Islam Progresif. Sebuah Wajah Baru?
Oleh: Khoirotun Nisak (Aktivis Esoterika Forum Spiritualitas)
–
Dalam sebuah forum yang diadakan secara tertutup berjudul “Religion and Liberal Thought in Malay Society” di Kuala Lumpur.
Forum yang dihadiri para aktivis masyarakat sipil perwakilan tiga negara (Malaysia, Singapura dan Indonesia) membawa spirit mengembalikan kembali wacana pemikiran keagamaan yang liberal dengan semangat keadilan, kesetaraan, perjuangan hak-hak asasi manusia dalam konteks 3 negara.
—
Kondisi keberagamaan Malaysia hari ini tidak sesederhana dalam konteks bagaimana kita beragama di Indonesia. Negara yang memiliki sistem pemerintahan yang menjadikan Islam sebagai agama resmi, dengan otoritas keagamaan yang sangat kuat mengatur kehidupan umat Muslim, membawa tantangan tersendiri bagi para aktivis masyarakat sipil di Malaysia, terkhusus mereka yang bergerak dalam bidang wacana islam liberal, pluraslime dan gender.
Konteks keberagamaan di Malaysia hari ini memang berbeda jauh dibandingkan Indonesia. Dengan Islam sebagai agama resmi negara dan otoritas agama yang kuat, Malaysia memberikan tantangan tersendiri bagi para aktivis masyarakat sipil, terutama yang memperjuangkan ide-ide liberalisme Islam, pluralisme, dan kesetaraan gender.
Ruang kebebasan, keterbukaan terhadap pemikiran progresif di Malaysia sangat terbatas. Wacana kesetaraan gender dan pluralisme kerap kali dianggap sebagai ancaman terhadap doktrin Islam yang dominan.
Laporan Freedom House 2023 mencatat bahwa Malaysia masih dikategorikan sebagai “partly free” di mana kebebasan sipil dan politik dibatasi secara signifikan oleh pemerintah atau aktor-aktor lain.
Dalam konteks itulah, Forum Religion and Liberal Thought menjadi ruang strategis bagi aktivis dari tiga negara serumpun untuk berdiskusi tentang pentingnya tafsir agama yang inklusif dan progresif.
Saya hadir dalam forum tersebut sebagai bagian dari Esoterika Forum Spiritualitas, membawa semangat spiritualitas universal yang berpijak pada nilai-nilai keadilan, kesetaraan, serta penghormatan atas hak-hak asasi manusia dalam konteks keindonesia.
Dalam forum itu, saya semakin menyadari bahwa tafsir agama yang inklusif bukan hanya soal teologi, tetapi juga menyangkut keberanian untuk menafsirkan ulang warisan keagamaan agar tetap relevan dengan dinamika zaman.
Islam Progresif di Indonesia: Meredup atau Menjelma dalam Bentuk Baru?
Indonesia memiliki sejarah yang lebih terbuka dalam mengembangkan pemikiran Islam progresif. Era awal 2000-an menjadi titik penting melalui kehadiran Jaringan Islam Liberal (JIL), membawa perjuangan tafsir Islam yang mendukung demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, serta kesetaraan gender.
Meski banyak menuai resistensi, terutama dari kelompok konservatif, JIL memainkan peran signifikan dalam menggairahkan wacana Islam progresif di ruang publik Indonesia pada masanya.
Namun, dalam satu dekade terakhir, geliat pemikiran semacam ini tampak meredup. Sebagian tokoh JIL memilih kembali pada ranah hikmat mereka masing-masing.
—
Sebagai generasi muda, Saya melihat bahwa semangat Islam progresif sebenarnya tidak padam melainkan mengalami transformasi. Gagasan progresif kini tumbuh tidak hanya di ruang akademik atau media massa, tetapi melalui komunitas-komunitas seperti Esoterika Forum Spiritualitas.
Pembacaan ulang terhadap sejarah dan peran Islam Progresif di Indonesia menjadi penting, sebab Gerakan ini bukan sekedar proyek intelektual, tetapi sebagai pemantik narasi-narasi progresif lainnya di masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, saya melihat bahwa cikal bakal Islam progresif tidak hanya lahir dari murid-murid Nurcholish Madjid, Gus Dur, atau Buya Syafi’i Ma’arif, tetapi juga dari para pemikir yang berada dalam lingkaran Djohan Effendi, seperti Denny JA, Budhy Munawar-Rachman, Elza Peldi Taher, dan lain-lain.
