

Pundakmu, Guru,
bukan sekadar tulang.
Ia adalah altar musim:
menyangga gugusan resah
anak-anak yang lupa
cara menangis hingga tuntas.

Terima kasih, Guru.
Engkau tak mengangkat kami ke langit—
engkau menundukkan langit itu sendiri
agar kami belajar berdiri,
meski gemetar.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/4/

GURU DI MATA KAMI

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami belajar,
bukan dari suaramu— melainkan dari bayang-bayangmu yang menolak mencuri cahaya: seperti bulan yang tak hendak menggantikan matahari,
namun justru karenanya, malam kami tak kehilangan arah.

Engkau— bukan tokoh dalam buku,
bukan suara yang berkumandang di podium, melainkan senyap yang menahan dirinya dari menghakimi;
dan di sanalah,
untuk pertama kali,
kami mengenal makna belajar yang tidak lahir dari rasa takut,
tetapi dari keberanian untuk tumbuh.

Di matamu—
kami melihat perahu-perahu yang nyaris patah namun tak karam, karena engkau tidak menambalnya dengan paku,
melainkan dengan diam yang lebih kukuh dari logam,
lebih setia dari sumpah, dan lebih tabah dari waktu.

Langkahmu— bukan derap yang menuntun,
tetapi seperti jarum halus yang menjahit luka-luka generasi tanpa suara,
tanpa sorak.
Namun bekasnya tinggal di dada kami seperti rajah tak terlihat yang menjaga kami dari kesesatan makna.

Engkau tidak menulis di papan— engkau menulis pada kabut jiwa kami yang nyaris menyerah,
hingga satu demi satu huruf berubah menjadi makna,
makna menjadi cahaya, dan cahaya menjadi jalan yang bahkan air mata tak mampu larutkan.

Guru, engkau tak pernah meminta namamu disebut. Engkau sembunyikan puncakmu dalam lipatan waktu,
agar kami bisa mendaki tanpa merendahkan diri, agar kami bisa menjadi langit— bukan hanya burung yang bersuara lantang,
namun hilang arah oleh riuh angin.

Engkau ajarkan: bahwa adab bukanlah aturan yang diawasi, melainkan api yang membakar kesombongan hingga menjadi abu,
dan air yang menenggelamkan keangkuhan hingga kami tumbuh,
bukan karena perintah,
tapi karena cinta kepada benih yang pernah engkau tanamkan dengan doa yang tak bersuara.

Kini— jika kami mampu membaca dunia dari retakan-retakan terdalamnya,
itu karena engkau pernah menjadi malam yang tak menuntut datangnya fajar, tetapi membiarkan kami menyalakan pelita sendiri dari dalam tubuh yang belajar menjadi cahaya.

Namamu— tak kami teriakkan.
Kami simpan di rongga sunyi yang tak berasap, seperti bara yang terus menghangatkan arah, menjaga langkah kami menuju dunia dengan dada yang telah engkau ajari cara menggenggam langit tanpa melukai tanah.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/5/

ENGKAU MENJELMA DOA

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Engkau tak pernah menyuruh kami percaya—
engkau menjelma doa
yang tak butuh suara,
tak menunggu diaminkan.

Saat kami memilih dalam senyap,
saat kami kalah tapi tak hancur,
itu bukan karena kami kuat:
itu karena diam yang engkau tanam
telah tumbuh menjadi akar
yang menyangga pohon dari badai.

Malam-malammu
tak pernah meminta pagi—
namun justru dari gelapmu,
cahaya pertama kami dilahirkan.

Terima kasih, Guru.
Engkau menyala dalam sunyi,
agar kami belajar menjadi cahaya
yang tak perlu mata
untuk bersinar.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/6/

ENGKAU TAK PERNAH TERLUPAKAN

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Engkau tak pernah ingin dikenang—
dan justru karena itu,
engkau tak pernah terlupakan.

Nasihatmu bukan kalimat,
melainkan batu kecil
yang menggores telapak langkah kami,
agar arah tak hanya terdengar,
tapi terasa.

Kami tak menjadi engkau.
Kami menjadi diri kami sendiri
karena engkau bukan cermin,
melainkan langit
yang membiarkan kami terbang
tanpa membakar sayap.

