Dunia Adalah Tempat Yang Akan Menentukan Nasib Kita Di Akhirat Kelak
Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Senin , 03 Nopember 2025 .
(12 Jumadil Awwal 1447 H)
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah ,
Terlebih dahulu marilah kita bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan “imtitsaalul awaamir wajtinaabun nawahiih, menjalankan segala perintah Allah sejauh batas maksimal kemampuan kita.
Dan menjauhi segala larangan Allah tanpa terkecuali”.
Dan marilah kita bersyukur kepada Allah ﷻ, karena Allah masih berkenan melimpahkan nikmat terbesar yang diberikan kepada kita, yaitu nikmat waktu , nikmat Iman Islam dan nikmat sehat .
Dengan nikmat iman islam, kita bisa ringan tanpa beban menjalankan tuntunan Allah ﷻ.
Dengan nikmat waktu dan nikmat sehat, kita memiliki kekuatan melaksanakan perintah menjalankan ketaatan sesuai aturan Allah ﷻ.
Kehidupan dunia adalah fase yang penting dalam kehidupan manusia.
Karena dunia adalah tempat yang menentukan nasib seseorang di akhirat kelak.
Memang benar, bahwa hidup di dunia hanya sementara.
Yang abadi adalah kehidupan di akhirat.
Namun bila kita salah memahami dan salah mengambil sikap dalam kehidupan dunia, kesengsaraan abadi akan menjadi nasib kita kelak di akhirat.
Dunia berasal dari bahasa Arab, yang bermakna rendah.
Dunia adalah lawan dari akhirat.
Bahwa dunia adalah “maa zaada ‘anil haajat, sesuatu yang melebihi kebutuhan”.
Sebagai orang beragama, cara pandang tentang dunia selayaknya menyesuaikan dengan ajaran agama.
Terdapat banyak dalil Qur’an, hadits ataupun maqalah ulama terkait kehidupan dunia. Secara garis besar, dapat ditangkap pesan bahwa, Islam menghendaki agar seorang hamba tidak melupakan tujuan awal penciptaannya. Yakni diciptakan semata untuk beribadah kepada Allah.
Allah ﷻ telah menggariskan, agar hamba-Nya mengupayakan keseimbangan dunia dan akhirat.
Dalam QS. Al-Qashash ayat 77 Allah berfirman:
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu pahala di negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.
Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Nabi Muhammad juga menganjurkan doa agar mendapat hasanah fid dun-ya juga hasanah fil akhirah.
Sebagaimana tersirat dalam QS. Al-Baqarah ayat 201:
“Di antara mereka ada juga yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari adzab neraka.”
Ketika kita selalu berdoa memohon hasanah atau kebaikan di dunia maupun di akhirat, itu menunjukkan adanya semangat keseimbangan agar umat Islam ini bahagia di dunia maupun di akhirat.
Bukannya bahagia dunia namun celaka di akhirat.
Ataupun susah selama hidup di dunia dan diakhirat.
Dunia bermakna rendah, dalam bandingannya dengan kehidupan akhirat.
Dunia bersifat fana, tidak kekal, terbatas dan tidak selamanya.
Umat Islam meyakini adanya pertanggungjawaban atas perilaku selama di dunia.
Sehingga manusia tidak diperbolehkan berbuat semena-mena selama hidup di dunia.
Allah ﷻ berfirman dalam QS.Al-Ankabut ayat 64 :
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.
Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” Ayat di atas memperingatkan kita agar tidak terlena dengan kenikmatan dunia.
Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Dunia diumpamakan pula ladangnya akhirat.
Ad dun-yaa mazro’atul aakhiroh.
Dunia adalah tempat menanam.
Sedangkan akhirat adalah tempat memetik hasil dari apa yang ditanam semasa hidup di dunia.
Maka bahagia atau celakanya seseorang, tergantung dari baik dan buruk perbuatan yang dilakukannya di dunia.
Inilah harvest law yaitu hukum tabur-tuai.
Dunia adalah perantara menuju akhirat.
Di sini berlaku kaidah “lil wasaail hukmul maqoshid”.
Yaitu hukum/penilaian baik buruknya suatu perantara yaitu dunia, tergantung dari baik buruknya hal yang dituju yaitu akhirat.
Ketika yang dituju adalah surga dan ridha-Nya, maka baiklah kehidupan dunia.
Menginginkan surga dengan cara yang tidak diridhai Allah, membuat buruknya kehidupan di dunia.
Manusia diciptakan di dunia.
Maka perlu diusahakan agar kehidupan di dunia dipenuhi dengan ibadah.
Mulai bangun tidur hingga tidur lagi. 24 jam sehari, diupayakan bernilai ibadah.
Bekerjanya, makannya, tidurnya, belajarnya, bahkan rekreasinya, semuanya dibalut dengan ibadah. Makan diniatkan agar kuat beribadah.
Tidur diniatkan beristirahat melepas letih agar mampu kembali beribadah.
Bekerja diniatkan agar mampu mematuhi perintah Allah untuk hanya mengkonsumsi perkara yang halal.
