Hijrah
Karya Arsiya Oganara*
Hijrah, perpindahan dari tantangan, rintangan, tekanan, penghinaan, ancaman, penderitaan, dan kesulitan.
Yaa Rosulallah, tanda kelahiranmu penuh makna bagi dunia yang terpana melihat keajaiban nyata.
Tahun gajah sebutannya, saat Abraha dari ujung negeri nan jauh menampakkan angkara murka menghancurkan Ka’bah.
Namun Allah jua yang menjaga hambanya, ancaman sirna seketika, tipu daya mereka sia-sia belaka.
Burung Ababil tantara-Nya meluluh lantakkan durjana dengan bara panas neraka laksana daun-daun dimakan hewan melata.
Yaa Nabiallah
Perpindahanmu dari tantangan orang-orang penentang kebenaran hakiki, rintangan silih berganti, tekanan tiada henti.
Ancaman merenggut jiwa dan raga, penderitaan tiada habisnya serta kesulitan bukan alang kepalang selalu datang.
Yaa Habiballah
Budi pekertimu indah dirasa setiap manusia, keturunan dari orang-orang mulia, tiada satupun tindakan mu yang membuat kecewa, mereka menyebutmu al Amin yang dapat dipercaya.
Ucapanmu dapat dipercaya bagi siapa saja yang mendengkarnya, wajahmu penuh pesona bagi semua dahaga, senyummu menyejukkan hati laksana tetesan air di padang pasir di bawah terik matahari yang membakar kulit.
Aroma tubuhmu wangi semerbak bunga dari surga, menebarkan kehangatan di tengah kekakuan beku.
Namun dirimu terusir dari tempat dimana engkau bercengkrama dengan keluarga tercinta hanya berbeda keimanan.
Keangkuhan pendurhaka pada Sang Mahakuasa tak sedikitpun memandang kebaikan tampak jelas di depan mata.
Kiranya mereka lupa tanda kelahirmu dengan segala keanehannya, terus saja derita mengalir deras laksana banjir bandang di tempat gersang.
Petualangan ke negeri nun jauh Habasyah Ethiopia awali langkah umatmu agar telepas dari jerat siksa.
Ternyata mereka semakin menjadi-jadi menyiksa, kotoran manusia ditumpahkan ke kepala saat kau sujud sebagai hamba di depan Ka’bah.
Saat dakwah lemparan batupun kau terima hingga darah mengalir sedih meninggalkan tubuhmu, tak hanya itu lubang kuburpun tersedia.
Yaa Muhammad
Hijrahlah ke Madinah, lalui kepungan rumahmu, perjungan dan perjalanan melelahkan namun pertolongan selalu datang.
Gua Hiro menjadi bentengmu ketika mereka masih saja pada niat pertama mematikan cahaya-Nya.
Laa tahzan innallaha ma’anaa, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita, ketenangan seketika membalut hati yang lara, kekuatan menyelimuti raga yang nestapa.
Mereka ingin memadamkan cahaya-Mu maka Engkau kembali menghidupkan cahaya itu.
Akhirnya, ketentuan-Mu jualah mengalahkan semua tipu daya.
Bandar Lampung Rabu, 27 November 2024
*Profil Penulis:
Arsiya Heni Puspita – Arsiya Oganara adalah nama penanya. Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dengan hobi membaca dan travelling. Hobi ini pula yang mengantarkannya menjadi professional Journalist yang sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan dinyatakan Kompeten serta Professional Tourist Guide dan Professional Tour Leader, Licensed and Certified dari Disparekraf DKI Jakarta dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Indonesia.
Saat ini mulai merambah ke dunia sastra dan kegemarannya menulis tersalurkan dengan menulis cerpen, puisi, puisi esai, dan lainnya.
Arsiya Oganara sangat senang bertemu dengan orang baru, persahabatan bisa dilakukan melalui medsosnya. FB: Arsiya Heny Puspita. IG: arsiyahenyhdl. Email: hennyarsiya@gmail.com