Isak Fasse Klarifikasi Polemik Lahan di Depan Gereja GBI Milos Saumlaki
Oleh : joko
Sengkarut Batas Lahan Gereja GBI Milos: Isak Fasse Beri Penjelasan
“Saya masih normal, bukan gila lalu harus tutup depan gereja,” ujar Isak Fasse menanggapi polemik tersebut dengan nada tenang. Klarifikasi ini disampaikan dalam semangat transparansi dan menjunjung komunikasi damai antara warga dan tokoh agama.
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Kamis 7 Agustus 2025 – Isak Fasse (50), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Dinas SDA, Bina Marga, dan Bina Konstruksi Kabupaten Kepulauan Tanimbar, akhirnya angkat bicara terkait kabar yang beredar soal rencana pembangunan kos-kosan di depan Gereja GBI Milos Saumlaki.
Dalam wawancara eksklusif yang dilakukan oleh media Suara Anak Negeri dan RRI, Isak memberikan klarifikasi langsung agar informasi yang beredar tidak simpang siur di tengah masyarakat.
Kronologi Singkat
Informasi awal diterima dari Gembala GBI Milos, Pdt. Heberth Wahilaitwan, yang menyebutkan bahwa pada Rabu, 30 Juli 2025 sore menjelang malam, Isak Fasse datang ke lokasi depan gereja dan menyatakan bahwa tanah tersebut adalah miliknya.
Ia juga dikabarkan menyampaikan rencana membangun kos-kosan di lahan tersebut, yang berada tepat di depan pintu masuk gereja. Ucapan ini disebut-sebut disampaikan dengan nada cukup tegas.
Penjelasan Isak Fasse: “Itu Warisan Orang Tua Saya”
Saat diminta konfirmasi, Isak Fasse menyatakan dengan tenang bahwa tanah tersebut adalah milik pribadinya, warisan dari almarhum Bapak Filipus Fasse, orang tuanya.
“Saya tidak punya sertifikat, tapi bukti saya adalah pohon kelapa produktif yang masih berdiri. Itu hasil keringat orang tua saya,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pagar gereja sudah masuk sekitar 4 meter ke arah lahannya, namun ia tidak mempersoalkannya secara kaku.
“Pendeta janji mau bayar, saya setuju dibayar pelan-pelan. Ini kan gereja, tidak bisa dipaksakan. Saat beli tanah juga dulu dicicil, saya juga mengerti. Saya orang yang paling baik,” ucap Isak sambil tersenyum.
Tentang Pembangunan Kos-Kosan: “Tidak Mungkin Saya Lakukan Itu”
Terkait kabar rencana pembangunan kos-kosan, Isak menegaskan bahwa hal itu tidak benar.
“Tidak mungkin saya lakukan itu. Semua yang beli tanah dari saya juga cicil. Saya baik untuk semua orang. Kita mati juga tidak bawa tanah. Siapa tahu kita bertemu di mana saja tentunya bisa saling menyapa,” ujarnya menanggapi isu yang berkembang.
Akses Jalan dan Komunikasi: “Tergantung Pendeta, Saya Terbuka”
Saat ditanya soal komunikasi lebih lanjut dengan pihak gereja, khususnya mengenai akses jalan umum di depan gereja, Isak merespons terbuka.
“Tergantung pendeta saja, bisa ada niat baik kepada saya. Saya tetap berniat baik. Harga tanah juga terserah pendeta saja. Yang penting ada keterbukaan hati,” pungkasnya.
Harapan Media: Transparansi dan Dialog Terbuka
Media ini berharap agar kedua belah pihak, baik Isak Fasse maupun Pdt. Heberth Wahilaitwan, dapat terus membuka ruang komunikasi yang beretika, terbuka, dan penuh hormat, sehingga persoalan seperti ini tidak berkembang menjadi konflik sosial.
Kami juga menyampaikan apresiasi atas kesediaan Bapak Isak Fasse yang telah memberikan penjelasan secara terbuka dan bersahabat.
Semoga langkah ini menjadi contoh penyelesaian konflik warga dengan pendekatan dialogis dan damai, demi menciptakan lingkungan yang rukun dan saling menghormati.
Reporter:
Joko | Wartawan Suara Anak Negeri
Liputan bersama RRI – Saumlaki, 2025