“Keindahan dan Kekuatan Anggrek Larat – Lelemuku dari Maluku” (Puisi ke-1): Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, KEAI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, ASM, ACC SHILA)
/1/
Anggrek Larat: Sunyi Jiwa yang Bertahan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Poetry-Pen IC, ASM, Penyala Literasi Sumbar, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku tidak lahir untuk disambut,
Batu tak pernah menabur benih harap,
Namun dari penyangkalan itu, aku tumbuh,
Menggeliat dalam celah keras yang menolak segala harapan.
Akar-akar mungilku adalah doa tanpa kata,
Ia mencari air dalam luka bumi,
Dan ketika menemukannya,
Ia tidak menangis,
Ia hanya semakin hidup, semakin mendalam.
Aku bukan bunga yang dibentuk oleh musim,
Atau dibelai oleh kelembutan tangan yang lembut,
Aku disunting oleh badai,
Dibentuk oleh sunyi,
Dan dicintai oleh kesabaran yang tak mengenal batas waktu.
Kelopakku tidak butuh mata,
Ia mekar bukan untuk dilihat,
Namun untuk memberikan cahaya pada semesta yang memahami
Bahwa keindahan sejati tidak pernah meminta,
Tetapi hanya tumbuh dalam keteguhan yang tidak tergoyahkan.
Duhai kekasih,
Jika kau mencintaiku, jangan datang dengan simpati yang mudah pudar.
Cinta bukan air mata yang mengalir dari mata penonton,
Cinta adalah angin yang diam-diam menjaga,
Akar tetap utuh meski tak tampak.
Cinta adalah diam yang berbicara dalam keheningan,
Meneguhkan segala yang tak terlihat, tanpa pamrih.
Aku adalah aku yang tidak menuntut jawaban,
Aku adalah luka yang tidak pernah mengenal penderitaan.
Aku hidup dalam padang yang dijauhi peta,
Namun menjadi pusat bagi roh-roh yang lelah,
Mencari makna dalam dunia yang gemerlap dan riuh.
Aku, Anggrek Larat – terlahir di Pulau Larat,
Aku menjelajahi tanah Maluku, menghiasi dunia dari Timur Nusantara,
Aku adalah surat cinta yang ditulis oleh batu kepada langit—
Surat yang tak pernah dikirim,
Namun terus ditulis ulang setiap kali hujan datang,
Dan aku tetap tak binasa.
Cukup banyak namaku,
Lelemuku adalah panggilanku,
Maluku, Kepulauan Tanimbar, Pulau Larat,
Adalah rumah asalku—
Ia tak pernah menjanjikan kemudahan,
Namun selalu menawarkan keberanian.
Dari tubuhnya yang retak,
Lahir bunga-bunga yang tahu,
Kemuliaan bukan milik yang menang,
Namun milik yang bertahan dengan hati yang penuh damai.
Jika aku mati,
Jangan tangisi aku dengan upacara.
Cari aku dalam bisikan Angin Timur,
Dalam bayang-bayang cadas yang tak mengenal pengakuan.
Di situlah aku akan hidup,
Dalam bentuk yang paling jujur:
Keindahan yang tidak meminta,
Cinta yang tidak mengikat,
Kemanusiaan yang tidak memaksa dipahami,
Dan perdamaian yang lahir dari penerimaan yang penuh.
Padang, Sumatera Barat,
Januari 2025

/2/
Anggrek Larat: Keindahan Tak Selalu Dari Taman
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Poetry-Pen IC, ASM, Penyala Literasi Sumbar, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku bukan sekadar anggrek berwarna merah jambu
atau unggu yang terhampar indah di taman-taman dunia.
Aku adalah zikir yang dilupakan batu,
tersematkan Tuhan dalam celah-celah bumi yang terpecah,
menyampaikan pesan yang lebih dalam:
keindahan sejati tak selalu lahir dari kemewahan dunia.
Aku bukan keajaiban yang dipuja,
Aku adalah sunyi yang mengajarkan keteguhan,
tumbuh di atas luka purba yang sudah tak lagi merintih,
hanya bisa bertahan—diam namun kuat.
Tanah ini tak menjanjikan surga,
namun aku mekar dalam keheningan dan sedikit cahaya,
dari hati yang tahu cinta sejati bukan untuk menundukkan,
melainkan untuk mengangkat dengan lembut.
Namaku Lelemuku,
angin yang berbisik di ujung Maluku – Timur Nusantara,
aku ditanam oleh takdir,
disirami oleh airmata perempuan-perempuan
yang meski kehilangan,
tetap melukis pelangi dari abu yang menghanguskan.
Jangan petik aku,
jangan jadikan aku hiasan dalam potret liburanmu.
Aku bukan sekadar dekorasi duniawi,
aku adalah kitab yang ditulis tangan oleh alam,
tanpa tinta, tanpa kitab suci,
hanya debu, cahaya, dan kesabaran yang tiada akhir.
Aku adalah keindahan dalam kesaksian,
tentang manusia yang menjadikan cinta sebuah komoditas,
tentang bumi yang menampung segala keluh,
tanpa pernah bertanya, “Apakah engkau lelah?”
Jika kau sungguh mencintaiku,
biarkan aku tetap menjadi bisikan
yang hanya bisa didengar oleh jiwa-jiwa yang tak bernafsu pujian.
Biarkan aku tumbuh di celah batu,
di tempat tanpa suara, namun penuh makna—
di mana kehadiranku tak terucap, namun dirasakan.
Aku tak butuh air jika belaskasihmu hanya sekadar basa-basi.
Aku tak butuh sinar jika terangmu hanya untuk mengukur.
Aku cukup dengan malam yang panjang,
dengan semilir sabar yang tak menjanjikan apa-apa,
selain kesetiaan pada yang sunyi dan tak tampak.
Karena cinta sejati bukan milik yang paling terang,
tetapi milik yang paling dalam—
cinta yang tidak mengukur, tidak menuntut,
cinta yang melampaui pencarian kemuliaan duniawi.
Dan aku,
Anggrek Larat, Lelemuku dari Maluku,
lahir bukan untuk dipuja karena bentuk atau warnaku,
melainkan untuk menjadi pertanyaan yang terus tumbuh,
pertanyaan bagi manusia yang sering lupa:
bahwa kemanusiaan tidak membutuhkan panggung,
ia membutuhkan tanah untuk berpijak dengan kaki yang penuh kesadaran,
dan langit untuk melepaskan jiwa yang lepas,
tanpa ikatan,
tanpa batas.
Padang, Sumatera Barat,
Januari 2025
——————————————
Tentang Penyair:

Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, dan akademisi. Ia merupakan anggota aktif Perkumpulan Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang di Sumatera Barat.
Leni Marlina mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)