May 10, 2026
narasoma28

Puisi Anto Narasoma

1/
begitu panas, suntuk,
dan sunyi. kau lihat, betapa compang-campingnya
tanah di perkarangan hatiku

enam bulan kau panggang di atas tungku
perapian. temperatur
yang melilit situasi,
membayang dalam keretakan hatiku

– ke mana kau simpan
setitik kasih sayang dalam kemelut tanah ini?

luas bayang-bayang harapan di balik ribuan
retaknya tanah ini. karena
mulut-mulut sumur yang haus, menjadi pilu. ia hanya terbaring dalam doa dan istiqaa

2/
kemana kau alihkan
butiran-butiran air
yang tak mengerti jalan pulang?

karena catatan yang kau tulis di sejumlah desa;
lunglai pedih
di sepanjang kering-kerontangnya cuaca sekitar

lalu,
ke mana kau sesatkan
jutaan kesejukan di alur sungai tak berair?

3/
enam bulan kau selimuti
kampung ini dengan
kepekatan asap dan kekeringan. di sepanjang
itulah kau tinggalkan
jejak-jejak tanah yang jauh dari basah

maka setelah doa dan istiqaa kuhidangkan
bersama ribuan orang
yang menadahkan tangan : akulah ikan kehabisan air

Palembang
23 Agustus 2023