“Kebaikan yang Mengalir Melampaui Waktu”
Renungan Minggu, 1 Februari 2026
Menabur Kebaikan
Oleh: F.X. Mote
–
Menabur kebaikan adalah panggilan iman yang sederhana, namun berdampak kekal. Ketika kita berbuat baik dengan tulus dan ikhlas, tanpa pamrih, tanpa perhitungan, kebaikan itu tidak berhenti pada satu titik. Ia bergerak, mengalir, dan berbuah melampaui batas waktu serta generasi. Alkitab mengingatkan kita, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7). Prinsip ilahi ini menegaskan bahwa setiap benih kebaikan yang kita tabur akan menuai hasilnya, meski tidak selalu kita nikmati secara langsung.
Sering kali kita ingin melihat hasil segera dari perbuatan baik. Namun iman mengajar kita untuk percaya pada karya Allah yang bekerja melampaui penglihatan kita. Tuhan menjanjikan, “Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu kepada orang-orang yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku” (Keluaran 20:6). Artinya, ketaatan dan kebaikan yang kita hidupi hari ini dapat menjadi berkat bagi orang tua, saudara, bahkan anak cucu kita kelak. Hidup mereka dipermudah bukan karena jasa manusia semata, melainkan karena kasih karunia Allah yang setia.
Yesus sendiri menegaskan hukum Kerajaan Allah: “Berilah dan kamu akan diberi… sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Lukas 6:38). Kebaikan yang ditabur dengan hati yang bersih akan kembali dalam ukuran yang melimpah—dalam bentuk damai sejahtera, pengharapan, dan relasi yang dipulihkan. Amsal berkata, “Siapa memberi berkat akan diberkati” (Amsal 11:25).
Karena itu, marilah kita setia menabur kebaikan hari ini. Jangan jemu berbuat baik, sebab “apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9). Percayalah, Allah setia menggenapi janji-Nya.