May 10, 2026

Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Hari Ulang Tahunmu di Tanah Bencana” _

leni1

/1/

Sisa Api

Puisi: Leni Marlina
_

Di tanah bencana,
ulang tahunmu jatuh
seperti abu hangat
di telapak tangan gemetar.

Abu berdesis pelan,
api belum selesai bicara.
Kata mengeras di lidah.
Doa berdenyut di dada,
sebuah jantung kedua
tersesat di lorong waktu.

Hari menolak berganti wajah.
Ulang tahunmu hadir di antara puing,
cahaya kecil
yang bersikeras hidup.

Kita menua perlahan,
menghitung detik
di tanah bencana.
_

Padang, Sumatra, NKRI — 2025

/2/

Getar

Puisi: Leni Marlina
_

Telapak kaki menekan tanah
yang pernah bersumpah aman,
kini bergetar
di bawah beban ingatan.

Tanah mengerang,
membacakan ulang janji manusia
yang ditanam tanpa dijaga.

Sungai berbisik serak,
air menggigit jari,
dingin menembus tubuh
lebih cepat dari kabar.

Urat purba berdenyut,
nadi bumi dipaksa bekerja
melewati batas doa.

Hujan turun tanpa kompromi.
Atap menekuk pasrah.
Aroma tanah basah
menyusup ke paru-paru.

Burung berputar panik,
sayap memukul langit
seperti pintu darurat
yang lupa cara membuka.

Ulang tahunmu hadir
dalam lumpur,
dalam hujan,
dalam udara tanah bencana
yang tak lagi netral.

_

Padang, Sumatra, NKRI — 2025

/3/

Jejak

Puisi: LM
_

Sejarah ditarik pelan
dari lereng, dari hulu.
Keputusan sunyi menentukan
ke mana air akan murka.

Pahit, manis, asam, asin
menyusun peta rasa di tangan.
Lidah menyimpan jejak bencana
lebih setia
daripada arsip resmi.

Tubuh menulis ulang langkah
di tanah basah
yang dulu bernama izin.

Kayu berteriak.
Besi menggigil.
Kain menyerap air mata.
Kulit mencatat dingin
sebagai luka kecil
yang bertahan.

Jam di meja bergetar,
serangga waktu
terjebak di antara detik.
Waktu menagih
untuk diingat.

Ulang tahunmu berdiri
di antara keputusan manusia,
di tanah bencana
yang menuntut kesadaran.

_

Padang, Sumatra, NKRI — 2025

/4/

Belajar

Puisi: Leni Marlina
_

Menua tidak runtuh.
Kita saksi.
Kita wadah.
Udara, aroma, suara, rasa, sentuhan
melebur menjadi satu tubuh.

Hidup bukan lari.
Hidup adalah hadir:
merasakan, mencium, mendengar,
menyentuh, mengecap, mengingat
tanpa pengeras suara.

Senja melekat di mata.
Cahaya jatuh hangat, lalu surut,
seperti janji
yang tahu kapan harus pergi.

Tanah bencana membuka mulut tanpa kata.
Hujan menulis di wajah tanpa tanda tangan.

Bunyi bumi naik
menjadi nurani.
Kita perlahan belajar
menyebut tanggung jawab
tanpa menunjuk

_

Padang, Sumatra, NKRI — 2025

/5/

Yang Tersisa

Puisi: Leni Marlina
_

Selamat ulang tahun
sahabat, saudaraku.

Tak ada hadiah
selain doa tulus
beraroma lumpur, banjir, longsor:
lengket di kulit,
berat di dada,
jujur.

Hanya itu yang tersisa
setelah rumah hanyut
bersama kayu gelondongan
dan keputusan-keputusan
yang tak pernah ikut tenggelam,
namun selalu muncul
setiap air naik perlahan,
di tanah bencana ini,
di ulang tahunmu
yang berwarna petang.

_

Padang, Sumatra, NKRI — 2025

———–

Leny Marlina

Tentang Penyair: Leni Marlina

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).

Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.

Karya-karya terbarunya meliputi “The Beloved Teachers” (2025), “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi “English Stories for Literacy” (2024-2025)—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.

Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan merenung secara berkelanjutan.

Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.

Tahun 2025, Leni ditunjuk dan dipercayakqn sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng Internatioanl Literary Association (ACC SHILA), sekaligus the ASEAN Directors for ACC SHILA Poets. Di tahun yang sama, Leni ditunjuk dan dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) Januari-Februari 2026 di India. (www.panoramafestival.org).
[00:52, 26/12/2025] SatupenaLeni Marlina Jateng: Ilustrasi kumpulan puisi Leni Marlina: ”Hari Ulang Tahunmu di Tanah Bencana”. Sumber gambar: © Starcom Indonesia, Book Cover Collection No. 60_25122025