Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Yang Tersisa Setelah Tidak Disebut”
Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina: "Yang Tersisa Setelah Tidak Disebut". Sumber gambar: PPIPM + PPIC + Starcom Indonesia's cover no. 63.01022026.LM.
/1/
Ketika Ruang Bersuara Tak Lagi Berbau Takut
Puisi: Leni Marlina
–
Kau mencium dunia bahkan sebelum pagi membuka matanya.
Bau itu merayap pelan seperti bisikan basi di sela-sela kata yang diseterika rapi.
Ia tidak menusuk, ia merayu.
Hangat, manis palsu seperti buah yang terlalu matang,
namun masih dipajang di bawah lampu terang.
Langit pagi menarik napas panjang.
Awan-awan saling pandang,
seolah tahu ada sesuatu di bawah yang tidak berani disebut.
Kau mendengar dengung pertama lalat seperti jarum halus menjelajah udara.
Suara kecil itu bukan bunyi,
ia niat.
Niat untuk tinggal di tempat yang lelah mempertahankan kebohongan.
Kau melihat kilau sayap mereka
memantulkan cahaya yang sakit
bukan cahaya matahari,
melainkan sisa terang
yang ditinggalkan nurani.
Langit menunduk.
Ia menua seketika.
Biru yang biasa jujur
menjadi abu-abu,
seperti mata yang terlalu sering
menyaksikan pengkhianatan
dan memilih diam.
Kau menyentuh meja-meja dunia
dan jari-jarimu tahu:
permukaannya licin oleh kata-kata manis yang terlalu sering diulang hingga kehilangan rasa.
Ada dingin logam di sana,
dingin kesepakatan,
dingin tangan berjabat
tanpa niat saling menjaga.
Kau mengecap udara
dan lidahmu menangkap
rasa karat.
Asin seperti air mata
yang dikeringkan terlalu cepat
agar tak sempat menjadi tuntutan.
Langit berdehem.
Petir kecil berlatih marah
di balik punggung awan,
namun belum diizinkan
untuk bicara.
Kau tidak berteriak.
Kau tahu, teriakan bagimu hanya sering memberi hiburan pada yang busuk.
Kau memilih menjadi hening
yang berpikir.
Kau mencatat denyut lalat,
arah angin, waktu paling rawan
ketika pembusukan berubah
menjadi kebiasaan.
Kejeniusanmu bekerja seperti jam tua: pelan, tepat,
tak tertarik pada tepuk tangan.
Kau tidak mengusir lalat.
Kau mengeringkan genangan.
Kau membersihkan sisa.
Kau membersihkan udara.
Kau mematikan lampu palsu
yang membuat bangkai
terlihat layak dipertahankan.
Langit mulai berubah.
Ia tidak langsung biru, ia ragu.
Ia belajar percaya lagi pada cahaya.
Awan-awan menipis seperti luka
yang akhirnya berani terkena udara.
Lalat-lalat itu pergi tanpa drama.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada kemenangan.
Hanya ruang yang tiba-tiba
bisa bernapas.
Dan kau berdiri di sana
tidak berkilau, tidak dipuji
namun dunia terasa
sedikit lebih ringan
di kulitnya sendiri.
Jika kelak seseorang bertanya
apa yang kau lakukan,
jangan jawab panjang-panjang.
Biarkan pancaindra mereka
menyadari sendiri:
udara yang tidak lagi amis,
langit yang berani menatap bumi,
dan ruang bersuara yang akhirnya tidak berbau takut.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/2/
Udara yang Tidak Menyebut Dirinya Penyelamat
Puisi: Leni Marlina
–
Udara tidak pernah memperkenalkan diri.
Ia datang sebelum alasan,
sebelum suara belajar berbaris,
sebelum dada tahu
apa arti lapang.
Ia bekerja tanpa tanda tangan,
mengisi ruang di antara rusuk yang telah lama
belajar menahan beban.
Udara tidak memihak.
Ia hanya tinggal cukup lama hingga manusia berhenti mengira sesak di dada sebagai takdir.
Ketika napas kembali mudah,
tak seorang pun ingat siapa yang datang lebih dulu.
Dan itulah cara manusiawi
untuk menyelamatkan
tanpa mengklaim.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/3/
Jarak antara Bau dan Pengakuan
Puisi: Leni Marlina
–
Ada jarak yang tidak bisa diukur dengan langkah
atau kata.
Di sanalah bau berhenti berteriak dan memilih menjadi latar.
Di sanalah kebusukan belajar menunggu hingga hidung lelah menjadi waspada.
Jarak ini tidak membersihkan.
Ia hanya membuat manusia
harus memutuskan: menyebut,
atau terus berpura-pura bahwa yang tercium adalah kenangan.
Sering kali, kemanusiaan
lahir bukan dari keberanian besar,
melainkan dari satu jarak kecil yang tidak lagi ingin
dijembatani kebohongan.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/4/
Pagi yang Tidak Mengetuk Jendela
Puisi: Leni Marlina
–
Pagi tidak selalu datang sebagai cahaya.
Kadang ia hanya kesabaran
yang berdiri di ambang,
menunggu gelap kehabisan alasan.
Jendela tidak dipaksa.
Kunci tidak disalahkan.
Waktu dibiarkan bekerja tanpa ancaman.
Dan manusia yang terbiasa diguncang, pelan-pelan belajar bahwa perubahan
tidak selalu bersuara.
