April 18, 2026

JIKA PIRNA HARUS MATI, APA GUNANYA HARI PEREMPUAN?

mila1

Oleh Mila Muzakkar

Di sebuah senja yang nyaris gelap di Una-Una, Sulawesi Tengah, seorang laki-laki mengendarai motor setengah butut di jalanan berbatu yang terjal.

Motornya sesekali tersendat, seperti ikut kelelahan menaklukkan jalan yang tak pernah benar-benar ramah bagi kendaraan.

Ia berusaha mengejar waktu sebelum malam benar-benar menutup jalan yang sudah nyaris tak layak dilewati.

Di belakang motor itu, terbaring tubuh yang tak lagi bernyawa. Terbalut kain putih, disangga papan kayu, diikat dengan tali tambang agar tak jatuh di jalanan berguncang.

Motor butut itu sedang membawa jenazah Pirna (19 tahun), seorang ibu yang menghembuskan napas terakhirnya setelah beberapa hari melahirkan anak pertamanya dengan bantuan dukun beranak.

Pirna tak melahirkan di rumah sakit. bukan juga di rumah. Ia melahirkan di kebun.

Setelah mengalami pendarahan hebat, Pirna harus menunggu berhari-hari sebelum akhirnya bisa mendapatkan perawatan di puskesmas terdekat.

Bukan karena ia tidak ingin ditolong. Tapi karena puskesmas itu harus ditempuh berjam-jam lamanya.

Ambulans yang seharusnya menjadi harapan bagi masyarakat miskin tak pernah sampai ke sana. Jalan yang terlalu sulit dilalui kendaraan membuat motor dan kaki menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Pentingnya Literasi Kesehatan

Pirna bukan satu-satunya perempuan Indonesia yang harus mati dengan cara yang begitu menyedihkan.

Sulawesi Tengah termasuk provinsi dengan angka kematian ibu (AKI) tertinggi di Indonesia—peringkat keenam secara nasional, dengan angka 264 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Wilayah ini masuk kategori zona merah dalam akses kesehatan.

Secara nasional, angka kematian ibu juga masih tinggi. Laporan Profil Kesehatan Indonesia Kementerian Kesehatan (2023) mencatat terdapat 4.460 kasus kematian ibu sepanjang tahun tersebut.

Penyebab utamanya sebenarnya sederhana: pendarahan dan anemia. Dua hal yang seharusnya bisa dicegah jika akses kesehatan, literasi, dan infrastruktur hadir dengan lebih baik.

Tingginya angka kematian ibu selalu berkaitan dengan banyak faktor: rendahnya kunjungan antenatal care (ANC), keterlambatan rujukan, kondisi sosial ekonomi, pendidikan, komplikasi kehamilan, anemia, usia ibu, hingga keterbatasan tenaga kesehatan.

Ini bukan tentang angka. Di balik angka itu, ada luka, ada keluarga, ada mimpi yang berhenti.

Ingatan membawaku kembali ke tahun 2016, ketika aku tinggal di Kabupaten Gorontalo. Bersama teman-teman relawan, kami mengendarai mobil pintar (mopin) milik perpustakaan daerah, berkeliling dari satu puskesmas ke puskesmas lainnya.

Para ibu hamil datang dari berbagai desa, termasuk dari daerah pegunungan. Untuk sampai ke puskesmas, mereka harus menempuh perjalanan berjam-jam dengan motor. Jika biasanya motor dikendarai dua orang, di sini sering kali tiga orang sekaligus (bonceng tiga).

Dengan keyakinan bahwa literasi kesehatanadalah hal penting untuk dimiliki oleh ibu hamil, pengetahuan yang menyelamatkan nyawa, kami datang membuka akses pendidikan dan mindset tentang pentingnya mengetahui dan memahami hal-hal dasar terkait dengan kehamilan, persalinan, dan pengasuhan anak usia dini.

Salah satu pintu masuknya adalah buku KIA, buku kesehatan ibu dan anak berwarna pink yang menjadi pegangan wajib setiap ibu hamil.

Tapi apakah mereka pernah benar-benar membaca isinya?

Kebanyakan, buku itu hanya dibawa karena diminta oleh rumah sakit. Bukan karena mereka ingin melihat isinya, atau memahami manfaatnya. Dokter dan perawat pun jarang meminta para ibu membaca dan memahami isi buku tersebut secara serius.

Jadi kami memulai dari hal yang sangat sederhana: membaca buku KIA bersama. Di dalamnya ada banyak informasi penting tentang kehamilan sehat, termasuk betapa pentingnya dukungan suami selama masa kehamilan.

Kehamilan bukan hanya urusan perempuan. Ia adalah perjalanan bersama. Di sela-sela kelas ibu hamil, kami bahkan mengajak para suami ikut bergabung. Kami membuat permainan kecil, game kekompakan antara suami dan istri.

Mungkin terdengar aneh. Mungkin terlihat sepele. Tapi dari tawa kecil itu, sering lahir kesadaran baru: bahwa kehamilan adalah tanggung jawab bersama – suami dan istri- serta komunitas dan negara sebagai ekosistem yang mendukung.

Merayakan Hari Perempuan, Apa Gunanya?

Tanggal 8 Maret kembali datang. Ritual tahunan kembali berlangsung. Di berbagai belahan dunia, orang-orang—terutama perempuan—turun ke jalan, menulis di media, berbicara di ruang diskusi, hingga bersuara di media sosial.

Apa yang sebenarnya mereka rayakan? Masih perlukah kita merayakan Hari Perempuan Internasional?

Jawabannya: masih. Bukan sekadar untuk mengenang sejarah. Bukan pula sekadar euforia tahunan. Tapi untuk merawat ingatan kolektif bahwa dunia terlalu lama dibangun di atas ketidakadilan relasi antara perempuan dan laki-laki.

Perayaan ini adalah pengingat bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari perjuangan yang panjang, sistematis, dan kolektif.

Hari Perempuan juga harus menjadi pengingat bagi negara: bahwa tugas negara bukan hanya membangun gedung dan jalan raya. Bukan juga lebih dulu membantu negara lain atas nama menjaga hubungan bilateral, sementara nyawa warga negara sendiri melayang dengan gampangnya.

Negara harus memastikan akses dasar warganya: makanan, kesehatan, tempat tinggal, dan pendidikan.

Pembangunan tidak boleh hanya berpusat di kota.Ia harus menjangkau wilayah-wilayah terpencil, tempat perempuan seperti Pirna hidup, bermimpi, dan berharap.
Agar mereka benar-benar merasakan bahwa negara hadir. Bahwa suara yang mereka berikan saat pemilu tidak hilang begitu saja.

Jika Pirna harus mati menjelang Hari Perempuan Internasional, aku berharap itu menjadi yang terakhir.

Aku bermimpi suatu hari nanti kita merayakan Hari Perempuan dengan berita yang berbeda.

Berita tentang semakin banyak perempuan yang produktif dan inovatif di dunia kerja. Berita tentang kebijakan publik yang lebih berkualitas karena perempuan dan laki-laki bekerja bersama secara setara. Berita tentang semakin banyak ibu yang bisa melahirkan dengan aman,dan hidup cukup lama untuk melihat anak-anaknya tumbuh besar.

Ketika hari itu tiba, kita tak hanya merayakan hari perempuan. Tapi kita merayakan dunia yang akhirnya lebih manusiawi dan lebih indah untuk dikenang.

9 Maret 2026