Kelompok studi kecil yang mereka dirikan kini berkembang menjadi komunitas yang lebih terbuka dan lintas iman. Salah satunya adalah Esoterika Forum Spiritualitas, yang menghadirkan pendekatan paham antaragama yang lebih inklusif dan lintas batas identitas.
Esoterika tidak datang untuk menawarkan kebenaran tunggal, melainkan membuka ruang dialog atas berbagai kemungkinan tafsir dalam cara manusia beragama.
Dalam berbagai kegiatan Esoterika—mulai dari diskusi lintas iman hingga social gathering antariman—kita melihat bagaimana agama tampil dalam wajah yang ramah, sebagaimana pernah digaungkan Gus Dur: “Islam adalah agama yang ramah, bukan marah.” Esoterika berangkat dari kesadaran bahwa agama bukan milik satu kelompok semata, melainkan warisan kultural milik bersama umat manusia.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Leonard Binder, yang menyebut bahwa Islam progresif harus membuka ruang tafsir atas kitab suci secara dinamis. Al-Qur’an tidak boleh dipahami sebagai teks yang final dan beku, melainkan sebagai sumber etika yang perlu dibaca ulang terus-menerus agar mampu menjawab persoalan-persoalan sosial. Jika tafsir agama berhenti pada satu titik, ia akan kehilangan daya hidupnya dalam merespons zaman.
Dalam kerangka itu, Esoterika hadir sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan akan cara beragama yang lebih reflektif, kritis, dan kontekstual. Seperti yang dikatakan Thomas Kuhn dalam teori paradigma, setiap sistem keilmuan harus mampu menjelaskan fenomena baru. Jika tidak, ia akan runtuh digantikan paradigma baru.
Begitu pula agama: jika tidak mampu merespons realitas baru seperti krisis lingkungan, ketimpangan gender, hingga eksklusi sosial, maka diperlukan pembaruan tafsir yang lebih relevan.
Menyegarkan Wacana Progresif yang Mulai Kering
Sebagai visi baru dari paham antaragama, Esoterika menawarkan pendekatan melampaui Islam Liberal atau Islam Progresif dan semua pandangan antaragama.
Salah satu prinsip yang dijunjung tinggi oleh komunitas Esoterika adalah menjadikan diskursus keagamaan sebagai ranah dialog, bukan arena untuk klaim kebenaran (truth claim).
Dalam forum-forum Esoterika, perbedaan tafsir dirayakan sebagai kekayaan spiritual umat manusia. Ini yang membedakan antara pendekatan eksklusif yang rigid, dengan pendekatan spiritual yang inklusif dan reflektif.
Esoterika Forum Spiritualitas menjadi upaya untuk menyegarkan kembali wacana progresif yang kini mulai kehilangan vitalitasnya.
Ia bukan kelanjutan dari gerakan progresif dalam bentuk yang sama, melainkan transformasinya ke dalam bentuk baru: komunitas spiritual yang hidup, hangat, dan bersedia berjalan bersama agama-agama serta kepercayaan lain.
Esoterika tidak hanya menawarkan narasi spiritualitas yang inklusif, tetapi juga aktif memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial, kesetaraan gender, dan hak-hak minoritas.
Inilah wajah baru Islam progresif melalui pemikiran progresif: bukan hanya wacana intelektual, tetapi gerakan kultural yang membumi dan melibatkan pengalaman spiritualitas manusia.
Dengan prinsip bahwa “agama adalah warisan kultural milik bersama”, Esoterika mengajarkan bahwa kita semua memiliki hak untuk menafsirkan dan menghidupi agama sesuai dengan konteks dan pengalaman kita masing-masing—tanpa merasa paling benar, dan tanpa meniadakan yang lain.
—
Kebebasan beragama dan berekspresi adalah prinsip utama yang harus terus diperjuangkan, terutama di negara-negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia, demi terciptanya kehidupan beragama yang lebih progresif, inklusif, dan humanis.
Dengan demikian, hemat saya, Islam progresif tidak mati. Iya hanya berevolusi dan menemukan ruang-ruang baru dalam komunitas yang siap menyambut tantangan zaman dengan semangat universitas dan spiritualitas yang terbuka.