April 18, 2026

Inkulturasi Budaya Tanimbar Warnai Perayaan Paskah Tanempar Dalam Lese di Gedung Bangladesh Tangerang

(Oleh Bruno Rumyaru)

 Jakarta – Suara Anak Negeri News.Com,- Minggu, 27 April 2025 menjadi hari istimewa bagi paguyuban Tanempar Dalam Lese (TDL). Sekitar 150-an warga yang menamakan diri sebagai orang Tanimbar hadir dalam perayaan Paskah Bersama yang diselenggarakan di Gedung/Rumah Makan Bangladesh, Bumi Indah Tahap 2, Pasar Kemis, Tangerang. Mereka datang bersama keluarga, mulai dari anak bayi hingga orang lanjut usia.

“Maline bermir kateman silai” atau “Damai sejahtera bagi kamu semua”, menjadi tema perayaan, yang diambil dari Injil Yohanes (20:21). Ayat emas ini dipilih untuk memperingati Minggu Kerahiman Tuhan, yakni Minggu kedua setelah Paskah menurut kalender liturgi Gereja Katolik. Perayaan Ekaristi dikemas dengan nuansa budaya Tanimbar melalui misa inkulturasi yang dipimpin oleh RP. John Johanes Richard Yempormase, OSA, sebagai selebran utama.

Misa tersebut diperkaya dengan penggunaan bahasa Yamdena dan Fordata, serta busana tradisional Tanimbar. Lagu-lagu liturgi dan tarian yang dibawakan oleh kelompok penari juga mencerminkan kentalnya budaya asal mereka. Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) sendiri merupakan bagian dari Provinsi Maluku dan dikenal sebagai salah satu kabupaten terluar di wilayah timur Indonesia. KKT memiliki 10 kecamatan dan pada tahun 2025, jumlah penduduknya diperkirakan mencapai 132.317 jiwa, menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku.

Komposisi agama di KKT menunjukkan mayoritas Kristen (61,16%), dengan Katolik mencakup sekitar 33,06% dari populasi, dan sisanya merupakan pemeluk Islam, Buddha, dan Hindu. KKT dikenal sebagai “Pintu Masuk” Indonesia dari arah timur, dengan keragaman bahasa daerah seperti Fordata, Yamdena, Wermatan, dan Makatian. Bahasa Fordata dipakai di wilayah utara sebagai bahasa adat, sedangkan Yamdena digunakan di pulau utama dengan bahasa lokal lainnya yang hidup di pulau-pulau kecil.

Dalam khotbahnya, Pastor John mengajak, “Perayaan Paskah Tanempar Dalam Lese, di Hari Minggu Kerahiman ini mengajak kita semua untuk bersatu hati, menyatukan pikiran, melepaskan ego kita masing-masing supaya bisa merangkul semua pihak warga Tanimbar yang ada di perantauan, kota Jakarta, Tangerang dan sekitarnya….”

Usai Ekaristi, acara berlanjut dengan makan siang bersama dalam konsep potluck. Semua peserta membawa makanan dari rumah masing-masing untuk disantap bersama. Kelompok ibu-ibu menyiapkan minuman dan hidangan khas Tanimbar, seperti nasi merah, makanan tanah, hingga lauk-pauk favorit para peserta.

Menurut Bp. Etus Fasak, kegiatan ini menjadi tonggak awal bagi umat Katolik asal Tanimbar di wilayah Tangerang yang ingin membangun kembali kebersamaan dan solidaritas. Paguyuban Tanempar Dalam Lese dibentuk sejak Januari 2025 melalui aklamasi untuk menunjuk para pengurus awal. Selain itu, ditetapkan pula koordinator untuk setiap kampong di Kepulauan Tanimbar, demi memperkuat koordinasi dan keterlibatan warga.

Paguyuban ini bukan sekadar wadah pertemuan, tetapi juga sarana untuk mengenalkan dan melestarikan budaya Tanimbar melalui bahasa, lagu, dan tari. Hal ini sangat penting, terutama bagi anak-anak yang lahir dan besar di luar Tanimbar agar tetap mencintai akar budayanya. Budaya Tanimbar diharapkan bisa menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan liturgi di gereja, sebagaimana yang disampaikan Sr. Petra Oru, MM, biarawati dari Tarekat Maria Mediatrix, asal Larat.

“Umat Katolik asal Tanimbar bisa juga berpartisipasi dalam kehidupan liturgi di gereja dengan lagu dan tarinya seperti yang ditunjukkan oleh anggota umat dari budaya lain,” ujarnya.

Kontribusi aktif warga Tanimbar di perantauan diharapkan tidak hanya memperkaya kehidupan budaya dan iman mereka sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi masyarakat luas melalui karya dan kehadiran yang positif. Sukacita Paskah ditutup dengan acara santai penuh kegembiraan dendang ria, joget, dan wayase seperti layaknya orang Tanimbar berpesta dalam suasana penuh suka cita.