April 16, 2026
29 - Fingers and Silent Will

Yusufachmad Bilintention

Di persimpangan benak,
ketika pagi menyapa malam,
dua cahaya berpelukan,
menyalakan kenangan janji
yang pernah terucap.

Aku bukan merpati,
meski kata bijak
belum matang untuk mengganti,
namun kesetiaan sayapnya
mengajariku menepati,
walau jiwa kadang terguncang,
gemetar terjerat bayangan.

Bintang dapat diraih,
meski tak harus tergenggam tangan.
Sanjungan mungkin bergema
di bibir dunia,
namun aku tetap
mencium bibir istriku
yang terkatup,
diam bagai doa
yang tak bersuara.

Meski kudaki puncak Jaya Wijaya,
atau kutapaki jembatan api
yang membara,
tak ada getar di bibirnya,
bahkan huruf ā€œUā€ pun tak melintas.
Baginya, diam adalah emas,
bukan pujian yang buas.

Jari menari seiring irama pikiran,
melagukan asa, mengalir deras rasa.
Raga boleh letih,
mata dipaksa berakrobat,
namun di situlah pelepas lara,
obat jiwa yang berpadu
dengan lantunan musik India.

Saat jejari berucap syukur,
Ilahi Robbi membelaiku
meski dalam tidur.
Keindahan yang belum terukur
mewarnai hati,
menyemai harapan dalam kehendak
yang tak pernah berhenti.

Ada yang menyebutnya kehendak alam,
ada pula yang menafsirnya berkah doa,
namun bagiku ia bisikan puisi,
iman yang tegar, tak tergantikan.

Surabaya, 20 Januari 2025

Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly