May 10, 2026

Era Nurza

I. Guru Bukan Beban

Di ruang rapat para petinggi
kata-kata meluncur seperti pisau
menyebut guru beban
seakan pengetahuan hanya angka dalam neraca
bukan api yang menerangi gelap bangsa

Apakah lupa
bahwa dari kapur yang menipis
lahir peradaban yang tak pernah habis?
Bahwa di balik papan tulis kusam
tercipta jalan bagi ilmu
bagi mereka yang kini duduk di kursi kuasa?

Guru bukan beban
mereka adalah akar yang menahan tanah agar tak longsor
mereka adalah jembatan
yang rela retak agar generasi bisa menyeberang

Jangan samakan gaji dengan harga diri
jangan hitung dedikasi dengan kalkulator anggaran
Sebab satu kata dari guru
bisa menumbuhkan harapan lebih tinggi
daripada seribu pidato pejabat

Jika guru disebut beban
maka bangsa ini sesungguhnya sedang memikul
kebodohan dalam wajah yang tersenyum.

Padang, Agustus 2025

II. Guru adalah Cahaya

Kata mereka, guru beban
padahal dari tangan guru
lahir mereka yang kini berkuasa
Jika ilmu dianggap angka
maka bangsa hanya jadi pasar
bukan peradaban

Guru bukan beban
guru adalah cahaya
tanpa mereka, negeri hanya gelap
dengan pejabat yang pandai bicara

Padang, Agustus 2025

III. Beban Melahirkan Segalanya

Katamu, kami hanyalah beban
padahal di pundak kami
seluruh buku bangsa ditopang
seluruh huruf sejarah dipahat
seluruh angka masa depan disusun

Jika guru adalah beban
maka siapa yang mengajar lidahmu
mengeja kata “ekonomi”?
siapa yang menuntun jarimu
menulis tanda tangan di atas kertas kuasa?
Kami ditertawakan oleh kebijakan
dijuluki beban oleh mulut kekuasaan
padahal justru beban terberat negeri ini
adalah mulut yang tak tahu rasa hormat
dan pikiran yang lupa sejarah pendidikannya sendiri

Biarlah kami tetap beban
beban yang melahirkan cahaya
beban yang tak bisa ditimbang dengan rupiah
beban yang akan selalu dikenang
meski para penguasa berganti seribu nama
Sebab tanpa “beban” bernama guru
bangsa ini hanyalah papan kosong
yang tak tahu bagaimana caranya
menjadi manusia

Padang, Agustus 2025

IV. Kenapa, Guru Hanya Beban?

Katamu, guru hanyalah beban
Kalimat itu jatuh seperti palu yang memukul wajah sejarah
menggetarkan ruang kelas yang berdiri di atas keringat
dan meremukkan papan tulis yang pernah menuliskan namamu
dengan huruf-huruf sederhana: A-B-C.

Apakah lupa engkau
bahwa tangan yang kau sebut beban
pernah mengajari tanganmu menulis angka pertama?
Bahwa suara yang kini kau rendahkan
pernah melatih lidahmu mengucap kata “bangsa”?

Guru bukanlah beban
Guru adalah fondasi yang sering dilupakan
tiang yang sengaja ditutupi tirai anggaran
namun tetap kokoh menyangga atap peradaban

Jika guru beban
maka siapa yang memikul bangsa menuju cahaya?
Menteri kah?
Kursi jabatan kah?
Anggaran triliunan yang bocor di jalan kah?
Atau barangkali,
retorika kosong yang hanya pandai menyusun kalimat
tanpa tahu rasa hormat?
Kami para guru adalah beban-
beban yang rela menggendong anak-anak negeri
melewati jurang ketidaktahuan
beban yang menyalakan pelita
meski minyak lampunya sering dibiarkan padam

Jika beban ini benar-benar diletakkan
jika guru berhenti menjadi “beban”,
maka bangsa ini akan roboh
menjadi tubuh tanpa tulang
menjadi kapal tanpa nahkoda
menjadi negeri yang kehilangan arah

Maka tanyaku:
Jika guru beban
siapa yang sesungguhnya menjadi beban bangsa ini?
Guru yang digaji seadanya namun tetap setia
atau lidah penguasa yang mengkhianati jasanya?

Padang, Agustus 2025