February 11, 2026

Jika kamu Diam saat keadilan Diinjak-injak berarti kamu berada dipihak Penindas

Oleh : Eka Teresia

Memilih Suara atau Memilih Sunyi
Ketika palu keadilan seharusnya berdentang, namun yang terdengar justru bisikan ketidakbenaran, kita dihadapkan pada sebuah persimpangan moral yang tajam. Seringkali, tiran dan penguasa zalim tak perlu susah payah meredam kebenaran; mereka hanya perlu melihat orang-orang yang berhati nurani memilih untuk menundukkan kepala dalam kebisuan.

Sikap diam di hadapan tindak kezaliman bukanlah zona aman yang netral, melainkan sekutu tersembunyi bagi penindas. Bayangkan panggung di mana drama ketidakadilan sedang dimainkan. Penindas adalah aktor utama yang melancarkan aksinya, sementara kebisuan orang banyak berfungsi sebagai latar belakang yang sunyi, menjadikannya seolah-olah pertunjukan itu wajar dan tanpa cela. Diam adalah izin tak terucap, sebuah amnesti moral yang memungkinkan kejahatan terus bersemi.

Banyak yang memilih bersembunyi di balik alasan pragmatisme: takut diasingkan, khawatir kehilangan kenyamanan, atau merasa diri terlalu kecil untuk membuat perbedaan. Mereka mungkin berpikir, “Ini bukan urusanku.” Namun, sikap menjaga diri ini justru menjadi fondasi rapuh yang menopang seluruh arsitektur penindasan. Kekuatan penindas tidak hanya terletak pada kekerasan yang mereka miliki, tetapi juga pada kelumpuhan suara dari mereka yang seharusnya menjadi pelindung kebenaran. Ketiadaan oposisi adalah oksigen bagi kesewenang-wenangan.

Keadilan adalah nafas kolektif sebuah masyarakat. Ia bukan sekadar pasal-pasal dalam kitab undang-undang, melainkan denyut nadi dalam setiap interaksi kemanusiaan. Ketika satu orang dianiaya dan kita memilih untuk berpaling, kita telah menanam benih bahwa martabat manusia dapat dinegosiasikan. Kita gagal menyadari bahwa api ketidakadilan yang kita biarkan membakar rumah tetangga, lambat laun akan menjalar dan menghanguskan milik kita sendiri.

Maka, sudah saatnya kita menyadari: netralitas dalam konflik antara kebenaran dan kezaliman adalah sebuah ilusi. Ketika terompet keadilan ditiup dan kita memilih untuk menyumpal telinga, kita secara efektif telah menyeberang dan berbaris di bawah bendera para tiran. Sejarah tidak pernah mencatat para pengecut yang diam sebagai pahlawan. Perubahan hakiki selalu dimulai dari individu yang berani mengoyak selimut kebisuan dan menggunakan suara mereka, sekecil apapun itu, sebagai batu pertama perlawanan.

Dunia tidak memerlukan penonton yang pasif, melainkan peserta aktif yang siap membela kebenasan. Bersuara adalah tindakan keberanian; diam adalah pengkhianatan terselubung terhadap kemanusiaan itu sendiri.