April 25, 2026

Oleh Herry Tjahjono

Di dunia yang tak adil dan sering kali kejam, seorang anak yang dipanggil Ibnu telah menjadi lambang kehidupan paling pilu dari kalimat:
“hidup ini seperti mimpi buruk yang tidak pernah selesai dan terbangunkan.”

Tri Ibnu Rusdi baru berusia 16 tahun. Anak lelaki pemalu yang lebih sering duduk di beranda dengan buku komik daripada bermain di jalan. Yang setiap malam mengintip jendela, menunggu kakaknya–Cika–pulang dari kuliah, lalu tertawa bersama sambil berebut charger ponsel.

Tapi suatu hari, Cika tak pulang. Dan malam-malam pun berubah menjadi buku sunyi yang berat untuk dibaca. Hari-hari berubah menjadi tanya yang tak kunjung terjawab. Ibnu dan kedua orang tuanya menyusuri kampung demi kampung, kota demi kota, menyebar poster wajah Cika, mengetuk pintu demi pintu–namun tak satu pun kabar datang–kecuali kebisuan.

Ayah Ibnu mulai sering mematung di depan rumah, menatap jalanan yang sama setiap hari. Seolah yakin, Cika akan muncul dari sana dengan senyum yang sama seperti dulu. Tapi sebelum keajaiban itu datang, sang ayah pergi–meninggal dunia dalam diam–membawa luka yang tak pernah sempat dikeringkan.

Ibnu memeluk ibunya malam itu, tubuh mereka gemetar dalam dekap kesepian. Mereka hanya berdua kini–saling menjadi perahu bagi satu sama lain–agar tidak karam dalam gelombang kehilangan.

Namun hidup, entah mengapa, belum puas mengiris hati Ibnu.

Beberapa waktu lalu, sebuah berita pembunuhan terungkap. Pelakunya tertangkap, dan dalam pengakuannya, ia menyebut satu nama yang selama ini hanya hidup dalam harapan: Cika. Dialah yang membunuhnya. Jasad Cika dibuang ke sumur tua di belakang rumah pelaku.

Satu tahun lebih penuh penantian itu ternyata sia-sia. Bukan karena Cika tak berusaha pulang–tetapi karena ia telah lebih dulu dipaksa diam di kedalaman tanah, bersama tulangnya yang membisu.

Ibnu ikut saat ibunya dan polisi menuju sumur itu. Tapi sebelum sampai ke tempat di mana sang anak dibuang seperti sampah, ibunya roboh. Pingsan. Dan tak lama kemudian, menyusul kepergian ayah dan kakaknya.

Ibnu melihat semua itu, dengan matanya sendiri. Tanpa sempat menjerit. Hanya berdiri, kaku, seperti bayangan yang terputus dari tubuhnya.

Bagaimana mungkin seorang anak seusia itu menanggung luka sebesar dunia?
Bagaimana caranya menjahit ulang hati yang robek tiga kali dalam waktu relatif singkat–oleh kakak, ayah, dan kini ibu?

Tapi di sinilah, barangkali, pelajaran tertinggi dari hidup yang terlalu dini mengajarkan duka: bahwa tidak semua kehilangan dimaksudkan untuk bisa diraih kembali–sebagian hanya untuk dirawat dalam ingatan dan diterima dengan doa.

Untuk Ibnu–jika suatu hari kau membaca ini–ketahuilah, kamu mungkin telah kehilangan keluarga, tapi belum kehilangan arah. Kamu adalah penjaga terakhir dari cinta mereka. Dan selama kamu masih hidup, cinta itu, cinta mereka masih berdenyut.

Kamu boleh menangis, Ibnu–sebab dunia ikut menangis bersamamu. Kamu tak akan menangis sendirian.
Tapi bila suatu hari kamu kuat, kuatlah bukan untuk membalas dunia, tapi untuk menjadi lentera bagi mereka yang hampir tenggelam sepertimu.

Untuk bangsa ini, yang terlalu sering menonton duka sebagai statistik, inilah panggilan untuk bangun. Karena tragedi seperti ini bukan sekadar berita, tapi peringatan–bahwa kejahatan bisa tumbuh di halaman kita sendiri, jika tak ada yang menjaga. Bahwa luka seperti milik Ibnu harusnya tak perlu ada–jika kita lebih peka, lebih peduli, lebih manusia.

Dunia boleh gelap, Ibnu. Tapi percayalah, satu pelita kecil bisa menyalakan harapan. Dan mungkin, 𝗽𝗲𝗹𝗶𝘁𝗮 𝗶𝘁𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶.