April 21, 2026

Yusufachmad Bilintention

Gagak-gagak kembali bertengger di genting rumah tetanggaku,
seperti bayang-bayang hitam dari Nyamplungan yang dulu—
saat virus menyerbu, tak bertepi, tak berampun,
peluru-peluru sunyi menembus malam,
dan aku terpaku: meramu, mengenang, menerka,
meramal—akankah mereka menetap di kampungku selamanya?

Mata-mata gagak menyisir suara, cerita, dan rintih yang tak terucap.
Paruhnya mematuk genting, mengikuti irama tahlil
yang terus mengalun setiap malam,
entah malam keberapa, entah bulan keberapa,
karena siul maut itu tak pernah benar-benar diam.
Ia bergema dari gang ke gang,
mengalun dari satu sunyi ke kehilangan,
dari kehilangan harap yang tertahan.

Tiba-tiba gagak bersiul, berdendang tentang kepulangan:
ada yang pulang membawa cerita,
anak mantunya menyisakan luka.
Ada yang pulang tanpa peduli,
karena tubuhnya sudah renta dan jiwa tak lagi bersuara.
Ada yang pulang dengan bahagia,
harta dan tahta di tangan, meski tak membawa apa-apa.
Ada pula yang pulang dengan bayangan wajah wanita,
rupawan, tak tergantikan, tak terjamah waktu.

Ada yang pulang dalam diam, tak ada yang tahu, tak ada yang menunggu.
Ada yang pulang dengan tangis tertahan, janji belum ditepati.
Ada yang pulang diratapi, namanya disebut dalam doa dan air mata.
Ada pula yang pulang tanpa nama, hanya angka dalam berita.

Dan gagak lainnya mematuk genting,
seolah mengiringi musik yang tak pernah ditulis.
Lagu itu semakin lama semakin asyik,
meski mengusik,
dan telingaku tak mendengar apa pun
kecuali bisikan:
“Tunggu giliranmu, pasti,
tak mungkin menelisik.”

Mataku dan mata gagak terbuka,
mencari arti, mencari nasib,
di antara siul maut dan nyanyian sunyi
yang tak pernah benar-benar selesai.

Ploso- Surabaya, 4-8-2025