Ibadah sendiri berkaitan erat dengan ketaatan.
Kehidupan dunia selayaknya diupayakan diisi dengan kepatuhan pada aturan Allah. Serta berusaha keras tidak melanggar aturan-Nya. Kemaksiatan, kejahatan, pelanggaran hak orang lain, adalah bentuk ketidaktaatan atas aturan Allah. Pelanggaran ini pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan dan penindasan di muka bumi.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari:
“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, :
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
Ketika meriwayatkan hadits ini, sahabat Ibnu Umar menerangkan:
“Jika kamu memasuki sore hari, maka jangan menunggu pagi hari.
Jika kamu memasuki pagi hari, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” Rasulullah ﷺ mengarahkan, agar kita memaknai kehidupan di dunia bagaikan pengembara, atau umpama sekadar menyebrang jalan.
Arahan nabi tersebut menyiratkan bahwa kita tidak selamanya hidup di dunia.
Dunia bukanlah segalanya.
Dunia menjadi penting karena perannya sebagai perantara menuju akhirat.
Seorang pengembara tidak selamanya tinggal di perantauan. Pasti ada selaksa niat untuk kembali pulang ke tempat asal.
Kembali ke kampung halaman.
Seorang hamba yang memahami posisinya di dunia yang bagai pengembara, pasti memiliki kesadaran untuk kembali ke tempat asalnya, di haribaan Allah ﷻ, dalam keadaan yang baik.
Setelah menimba amal baik di dunia.
Seorang penyeberang jalan, pastilah tidak berlama – lama di jalan.
Ia hanya sekedar lewat, sambil waspada seraya menengok kiri-kanan. Tujuannya adalah sampai ke ujung jalan, bukan berhenti di tengah jalan.
Orang Jawa memaknai hidup hanya sekedar “Mampir Ngombe” Bagaikan berhenti sebentar untuk minum air atau mung mampir ngombe “.
Berhenti sejenak melepas dahaga dan mengisi bekal.
Lantas melanjutkan perjalanan.
Terdapat perkataan ulama yang menyatakan bahwa dunia itu bagaikan bangkai.
Dan para pencarinya bagaikan anjing – anjing “Ad dun-yaa jiifah, wa thullabuhaa kilaab”.
Pernyataan ulama yang seakan meremehkan kehidupan dunia, bukanlah diniatkan untuk memupus semangat seseorang berusaha dan bekerja keras di dunia.
Pernyataan ulama tersebut dimaksudkan agar kita tidak menomorsatukan dunia dan lupa akhirat.
Dunia tetap penting didapat.
Bekerja penting untuk dikerjakan.
Namun mukmin sejati memahami mana yang washilah mana yang ghayah.
Mana yang hanya lantaran, mana pula yang menjadi tujuan utama.
Imam Abu Hanifah menyatakan:
“Dunia itu lebih sedikit daripada yang paling sedikit
Para pecinta dunia itu lebih rendah daripada yang rendah sihir dunia mampu membutakan dan membikin tuli telinga kita .
Mereka kebingungan tanpa ada petunjuk.” Anggapan Imam Abu Hanifah yang menganggap remeh dunia ini, tidak lantas membuat beliau abai dari bekerja mencari rezeki yang halal.
Beliau diketahui sebagai seorang pedagang kain sukses di tokonya di Kota Kufah.
Berdagang dengan tetap ifadah dan istifadah.
Imam Abu Hanifah sekadar memperingatkan betapa orang yang gandrung dunia lupa akhirat, adalah hal yang sangat membahayakan.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Rasulullah ﷺ memberi jalan tengah terkait perimbangan kehidupan dunia dan akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat imam al-Baihaqi Dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhu:
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya.
Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”
Sabda Nabi Muhammad ﷺ ini menyiratkan kita harus mengerahkan daya upaya terbaik, all out, baik untuk pekerjaan duniawi maupun ibadah ukhrawi.
Terlalu mementingkan dunia dan melupakan akhirat adalah celaka.
Beribadah semata tanpa bekerja, malah akan menjadi beban hidup keluarga dan orang sekitarnya. Malah membuat akhirat dicela karena perilakunya.
Mereka yang bahagia di akhirat, pastinya ditandai dengan kebahagiaannya selama hidup di dunia.
Walaupun tanpa bergelimang harta, namun berlimpah kemanfaatannya
bagi orang lain, bagi sesama, bagi sekitaran.
Inilah arti kecukupan dan kesyukuran.
Dunia memang perlu diisi dengan bekerja mencari kepuasan dunia, karena rezeki itu dari Allah ﷻ.
Namun, jangan sampai fokus pada hal itu saja.
Rezeki yang bukan takdirnya, tidak akan tergapai walau dikejar sekuat tenaga.
Dunia menjadi penting bila diarahkan menuju kebahagiaan akhirat. sebaliknya, dunia menjadi hina kala digunakan untuk kebahagiaan hidup yang hanya sementara dan fana.
Semoga kita dijadikan Allah ﷻ sebagai hamba yang mampu meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat:
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته