April 21, 2026

Kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia Dapat Dibangun Lagi Melalui Budaya Maritim & Agraris

1bbacd74-7208-4a25-b0bd-9775c9614037

Oleh: Jacob Ereste

Nenek moyangku orang pelaut, ini bukan cuma sekedar nyanyian belaka, tapi nyata dengan berbagai kesaksian sejumlah ahli sejarah dunia (Eropa) yang menyatakan nenek moyang bangsa Indonesia yang datang dari Asia Tenggara (Indochina atau Yunan) dalam dua gelombang besar pada 5.000 tahun sebelum Masehi dan 2.000 tahun sebelum Masehi hanya dengan mengandalkan sumber penghidupan dari laut.(Laporan Utama : Geopolitik Maritim Indonesia, The Global Review, Januari 2016).

Jauh sebelum gelombang manusia datang dari Indochina, nenek moyang suku bangsa Nusantara sudah memiliki hubungan dengan suku Aborigin di Australia melalui jalur laut. Peninggalan sejarah bekas Kerajaan Merina yang didirikan oleh perantau dari Nusantara ditemukan juga di Madagaskar. Menurut Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute, semua itu menunjukkan bahwa nenek moyang penduduk Nusantara pada masa itu telah memiliki teknologi pembuatan perahu bercadik dan perahu layar yang tangguh mengurangi samudra dengan medan yang sangat berat.

Jejak sejarah istilah maritim pun dapat ditemukan di wilayah rumpun bahasa Austronesia yang sangat kuat pengaruhnya dalam istilah maritim bahasa Nusantara dibanding dengan pengaruh rumpun bahasa lainnya.

Bukti prasejarah dari Nusantara ini merupakan indikasi bahwa nenek moyang suku bangsa nusantara adalah asli pelaut yang terbukti dalam jejak sejarah ribuan tahun sebelum Masehi telah mengarungi Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia. Ini sebagian dari bukti bahwa nenek moyang suku bangsa Nusantara adalah pelaut ulang. Bukan kaleng-kaleng seperti istilah yang sering diucapkan generasi Z dalam geguyon mereka dengan istilah kaleng-kaleng.

Budaya maritim suku bangsa Nusantara yang kemudian menyatukan diri dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia juga dapat ditelusuri sampai masa kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit bahkan sampai penghujung pra kemerdekaan yang ditandai Panglima Laut Malahayati dari Aceh. Begitu juga Kesultanan Banten yang berjaya dengan mengandalkan kekuatan maritimnya hingga mampu mengendalikan wilayah Barat Nusantara dalam arus perdagangan rempah-rempah yang menjadi idola pada masa itu, dan juga semakin dilupakan oleh generasi pemerintahan yang telah menjadi republik sampai hari ini.

Kilasan pemaparan model pemerintahan (kerajaan) maritim di Nusantara kiranya dapat menjadi gairah membangkitkan kembali kejayaan suku bangsa nusantara — dalam tatanan pemerintahan Indonesia yang patut mewarisi juga budaya maritim yang pernah berjaya dan menjadi andalam utama dalam membangun bangsa dan negara dengan luas laut dan rentangan pantai yang sangat potensial untuk meningkatkan tingkat keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan bagi segenap warga bangsa Indonesia hari ini dan dimasa yang akan datang. Karena itu, segenap unsur pendukung kekuatan untuk membangun supremasi maritim Indonesia, patut dan layak dikerahkan secara maksimal. Mulai dari Angkatan Laut Republik Indonesia sebagai penguasa laut serta pemagar kedaulatan negara Indonesia dari seluruh sisi keamanan dalam arti luas, perlu dan layak untuk ditingkatkan. Sehingga Pasukan Marinir Indonesia pun yang berada dibawah asuhan Angkatan Laut Republik Indonesia tidak kalah gagah dan dahsyat dibanding Pasukan Marinir dari bangsa dan negara lain di dunia.

Agaknya dari Kabinet Merah Putih dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto masalah kejayaan maritim dan keampuhan Pasukan Marinir Indonesia bisa diharap menjadi perhatian yang serius untuk diprioritaskan keunggulan kekuatan dengan fungsi serta peranannya yang maksimal untuk kedigdayaan bangsa dan negara Indonesia yang berasal dari nenek moyang bangsa dan negara yang kuat mempunyai budaya pelaut seperti yang masih ditandai oleh kehidupannya suku laut yang masih ada sampai sekarang.

 

Banten, 11 Desember 2024