Gelombang PHK Hantam Industri Penyiaran Televisi
Eko Wahyuanto)*
–
Industri penyiaran televisi nasional saat ini sedang menghadapi ancaman serius. Setelah rubrik olahraga pagi Kompas TV resmi menutup siarannya, Inews menyatakan penghentian kantor bironya di berbagai daerah. Beberapa stasiun televisi ancang-ancang untuk mengambil keputusan serupa. Dengan tujuan, agar tetap dapat bertahan ditengah gempuran krisis yang terus menghadang. Badai Pemutusan Hubungan Kerja PHK yang terjadi saat ini bukanlah fenomena baru. Sebelumnya PHK sudah mengguncang beberapa stasiun televisi lain, seperti TV One, CNN Indonesia. Bahkan, MNC melakukan konsolidasi dari 10 pemimpin redaksi menjadi hanya 3. Sekali lagi, hanya karena satu tujuan, yakni efesiensi untuk tetap bertahan hidup.
Krisis Finansial dan Pergeseran Perilaku
Krisis ini sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak satu dekade lalu. Ketika media cetak mengalami guncangan serupa. Surat kabar legendaris sekelas Sinar Harapan, Jakarta Globe, hingga Republika satu per satu berangsur memperkecil oplahnya, bahkan sebagian menghentikan produksinya. Ongkos produksi tinggi dan tersendatnya distribusi ikkan ditengarai sebagai pemicu utama. Diperburuk oleh pergeseran perilaku orang dalam bermedia memperparah krisis finansial di internal manajemen. Publik beralih ke platform digital, seperti layanan streaming dan media sosial, sehingga mengurangi kebutuhan akan siaran televisi konvensional.
Dulu, “rating” dan “prime time” televisi menjadi “dewa marketing”. Konsep itu dipatahkan dengan algoritma dalam sistem digital yang mudah terdeteksi. Didukung format media “on demand” dimana pengguna memiliki kebebasan memilih sendiri waktu dan konten sesuai kebutuhan. Netflix, YouTube, hingga kanal TikTok dengan algoritma personalisasi telah menggeser “otoritas siaran” dari ruang redaksi ke ruang privat para konten kreator. Di sisi lain, berita dan informasi cepat dikonsumsi dalam bentuk potongan video berdurasi pendek, live streaming, atau konten naratif ringan di media sosial.
Transformasi dan Adaptasi
Sebenarnya, peluang media konvensional masih terbuka, terutama bagi televisi dan radio. Untuk dapat bertahan kedua institusi tersebut harus mampu bertransformasi. Beradaptasi dalam konsep penyiaran media baru atau “new media”. Sayangnya, banyak diantara mereka yang terlambat, akibat hambatan internal, terutama kebijakan manajemen. Pertimbangannya karena manajemen telah melakukan investasi besar-besaran dalam pengadaan infrastruktur. Parahnya pengadaan dilakukan dari dana pinjaman atau “loan” yang harus dikembalikan dalam jangka tertentu. Jika harus secepatnya meninggalkan peralatan dan model bisnis lama, dapat mengakibatkan kerugian besar
Memang, ada beberapa pemodal yang langsung beradaptasi dengan berinvestasi dalam digitalisasi konten, membangun kanal YouTube, menyusun strategi media sosial, atau membentuk tim kreator lintas platform.
Bandingkan dengan kreator independen seperti Deddy Corbuzier, Arief Muhammad, atau Gritte Agatha yang memiliki jutaan penonton setia dan penghasilan dari endorsement maupun AdSense. Mereka tidak perlu gedung kantor, peralatan mahal, kru besar, dan lisensi siaran, namun bisa menciptakan program TV melalui ruang digital.
Ancaman Jurnalisme
Ada ancaman besar ketika jurnalisme profesional dikalahkan oleh konten media sosial. Akurasi, keberimbangan, dan verifikasi bisa tergantikan oleh clickbait, sensasionalisme, dan opini subjektif. Jika televisi sebagai media yang dulunya menjaga standar jurnalistik, kini telah kehilangan daya ungkitnya. Informasi publik makin terfragmentasi, cenderung bias, dan dangkal.
Menurut Profesor Robert W. McChesney, seorang ahli komunikasi dari University of Illinois, “The future of journalism is uncertain, but one thing is clear: the traditional business model of journalism is broken.” Masa depan jurnalisme tidak pasti, tapi satu hal yang jelas: model bisnis jurnalisme tradisional sudah rusak.
Sementara itu, Jeff Jarvis, seorang ahli media digital, mengatakan bahwa “The key to survival for traditional media is to adapt to the digital age and to find new ways to engage with audiences.” Kunci untuk bertahan bagi media tradisional adalah beradaptasi dengan era digital dan menemukan cara baru untuk berinteraksi dengan audiens.
Mengubah Paradigma
Solusinya bukan sekadar “go digital”, tapi juga mengubah paradigma. Televisi harus melihat dirinya bukan lagi sebagai stasiun siaran, tapi sebagai “content provider” atau produsen narasi. Platform boleh berubah, tetapi kaidah jurnalisme harus tetap terjaga. Perlu membangun kolaborasi dengan kreator digital lain dan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk pengembangan program dan data analitik, serta penguatan melalui kanal media sosial.
Seperti halnya media cetak yang gagal beradaptasi lalu tumbang, televisi pun akan bernasib serupa jika terus bertahan pada cara lama. Tapi bagi yang mampu bertransformasi, krisis ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru. Televisi tak harus mati—ia hanya perlu berevolusi. Seperti yang dikatakan Darwin, bukan yang terkuat yang bertahan, tapi yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.
PHK kali ini menjadi sinyal bahwa kedepan restrukturisasi besar-besaran bisa jadi melanda semua stasiun televisi. Maka tak ada pilihan lain bagi televisi kecuali harus memperkuat kualitas konten digitalnya dan melakukan kolaborasi dengan perusahaan media lain untuk menciptakan ekosistem media terintegrasi.
Hanya media televisi yang kuat dan mampu beradaptasi yang dapat bertahan di era digital ini.
*(Eko Wahyuanto Dosen Manajemen Produksi STMMTC Yogyakarta.