Ada pagi yang manusiawi
justru karena ia tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada matahari.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/5/
Garam yang Menolak Menjadi Tokoh
Puisi: Leni Marlina
–
Garam tahu kapan harus menghilang.
Ia larut di antara kalimat,
menyeimbangkan rasa
tanpa meninggalkan tanda
di permukaan.
Manis palsu menjadi terlalu jelas ketika tidak lagi
dilawan, hanya ditimbang.
Begitulah etika bekerja:
bukan dengan menunjuk salah,
melainkan dengan membuat yang berlebihan kehilangan pembelaan.
Kemanusiaan kadang sesederhana ini:
memberi cukup,
lalu berhenti.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/6/
Jam yang Menghitung Kebiasaan
Puisi: Leni Marlina
–
Di sini, jam tidak menghitung detik.
Ia menghitung berapa lama sesuatu dibiarkan tanpa dipertanyakan.
Ia berdetak di luar rapat,
di luar sorak, di luar sejarah.
Yang ia catat bukan keputusan besar,
melainkan pengulangan kecil yang tidak pernah dihentikan.
Dan ketika sesuatu runtuh,
jam tidak merasa benar.
Ia hanya tahu:
yang dibiarkan terlalu lama
akan menuntut akhirnya sendiri.
Begitulah waktu memanusiakan dunia:
tanpa marah,
tanpa memihak.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/7/
Sunyi sebagai Alat Ukur
Puisi: Leni Marlina
–
Sunyi bukan tempat lari.
Ia adalah alat.
Ketika tepuk tangan dihilangkan,
banyak yang kehilangan bentuk.
Ketika sorot dimatikan,
niat terlihat tanpa polesan.
Sunyi tidak menuduh.
Ia hanya membuka ruang
agar sesuatu berdiri
tanpa sandaran.
Dan di sanalah kemanusiaan diuji:
siapa yang tetap bekerja
meski tidak ada yang memberikan mahkota,
tapi malaikat pasti
mencatat dan mengawasi semuanya tanpa cela.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/8/
Keputusan Kecil yang Tidak Ingin Diingat
Puisi: Leni Marlina
–
Keputusan itu kecil.
Nyaris tidak layak cerita.
Ia diambil tanpa saksi,
tanpa kutipan, tanpa keinginan untuk dikenang.
Namun ia diulang dan diulang.
Dan dunia bergeser beberapa milimeter ke arah yang lebih mungkin ditinggali.
Tidak ada monumen.
Tidak ada nama jalan.
Hanya udara yang suatu hari terasa lebih ringan,
dan manusia yang tidak tahu siapa yang harus
diucapkan terima kasih.
–
Melbourne, Australia, 2012
—
/9/
Yang Tersisa Setelah Tidak Disebut
Puisi: Leni Marlina
–
Udara berhenti tepat sebelum masuk.
Ia membaca suhu seperti membaca niat
yang belum berani menjadi keputusan.
Cahaya terlipat di sudut meja,
bukan karena kurang terang,
melainkan karena kelebihan alasan.
Bau tidak bergerak.
Ia menunggu.
Seperti arsip
yang tahu akan dipanggil
tanpa harus mengetuk.
Lalat bukan menghitung jarak,
melainkan kebiasaan.
Mereka tidak hinggap,
mereka memastikan.
Waktu menurunkan bahu sedikit saja.
Cukup untuk membuat yang bersandar kehilangan percaya diri.
Lampu mengingat fungsi awalnya dan merasa
tidak enak hati.
Lantai menyerap tekanan
tanpa menyimpannya sebagai dendam.
Ia hanya tahu berapa berat
yang sering lewat tanpa pulang.
Sunyi menguji dirinya sendiri.
Apakah ia masih penutup,
atau sudah alat ukur.
Musim tidak menjawab.
Ia hanya mengganti arah.
Bangkai tidak disingkirkan.
Ia dibiarkan kehabisan relevansi.
Udara akhirnya masuk.
Tanpa perayaan. Tanpa saksi.
Ruang itu tidak menjadi suci.
Ia hanya tidak lagi berpura-pura.
Dan di sisa keadaan itu
yang tidak dinamai,
tidak dirayakan
sesuatu yang rapuh belajar bertahan tanpa harus disebut
baik oleh semua orang.
–
Melbourne, Australia, 2012
—–

Tentang Penyair – Leni Marlina
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatra Barat, dan saat ini berdomisili di Padang. Ia adalah seorang penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya meliputi kumpulan puisi penulis tunggal The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025). Selain puisi, ia juga menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan ulasan, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan jurnalistik. Karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.
Di samping karier akademiknya, Leni aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), dengan fokus pada isu pendidikan, literasi, sastra, budaya, dan kemanusiaan. Kedua platform tersebut digerakkan oleh komitmen bersama untuk “menyuarakan yang tak bersuara.”
Kontribusinya di bidang sastra telah memperoleh pengakuan nasional dan internasional. Ia dianugerahi Best Writer 2025 oleh SATU PENA Sumatra Barat pada 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai Sastri Bakry; menerima ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre; serta mendapat penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025). Sejak 2025, Leni menjabat sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus memegang posisi ASEAN Director untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026. (Informasi lebih lanjut: https://www.panoramafestival.org/) & https://suaraanaknegerinews.com/festival-sastra-panorama-internasional-pilf-2026-angkat-tema-bumi-di-tengah-krisis-global/