Dua Wajah Satu Hati
Cerpen oleh Yusufachmad Bilintention
Anas menggigit sate kambing itu, merasakan daging dan lemaknya melumer di lidah seperti kenangan yang enggan dilupakan. Tindakan ini bukan kebiasaan seorang Anas—pria disiplin yang sejak kepergian orang tuanya menghindari lemak kambing, pantangan yang kini ia langgar tanpa ragu. Tiga puluh tiga tusuk sate ia lahap, seolah ingin menenggelamkan rasa sakit yang tak bisa diobati oleh obat apotek: bayangan istrinya yang terbaring lemah di rumah.
Istrinya, perempuan tangguh yang jarang mengeluh, kini hanya bisa berbisik lirih, “Sudah, Mas, berangkatlah bekerja. Aku nggak apa-apa.”
Anas mencium keningnya, lalu melangkah pergi dengan hati yang terbelah antara tanggung jawab dan rasa iba. Di kantor, layar laptopnya tak lagi menampilkan angka dan grafik, melainkan bayangan istrinya yang sakit. Tangannya kaku, matanya kosong, pikirannya hanyut.
Sampai sebuah pesan singkat membangkitkan denyut lama yang nyaris padam. Nama perempuan itu muncul di layar ponsel—nama yang pernah mengisi halaman diari dan mimpi-mimpi Anas. Ia membalas, “Assalamualaikum,” dan seketika menjadi seperti robot yang dioperasikan dengan kecepatan tinggi. Ia larut dalam euforia, melupakan sejenak rumah yang sunyi dan tubuh istrinya yang lemah.
Sebulan sebelumnya, Anas menerima tugas ke luar kota. Biasanya ia menolak, tapi kali ini ia pergi—entah karena dorongan istrinya, atau karena kunjungan mertuanya yang memberi ruang. Di sana, ia menghadiri rapat penting bersama manajer marketing se-Indonesia. Pemimpin rapat itu adalah perempuan muda, dua tahun lebih muda darinya, yang kini menjabat sebagai direktur utama perusahaan induk. Wajah itu, yang telah sepuluh tahun menghilang, kini nyata di hadapannya.
Kenangan masa kuliah menyeruak: Anas, mahasiswa serius yang dijuluki “pria tanpa bayangan perempuan”, akhirnya dekat dengan mahasiswi berprestasi dari jurusan lain. Persahabatan mereka tumbuh, meski tak pernah ada kata cinta. Hubungan itu terputus saat Anas menerima pekerjaan di luar kota.
Kini, perempuan itu kembali, bukan sebagai teman kuliah, tapi sebagai bos dan sahabat lama yang menyimpan rahasia hati. “Tidak selamanya cinta itu harus memiliki,” katanya saat makan malam. Anas bingung menjelaskan pada istrinya bahwa ia diminta menemani sahabat lamanya. Ia memilih alasan lama: rapat hingga malam.
Istrinya, meski sakit, merasakan ada yang berbeda. HP Anas kini seperti kantong kangguru—melekat erat ke mana pun ia pergi. Ia tidak mempersoalkannya, hanya berkata, “Mas, segera berangkat ke rapat, nanti terlambat.”
Di restoran, Anas salah tempat. Ia terlalu terpaku pada kilatan pesan WA hingga salah arah. Wajahnya memerah, pikirannya kacau. Di restoran yang benar, hawa dingin tak mampu menenangkan hatinya. Pelayan wanita berpakaian serba putih mengantarnya ke ruangan khusus. Warna putih, warna favorit Anas, selalu dikenakan oleh perempuan ayu itu—yang kini menjadi direktur utama dan pengganggu tidurnya.
Hidangan malam itu disusun dengan detail yang mengingatkan Anas pada rumah dan istrinya: kopi hitam dengan gula Jawa, sayur trancam, ketela, singkong, kentang, dan air hangat. Semua sesuai instruksi dari bosnya—yang ternyata masih mengingat selera Anas dan perhatian istrinya.
Kemudian, Ana, pelayan muda itu, menyerahkan kotak putih bersih. Di dalamnya, sebuah iPad merah muda menunggu untuk diaktifkan. Saat Anas menyalakannya, muncul rekaman suara bosnya, direkam khusus untuknya.
“Ku harap kamu tidak kecewa dengan keadaan ini,” suara itu bergetar, menembus jiwa Anas. “Aku sudah mencintaimu sejak lama, Anas. Dan sekarang, di ambang perubahan besar dalam hidupku, aku ingin kamu tahu kebenaran itu.”
Anas terdiam. Kata-kata itu seperti kilatan petir yang menyambar hatinya. Ia teringat masa kuliah, saat hampir mengungkapkan perasaannya, namun selalu terhenti oleh keraguan.
“Aku dan suamiku akan cerai,” lanjut suara itu, kini retak oleh emosi. “Dan di hari penting ini, aku ingin bersamamu, meski hanya sekejap.”
Anas menutup mata. Di luar, hujan turun, seolah langit ikut menangis. Ia berdiri, meninggalkan restoran yang sepi, berjalan di bawah guyuran hujan, membiarkan air mencuci wajahnya yang penuh kebingungan.
Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia harus kembali ke istrinya—perempuan yang telah bersamanya dalam suka dan duka, yang cintanya tak pernah goyah meski diuji waktu dan keadaan.
“Maafkan aku,” bisik Anas ke dalam hujan, sebuah janji untuk masa depan yang lebih jujur, untuk cinta yang lebih kuat, dan untuk hati yang tak lagi terbelah.