Habibie: Tauldan Yang Baik Seorang Pemimpin
Elza Peldi Taher
–
Habibie dilantik jadi presiden dalam suasana huru hara 1998. Dalam 21 bulan singkat kepemimpinannya, ia mengukir prestasi yang tak bisa ditandingi oleh para penggantinya. Habibie adalah paradoks: seorang teknokrat yang dipaksa menjadi politikus, seorang inovator yang terjebak dalam pusaran intrik.
Habibie tiba di kursi kepresidenan dalam keadaan genting. Mei 1998, Soeharto tumbang setelah 32 tahun berkuasa. Ia turun takhta dalam kepungan demonstrasi dan tekanan ekonomi yang menyesakkan. Habibie, wakilnya yang selama ini lebih dikenal sebagai insinyur pesawat, naik menggantikan sang mentor. Tapi ini bukan estafet biasa. Habibie menerima amanah dalam suasana muram, dibayang-bayangi penolakan dari dalam dan luar negeri. Militer mencurigainya, partai-partai lama meremehkannya, sipil mencurigainya sebagai warisan Orde Baru, dunia internasional tak memberinya tempat.
Soeharto, orang yang dulu membesarkannya, justru menutup pintu rapat-rapat. Sejak lengser, mantan penguasa Orde Baru itu enggan bertemu dengan Habibie, bahkan hingga akhir hayatnya. Bukan hanya Soeharto, keluarga Cendana pun menjaga jarak. Habibie seperti anak sulung yang tiba-tiba diusir dari rumahnya sendiri.
Militer pun tak sejalan. Wiranto, Panglima ABRI yang merangkap Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, berkali-kali absen dari sidang kabinet. Itu bukan sekadar lupa jadwal, melainkan pesan terang bahwa sang presiden tak sepenuhnya diakui oleh barisan seragam loreng.
Namun, Habibie sangat percaya diri dan jenius. Ia membuka keran demokrasi lebar-lebar. Demokrasi dibuka lebar, Partai politik tumbuh bak cendawan di musim hujan. Kebebasan pers mekar tanpa perlu surat izin seperti di masa Orde Baru. Tahanan politik dibebaskan. Ia sadar, demokrasi tak akan hidup jika ekspresi dibungkam. Bagi Habibie, kebebasan adalah pondasi. Itu keyakinan yang ia bawa pulang dari Jerman, negeri yang membentuknya sebagai insinyur kelas dunia.
Satu kehebatan lain terjadi di pasar keuangan. Rupiah yang sempat terjerembab hingga Rp16 ribu per dolar Amerika, tiba-tiba pulih ke angka Rp8 ribu. Ini terjadi ketika dunia internasional tampak enggan menerima Habibie. Singapura, tetangga kecil yang biasa sibuk berbisik ke Jakarta, justru menutup pintu komunikasi. Tapi mata uang tetap membaik, seolah pasar lebih percaya pada kerja teknokrat dibandingkan manuver politisi. Setelah lengser rupiah kembali terkulai lemah.
Puncak kejeniusannya datang ketika ia menggelar referendum untuk Timor Timur. Habibie sadar, dunia tak pernah mengakui provinsi ke-27 itu sebagai bagian sah dari Indonesia. Harga yang dipertaruhkan terlalu mahal. Keputusan itu seperti menabuh genderang di tengah hutan belantara. Banyak yang menentangnya, terutama dari kalangan militer. Tapi ia maju terus. Bagi Habibie, nyawa manusia lebih berharga daripada ambisi geopolitik. Maka, Timor Timur pun lepas, membawa luka di hati sebagian orang, tapi sekaligus menghindarkan Indonesia dari perang tanpa akhir.
Secara mengejutkan aat sidang pertanggungjawaban di MPR, laporan kerjanya ditolak. Itu tamparan telak bagi seorang pemimpin yang merasa telah menunaikan tugasnya dengan baik. Bukannya melawan atau mencari jalan tikus untuk bertahan, Habibie memilih mundur. Ia tak ingin bertarung di panggung politik yang kotor. Jika mau ia masih bisa bertarung dalam pemilihan presiden, tapi ia langsung memutuskan mundur. Ia seorang negarawan sejati.
Kenegarawanan Habibie teruji saat sidang MPR. Sebelum sidang, ada gerilya terbuka untuk menjatuhkan Habibie. Ada orang atau kelompok orang yang bersedia membayar dalam jumlah besar jika mereka menulis yang buruk tentang Habibie dan masuk media nasional. Makin mentereng media itu, makin banyak imbalannya. Tak heran banyak penulis dan kolumnis terkenal juga ikut-ikutan menulis demi uang.
Selama Sidang Umum MPR, tiap kali Habibie datang, ada kelompok anggota DPR yang diorganisir meneriakkan kata “Huu” sepanjang sidang. Itu terjadi saat ia datang, duduk, berpidato, dan saat pulang. Mereka tak punya adab melakukan hal itu di gedung rakyat yang ditonton oleh jutaan orang.
Tapi Habibie membalas semua itu dengan senyum, sesuatu yang jadi khasnya. Ketika serah terima jabatan, Habibie tetap datang menyerahkan jabatan ke penggantinya, meski ia terus mendapat cemooh dari manusia yang kurang adab di dalam gedung yang penuh intrik itu. Tak tampak sakit hati sedikit pun. Ia turun dengan khusnul khatimah, akhir yang baik. Berkuasa pendek tapi membawa Indonesia ke gerbang demokrasi yang sesungguhnya.
Setelah turun, Habibie benar-benar menepi. Tak ada ambisi kembali, tak ada manuver untuk merebut kuasa, tak ada cawe cawe Habibie adalah contoh langka di negeri ini: seorang mantan presiden yang memilih jadi rakyat biasa. Habibie meninggal dunia pada 11 September 2019. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, di samping istrinya, Ainun. Makamnya selalu ramai oleh pengunjung, bukti bahwa ia begitu dicintai. Ia pergi dengan tenang, tapi cahayanya tetap berpendar. Nama Habibie bukan hanya tercatat dalam buku sejarah, tapi juga di hati banyak orang yang melihatnya sebagai presiden yang tak lama berkuasa, tapi meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus zaman.
Pondok Cabe udik 7 Februari 2025
Elza Peldi Taher