May 10, 2026

Era Nurza

Kita hidup di negeri yang gemar mengutip angka pertumbuhan
menyembah grafik ekonomi
dan berdoa pada angka-angka APBN
Namun suatu hari
sebuah kalimat jatuh dari podium:
“Guru adalah beban.”
Kata-kata itu menusuk
Ia melayang ke ruang-ruang kelas
yang penuh debu kapur
ke rumah-rumah sederhana
di mana guru menghitung sisa gaji
untuk membeli beras dan buku tulis anak-anaknya

Kalimat itu menjadi gema getir
di hati mereka yang pernah menyalakan api pengetahuan

Lihatlah, seorang guru di pelosok
Pagi-pagi ia berjalan kaki menembus jalan berlumpur
membawa map lusuh berisi rencana pelajaran
Ia bukan beban
ia justru memikul beban bangsa di pundaknya

Namun di layar kaca
sebuah pernyataan politik berdengung
Seakan-akan beban negeri ini adalah guru
bukan korupsi yang menggerogoti anggaran
bukan proyek yang digelembungkan untuk kenyang segelintir perut

Di sini ironi menganga:
pengabdi yang tak pernah menolak mengajar meski gajinya teriris tipis
dicap sebagai beban oleh mereka yang duduk di kursi empuk ber-AC.

Mari kita jujur:
tanpa guru, siapa yang akan mengeja alfabet pertama?
Tanpa guru, siapa yang mengajari kita menulis nama
hingga kini bisa ditorehkan di lembar kontrak kekuasaan?

Seorang menteri bisa berpidato
karena dulu seorang guru mengajarinya membaca
Seorang ekonom bisa menyusun teori
karena dulu seorang guru memperkenalkan angka
Seorang pejabat bisa berdebat di parlemen
karena dulu seorang guru membuka pintu logika

Jika itu yang disebut beban
maka beban ini justru beban suci
beban yang tak bisa dipikul oleh sembarang jiwa
beban yang justru menyalakan terang peradaban

Maka pertanyaan itu layak diajukan:
Jika guru beban, siapa yang mengangkat bangsa?
Apakah menteri dengan pidatonya?
Apakah para pejabat dengan laporan-laporan penuh angka
yang terkadang hanyalah kosmetik untuk menutupi wajah bopeng negeri?

Ataukah mereka yang lihai menyusun kalimat
namun gagap ketika ditanya:
“Siapa yang dulu mengajarkanmu berpikir?”
Bangsa ini berdiri bukan di atas menara gading ekonomi semata
Bangsa ini berdiri di atas kelas-kelas kecil
yang kadang atapnya bocor
lantainya retak
tetapi di dalamnya
seorang guru tetap menyalakan pelita

Jika mau jujur
beban sejati negeri ini bukan guru
Beban sejati adalah korupsi yang menelan triliunan
Beban sejati adalah janji yang tak ditepati
Beban sejati adalah birokrasi yang lamban
politik yang penuh intrik
dan anggaran yang tersesat di jalan menuju kepentingan rakyat

Guru?
Ia hanya memikul anak-anak bangsa
agar kelak mereka tak buta huruf
agar kelak mereka tak tersesat dalam gelap kebodohan
Menyebut guru beban
sama halnya menyebut matahari beban pagi
menyebut hujan beban ladang
menyebut udara beban napas

Sejarah bersaksi:
Negeri-negeri besar berdiri karena gurunya dihormati
Lihatlah Jepang
yang setelah kalah perang
justru pertama-tama mencari gurunya
Lihatlah Korea
yang mendidik bangsanya hingga melesat ke langit teknologi
Kemudian lihatlah Indonesia
yang sering lupa siapa sebenarnya pondasi kemerdekaan ini

Soekarno tak akan bisa berpidato lantang
jika tak ada guru yang melatih lidahnya mengeja kata
Hatta tak akan bisa menulis konsep ekonomi bangsa
jika tak ada guru yang membimbingnya menulis huruf

Kartini tak akan mampu menyalakan cahaya emansipasi
jika tak ada guru yang mengenalkan dunia aksara

Sejarah adalah saksi
Bangsa tanpa guru adalah bangsa tanpa ingatan
Bangsa yang merendahkan guru
adalah bangsa yang sedang merobohkan dirinya sendiri

Maka biarlah kami, para guru
tetap disebut beban
Beban yang tak pernah mengeluh
meski pundaknya rapuh
Beban yang terus menyalakan cahaya
meski lilinnya hampir padam
Beban yang rela berdiri paling depan
meski dihina oleh lidah yang lupa jasa

Namun yakinlah
tanpa beban ini
bangsa ini hanyalah kapal tanpa arah
rumah tanpa tiang
tubuh tanpa tulang
Dan suatu hari nanti
sejarah akan mencatat:
yang benar-benar beban bukanlah guru
tetapi mereka yang berani melupakan jasa guru
sambil mengaku memimpin bangsa

Padang, Agustus 2025

Penulis.
Edrawati, M.Pd. nama pena Era Nurza, adalah pendidik sekaligus p