Terima kasih, Guru.
Engkau ajarkan kami mencintai kebenaran
meski sunyi,
dan menolak menang
jika harus menginjak sesama.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/7/

Doa Kami Untuk Guru

Puisi Karya Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami tak membawa mahkota, Guru,
hanya langkah-langkah renta
yang pernah engkau tuntun dalam gelap.

Engkau tak meminta dikenang—
namun waktu sendiri
mematri namamu
di setiap jejak cahaya kami.

Kami takkan pernah sanggup membalas,
namun setiap helaan napas kami
adalah doa yang mengakar:

Semoga engkau ditinggikan
oleh langit yang dahulu
engkau turunkan
demi menegakkan kami.

Padang, Sumatera Barat, 2025

————————————–

Tentang Leni Marlina: Melangkah Bersama Sastra dari Ranah Minang, Nusantara, Menuju Dunia

Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat. Ia tumbuh dengan kecintaan pada kata dan keyakinan bahwa sastra termasuk puisi bisa menjadi jembatan kebaikan antar manusia. Sejak lama, ia melibatkan diri dalam kegiatan literasi, baik di lingkungan sekitar maupun di berbagai komunitas yang lebih luas.

Sejak tahun 2022, Leni bergabung dalam keluarga besar SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Ibu Sastri Bakry dan Bapak Armaidi Tanjung. Dalam lingkungan inilah ia banyak belajar dan tumbuh bersama rekan-rekan penulis lainnya.

Pada Mei 2025, Leni diberi kehormatan sebagai Penulis Terbaik Tahun Ini oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam acara Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3. Penghargaan ini ia terima dengan penuh rasa syukur, sebagai bentuk dukungan bagi semangat gotong royong dalam membangun budaya baca dan tulis di tanah air.

Di luar negeri, Leni menjadi bagian dari ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) yang dipimpin oleh penyair dunia Anna Keiko. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA, dan pada 2025 diberi amanah sebagai Ketua Perwakilan Asia dalam kelompok duta puisi ACC SHILA—sebuah kesempatan untuk mempererat jalinan budaya melalui puisi.

Tahun yang sama, ia juga bergabung dengan World Poetry Movement (WPM) Indonesia, yang dikordinasikan oleh Ibu Sastri Bakry, sebagai bagian dari gerakan puisi dunia yang berpusat di Kolombia.

Perjalanan Leni di dunia sastra internasional bermula saat menempuh studi S2 Menulis dan Sastra di Australia pada 2011–2013. Saat itu, ia menjadi anggota komunitas penulis di Victoria dan belajar dari banyak penulis lintas budaya.

Pada 31 Mei 2025, Leni dengan sejumlah komunitas yang dipimpinnya, bersama Achmad Yusuf (sebagai ketua), turut menyelenggarakan kegiatan Poetry BLaD (Peluncuran & Diskusi Buku Puisi) dan IOSoP (Seminar Internasional Online tentang Puisi) 2025, diamananahkan oleh Media Suara Anak Negeri News (di bawah pimpinan Paulus Laratmase) berkolaborasi dengan Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini adalah ruang bersama untuk berbagi semangat dan cinta terhadap literasi, kemanusian dan perdmaaian melalui karya saatra, puisi.

Sejak 2006, Leni mengabdi sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia mengajar dan membimbing mahasiswa di bidang bahasa, sastra, dan penulisan. Ia percaya bahwa pendidikan dan karya tulis dan karya kreatif adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Sejumlah karyanya dapat dibaca di: 🔗 https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/.

Sebagai bagian dari niat untuk berbagi, merangakul dan menjangkau lebih banyak hati, Leni juga memulai dan mendampingi sejumlah komunitas literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)

Melalui puisi, tulisan, dan kegiatan bersama, Leni berusaha untuk terus belajar, berbagi, dan menginspirasi—dengan keyakinan bahwa dari hal-hal kecil, makna besar bisa tumbuh. Ia melangkah tak sendiri, tapi bersama para guru, mentor, tutor, motivator, sahabat, komunitas dan pembaca budiman, Leni turut serta menyalakan lentera literasi dan sastra dari ranah Minang, Nusantara, menuju dunia.

Baca juga:

to-all-wise-teac…la-wpm-indonesia